-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pater Tuan Kopong MSF: Kasulamu, Martabat Imamatmu

Rabu, 30 Juni 2021 | 11:11 WIB Last Updated 2021-06-30T04:11:17Z
“Itu Kasula Romo, Pakaian Keagungan Kalian Para Imam/Pastor.” Demikian sebuah ungkapan dalam bentuk tulisan pada tiktok yang menari menggunakan alba, stola dan kasula.

Harus diakui bahwa, sejatinya umat sangat peduli dengan imam, juga menghormati liturgi termasuk busana yang dikenakan imam. Mereka sangat paham bahwa busana liturgi seperti alba, stola dan kasula sebelum dikenakan sudah diberkati terlebih dahulu. 

Artinya melalui pemberkatan itu maka alba, stola dan kasula dikhususkan untuk tujuan dan maksud yang khusus pula yaitu dikenakan hanya untuk perayaan Ekaristi juga untuk pelayanan sakramen lainnya (alba dan stola) dan bukan untuk yang lainnya apalagi untuk menari.

Semua imam sangat paham akan makna dan tempat serta waktu pemakaian busana liturgi. Berbagai dokumen berkaitan dengan liturgi dan perayaan Ekaristi dipelajari sejak tingkat satu sampai persiapan tahbisan. Namun sayangnya setelah menjadi imam, semua yang dipelajari itu bukan menjadi sebuah katekese bagi umat tetapi kadang dijumpai justru menjadi sebuah lelucon bahkan maaf pelecehan dihadapan umat.

Busana liturgi bukan sekedar pakaian liturgi yang wajib dikenakan oleh seorang imam. Busana liturgi memiliki makna pelayanan, pengorbanan dan ketaatan. Bahkan di dalam alba, stola dan kasula tiga tugas kenabian seorang imam: mengajar, menguduskan dan memimpin menjadi nampak. Dan disinilah letak martabat imamat. Ketika seorang imam mengenakan alba, stola dan kasula maka pada saat itu martabat imamat ditampakan melalui pengajaran, perayaan yang dirayakan dan pengembalaan kepada umat dilaksanakan. (Bdk. PUMR. 336-337).

Ketika busana liturgi digunakan untuk kepentingan lain diluar perayaan liturgi, menurut hemat saya sedang terjadi pengaburan martbat imamat dan tugas pelayanan seorang imam. Dan ketika busana liturgi itu digunakan sesuai fungsi dan tujuannya maka keagungan martabat imamat akan sangat dirasakan oleh umat dalam tugas pelayanan seorang imam.

Sebagaimana yang saya bahas sebelumnya tentang jubah, busana liturgi seperti alba, stola dan kasula menjadi saluran rahmat dan berkat Allah, menandakan kehadiran Kerajaan Allah yang menggugah umat untuk ikut merasakan kehadiran Kerajaan Allah melalui pelayanan seorang imam.

Ketika seorang imam mencium stola sebelum dan sesudah mengenakannya sejatinya mengungkapkan sebuah ketaatan dan cinta akan pelayanan. Maka ketika busana liturgi digunakan hanya untuk sebuah penampilan menari di tik tok, kita bisa memahami bahwa saat itu ketaatan dan cinta pada pelayanan juga sedang berada pada area sesuka hati atau semau gue.

Manila: 29-Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update