-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Karena Sebilah Bambu Dan Tamparanmu, Aku Sukses: Terimakasih Guruku!

Jumat, 11 Juni 2021 | 00:01 WIB Last Updated 2021-06-10T17:01:15Z

Tulisan ini kudedikasikan untuk semua guru teristimewa untuk para guruku yang karena didikan mereka aku sukses.

Kepergian ibu Delvina Azi: Kepala Sekolah Kepala SDI Ndoa, Desa Ulupudu 1, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo yang ditikam orangtua murid berinsial DD pada hari Selasa, 08 Juni 2021, menggerakan saya untuk menuliskan pengalaman saya ketika masih sekolah baik sewaktu di SDK Pepageka, SMPK Awas Hinga maupun SMA Negri Lewoleba.

Selama enam tahun menjalani pendidikan di SDK Pepageka, guru yang paling kami takuti adalah Pak Blas. Jika terlambat datang ke sekolah, maupun ribut di gelas maka telapak tangannya yang tebal dan kekar akan mendarat di pipi. Jika tidak mengenakan sepatu, maka bersiaplah jari-jari kaki terasa nyilu diinjak oleh Beliau melalui sepatunya.

Bahkan jika tidak masuk sekolah tanpa alasan, maka pak Blas akan mencari sampai di rumah. Dan dihadapan orang tua, tanpa segan ia menampar. Namun orang tua justru mengucapkan terimakasih dan menjadikan sosok pak Blas sebagai sosok yang ditakuti jika berani tidak masuk sekolah. Orang tua biasa mengatakan; “jika kau tidak sekolah, kami panggil pak Blas.”

Guru yang tak kalah galaknya adalah bapak kecil saya; bapak Lukas Kia Goran. Guru Matematika ini, jika tidak mengerjakan tugas Matematika atau tidak mampu menjawab soal Matematika, maka pipi ini ditarik dan diplintir sampai memerah. 

Mau melapor orang tua? Kami tidak berani dan juga tidak ada hasilnya. Karena kami sudah tahu jawaban orang tua kami; “syukur, biar kau rajin belajar.” Itu sudah tugas guru.

Ketika mengikuti pendidikan di SMPK Awas Hinga setelah tamat SD, yang paling kami takuti adalah Kepala Sekolah zaman itu: Pak Didimus Kopong. Biasanya kami memanggilnya Pak Mus. Jika ribut pada saat apel maupun ribut di dalam kelas maka tangan beliau selalu ditemani sebilah bambu mencari suara ribut yang siap dilayangkan di punggung, pantat maupun betis.

Kalau pak Magi tamparannya yang paling ditakuti ketika tidak mengerjakan tugas bahasa Inggris. Saya salah satu korbannya; sampai pucat ketika masih kelas satu ditampar pak Magi karena tidak mengerjakan tugas bahasa Inggris. Kalau pak Lukas, siap air mata tumpah ruah karena lubang kedua hidung akan dicubit saat tidak mengerjakan tugas Matematika atau tidak bisa menjawab latihan Matematika.

Tapi apakah kami melapor orang tua? Tidak! Karena kami sudah tahu jawaban orang tua kami; “syukur, biar kamu tidak nakal. Itu sudah tugas mereka biar kamu berubah.”

Ketika mengenyam pendidikan di SMA Negri Lewoleba; pak Fatah, pak Bernad, Pak Masan menjadi Trio Guru Adonara yang paling ditakuti. Jika terlambat masuk sebaiknya pulang. Itu jalan terbaik. Karena mereka sudah menanti di depan gerbang sambil membawa cabang gamal yang siap dilayangkan di betis.

Bahkan ketika saya masih kelas satu, saat apel sore om saya: Pak Arifin Madinah memukul saya menggunakan sapu lidi di depan teman-teman saya (kalau ini teman saya Rofina Barek semoga masih ingat kenapa saya dipukul) sampai sapu lidi patah. Ia berkata; “engkau keponakan saya, jangan harap saya manjakan kamu.”

Apakah kemudian saya melaporkan dia ke mama saya? Tidak! Karena saya sudah tahu jawaban dari mama; “syukur, ommu sendiri yang pukul kamu, bukan guru lain. Semoga kau berubah.”

Meskipun mereka adalah guru-guru yang paling ditakuti, tetapi kami justru lebih akrab dengan mereka bahkan sering bersenda gurau dengan mereka. Dan ketika tamat, nama mereka yang menjadi bahan cerita di antara kami mengenang masa lalu seraya tertawa dan bersyukur bahwa dari tangan besi mereka, kami bisa sukses.

Orang tua saya hanyalah petani namun pikiran mereka sederhana; ketika engkau di sekolah, apapun yang terjadi di sekolah (masih dalam kewajaran) itu adalah tanggungjawab para guru. Jika kamu melaporkan ke kami itu salah.

Dan setelah menjadi seperti hari ini, juga teman-teman saya baik sewaktu di SD, SMP dan SMA dalam setiap cerita kami; Aku, mereka akhirnya sampai pada satu kata pujian dan terimakasih kepada para guru kami terutama yang kami anggap “tegas dan keras” bahwa karena sebilah bambu yang membuat betis ini memerah dan tamparan yang membuat wajah ini pucat pasi; “aku, kami sukses dan menjadi orang yang kuat.” Terimakasih guruku!

Manila: 10 Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update