-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

“Menangis” Dengan Yang Menangis Itulah Sukacita Imamat

Jumat, 18 Juni 2021 | 12:33 WIB Last Updated 2021-06-18T05:51:07Z

Tidak bisa dipungkiri bahwa sekalipun seorang imam tetap membutuhkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Namun uang bukan menjadi tujuan dari pelayanan itu. Salah satu tujuan dari pelayanan adalah membagikan sukacita, mewartakan Kabar Gembira yang meneguhkan dan menguatkan harapan.

Meskipun pada saat itu seperti dalam masa krisis seperti ini, seorang imam sekalipun sangat membutuhkan yang namanya uang namun masih bisa mengesampingkan kebutuhan pribadinya untuk sukacita umat yang dilayani dan paling membutuhkan itu adalah Rahmat Sukacita yang tidak ada nilainya yang dialami dalam pelayanan seorang imam.

Setelah misa di kapel St. Martin de Pores kemarin sore, saya diminta untuk memberkati jenasah seorang anak kecil yang disemayamkan di lapangan basket dekat kapel. Setibanya ditempat, saya menanyakan kepada sang ibu; “berapa jumlah anakmu?” Lima Padre, jawabnya.

Doa pemberkatanpun dilaksanakan. Setelah upacara pemberkatan jenasah saya langsung kembali ke kapel bersama ibu ketua stasi dan ketua seksi liturgi stasi. Sedang beristirahat sejenak, tiba-tiba seorang ibu datang dan menemui saya seraya menyerahkan sebuah amplop.

Saya bertanya kepada ibu itu, maaf bu ini apa ya? Oh itu stipendium dari ibu yang anaknya meninggal dan baru saha diberkati oleh Padre. Saya kemudian mengatakan pada ibu itu, baik bu saya terima ya, tapi sekarang saya titipkan amplop ini pada ibu yang sedang berduka sebagai sumbangan saya untuk membeli lilin.

Ibu itu kaget, dan mengatakan waduh Padre, ini khan milik Padre. Saya mengatakan ya itu memang milik saya, tetapi ibu itu lebih membutuhkan, maka saya sumbangkan buat ibu itu. Memang tidak banyak tapi paling tidak meringankan duka ibu sekeluarga dan sebagai tanda bahwa saya ikut berduka bersama mereka.

Pengalaman sederhana ini mengajarkan saya bahwa; harta bukan menjadi tujuan dari hidup maupun pelayanan saya. Melainkan sukacita yang ingin kurasakan dan kubagikan dalam pelayanan saya, meskipun harus menangis dengan mereka yang berdukacita itu adalah Sukacita terbesar yang meneguhkan dan menguatkan serta ziarah imamat saya (bdk. Mat 6:19-23).

Dan dari pengalaman ini saya diajari bahwa menjadi seorang imam adalah orang yang paling beruntung karena mengesampingkan rasa aman dan menjadi bersemangat dengan perutusan mengkomunikasikan hidup pada sesama. Bahwa hidup dan sukacita hanya dapat bertumbuh dan berkembang ketika dibagikan dalam pelayanan (bdk. Evangelii Gaudium.10).

Atau dalam bahasa Santo Paulus; “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rom 12:15). Sukacita imamat adalah anugerah terindah di saat menangis dengan yang menangis.

Manila: 18-Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update