-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pater Dody Sasi CMF: Sakramen Tobat dan Pemeriksaan Batin

Selasa, 08 Juni 2021 | 10:53 WIB Last Updated 2021-06-08T03:56:41Z

Suatu hari ada seorang teman Suster bertanya: Romo seberapa sering kita para religius/kaum hidup bakti harus memanfaatkan sakramen rekonsiliasi? Lalu bagaimana dengan pemeriksaan batin? Mari kita jawab bersama, tapi seruput kopinya dulu.

Sebelum menjawab pertanyaan pertama, rupanya perlu saya luruskan beberapa terminologi yang muncul pada pertanyaan di atas. Kitab Hukum Kanonik kita menggunakan istilah "sakramen tobat" (kan.644, 959) dan bukan "pengakuan" atau "rekonsiliasi". Sebab istilah pertobatan sendiri  memiliki makna lebih luas dan menyeluruh. Dalam istilah pertobatan ini, selain merangkum di dalamnya soal pengakuan dan kepuasan spiritual yang didapat, ada juga soal intervensi otoritatif dan efektif dari Gereja melalui absolusi pada seorang yang bertobat. Sedangkan istilah rekonsiliasi sendiri, hanya fokus pada efek dari sakramen tobat, yaitu, didamaikan dengan Allah, dengan Gereja dan dengan diri sendiri (kan.959 dan 960).

Untuk pertanyaan yang pertama, saya bisa katakan bahwa para religius harus sesering mungkin memanfaatkan sakramen tobat (kan.664). Namun, hukum partikulat dari tiap lembaga hidup bakti (Ordo, Kongregasi, Tarekat) bisa menentukan lain, misalnya sebulan sekali. Dalam kodeks yang lama (KHK 1917), kaum religius perlu memanfaatkan sakramen tobat ini, setidaknya sekali seminggu (Kan. 595§1,3°, KHK 1917).  Lalu melalui sebuah dekrit yang dikeluarkan oleh Kongregasi Untuk Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan pada tahun 1970 sedikit mengubah apa yang ada pada kodeks lama 1917, dengan mendesak para religius untuk sering menerima sakramen tobat, yaitu dua kali sebulan dan bahkan lebih sering jika mereka ingin dan mau melakukannya.
Selain kewajiban untuk memanfaatkan sakramen tobat, para religius juga berhak penuh untuk mengakui dosa-dosanya pada bapa pengakuan yang dipilihnya, meskipun dari ritus lain (kan. 991).

Lalu untuk pertanyaan yang kedua, yang berkaitan dengan pemeriksaan bathin. Pemeriksaan bathin perlu dilihat sebagai suatu tindakan yang memudahkan proses pertobatan kepada Tuhan. Karena itu, sangat dianjurkan agar kaum religius dapat melakukannya setiap hari (kan.664). 

Terima Kasih. Semoga Bermanfaat

Oleh: Pater Doddy Sasi, CMF
×
Berita Terbaru Update