-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sandal Jepit Itu Membuatku Kuat Menikmati Imamatku

Senin, 14 Juni 2021 | 11:54 WIB Last Updated 2021-06-14T05:02:51Z

Mungkin sebagian ketika melihat saya menggunakan sandal jepit merasa heran dan lucu. Saya bisa memahami dan juga menjadi penghibur bagi saya. Tapi cerita dibalik sandal jepit itu bermula ketika saya melaksanakan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Madagascar pada tahun 2001-2003.

Sejak SD hingga kuliah sebelum berangkat TOP saya ketika mengenakan pakaian pasti selalu memasukan baju ke dalam. Sejak kuliahpun demikian, jika tidak mengenakan sepatu minimal sepatu sandal. Namun semuanya itu berubah ketika dua tahun menjadi frater TOP di Madagascar yang hidup dan berada bersama umat yang sangat, sangat sederhana. 

Saya kemudian merenungkan demikian. Jika saya selalu berpenampilan rapi artinya mengenakan baju kameja, celana panjang, baju kaos berkerak yang bagus dan sepatu dan berada di antara mereka atau ketika ke stasi yang menempuh perjalanan dengan jalan kaki hingga 8 jam, saya tidak akan bisa dekat dengan umat atau umatpun segan mendekati dan bergaul dengan saya.

Dan itu nyata, ketika pada awal kedatangan beberapa umat meminta uang atau baju kaos kepada saya karena beranggapan bahwa orang luar negeri pasti kaya dan juga mereka melihat penampilan. Masih frater sudah dimintai uang hanya karena alasan berasal dari negara lain dan karena penampilan selalu rapi.

Saya tidak mempersalahkan atau mentertawakan mereka. Tetapi saya memahami bahwa kondisilah yang memaksa mereka. Akhirnya celana panjang, sepatu reebok dan baju kaos kuberikan kepada mereka. Saya menyisahkan satu celana panjang dan baju kameja untuk pertemuan dan misa di paroki. Selebihnya sandal jepit, celana pendek dan kaos oblong yang kusut selalu kukenakan, hingga ketika saya pulang ke Indonesia dan liburan di rumah yang membuat mama akhirnya bingung dengan penampilan saya dan merasa bingung dengan sosok yang memanggilnya hingga akhirnya mengenal saya setelah diberitahu kakak saya “itu frater, anakmu ma.” 

Dari pengalaman itulah akhirnya membuat saya justru betah ketika menggunakan sandal jepit, baju kaos oblong maupun celana pendek kemanapun saya pergi. Celana panjang, kameja dan sepatu hanya untuk misa atau pertemuan penting. Walaupun beberapa pertemuan MSF dan keuskupan lebih banyak celana pendek, kaos oblong dan sandal jepit.

Saya harus akui bahwa menjadi sebuah beban berat dan rasanya tidak nyaman ketika harus mengenakan celana panjang, kameja dan sepatu. Maka biasanya kalau mengikuti pertemuan, satu tas untuk persedian celana pendek dan kaos oblong. Sandal jepit setia menunggu di mobil. Ketika pertemuan selesai, langsung ke rest room untuk ganti.

Begitu setianya swallow menjepit kedua telapak kaki saya, seringkali tanpa disengaja, dalam misa harian atau saat pembaptisan, ketika sudah berada di dalam gereja saya baru sadar bahwa yang kukenakan saat itu adalah sandal jepit.

Diatas semuanya itu sandal jepit membuat saya kuat. Ketika di Samarinda, terlebih ketika di Timor dan sekarang di Manila, ketika berhadapan dengan persoalan ya maaf masalah keuangan paroki saya tidak takut atau stres. Saya selalu memiliki keyakinan bahwa selalu ada jalan dan dibalik itu ada kreativitas. Seperti sandal jepit menjadi solusi ketika ada masalah dengan sepatu atau di saat berhadapan dengan banjir.

Maka ketika berhadapan dengan setiap masalah dalam pelayanan saya sebagai seorang imam dan misionaris, saya tidak pernah putus asa melainkan tetap kuat dan menikmati pelayanan imamat saya karena dibalik sandal jepit itu ada sebuah pesan yang meneguhkan dan menguatkan saya; 

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita dan menangislah dengan orang yang menangis” (Rom 12:15).

Manila: 12-Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update