-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menerima Tugas atau Jabatan di Luar Tarekat

Rabu, 09 Juni 2021 | 10:54 WIB Last Updated 2021-06-09T03:54:04Z

Suatu hari ketika sedang duduk santai, handphone saya bergetar. Rupanya ada pesan WhatsApp yang masuk. Saya membaca pesan itu. Pesan itu berasal dari seorang rekan Imam. Via pesan itu, ia bertanya: dapatkah seorang religius menerima tugas atau jabatan di luar tarekat tanpa izin Pemimpin? Mari kita jawab bersama. Tapi sebelumnya seruput kopi dulu.

Tanpa basa- basi, untuk menjawab pertanyaan ini, saya harus katakan bahwa sebelum seorang religius yang menerima tugas atau jabatan di luar tarekat, ia harus terlebih dahulu meminta izin kepada Pemimpin yang berwenang. Ia tidak bisa menerima tugas atau jabatan itu tanpa adanya izin dari pemimpinnya.  Kan 671 menyebutkan dengan jelas: “Religius jangan menerima tugas dan jabatan di luar tarekatnya sendiri tanpa izin dari Pemimpin yang legitim”.  Ungkapan "tugas dan jabatan" sendiri sebenarnya memiliki cakupan yang cukup luas yakni mencakup berbagai jenis jabatan gerejawi (kan.145§1), kerasulan, pekerjaan profesional, atau pelayanan lainnya. Sebuah keuskupan, misalnya, dapat mempercayakan jabatan gerejawi dalam keuskupan kepada anggota tarekat religius (kan.682§ 1), atau kerasulan tertentu dalam keuskupan dapat dilakukan oleh seseorang atas nama tarekat (kan.665 §1), tetapi dalam kedua kasus ini, izin dari pemimpin yang legitim harus diperoleh terlebih dahulu. Dengan lain kata, religius yang bersangkutan tidak bisa memutuskan sendiri.

Kita tentu bertanya apa alasan yang ada dibalik norma-norma ini. Alasan yang ada di balik norma-norma ini sebenarnya sangat terkait dengan kaul ketaatan, yang mensyaratkan ketergantungan seorang anggota kepada pemimpinnya yang legitim, yang salah satu tugasnya akan menjaga esensi kehidupan religus, terutama kehidupan bersama. Selain itu, para pemimpin juga harus mempertimbangkan jenis tugas atau jabatan yang ditawarkan terhadap lembaga atau tarekatnya. Jika penerimaan tugas dan jabatan terbuka untuk kerjasama yang lebih baik antara Gereja partikular dan tarekat tentu menjadi hal baik yang perlu diapresiasi dengan tetap melihat kesesuaian dan kesetiaan pada tujuan, sifat dan misi tarekat. Sebab ada bahaya yang bisa muncul bila penerimaan tugas atau jabatan di luar tarekat dapat mengakibatkan hilangnya identitas religius itu sendiri dan kesetiaan terhadap spiritualitas dan misi tarekat. Semoga Membantu. 

Terima Kasih

Oleh: Pater Doddy Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update