-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Senang Ketika Ada Anggota Gereja Yang Baru, Tapi Ketika Ada OMK Yang Pindah?

Selasa, 22 Juni 2021 | 15:01 WIB Last Updated 2021-06-22T08:02:52Z

Siap sih yang tidak senang dan bahagia ketika mendapatkan anggota Gereja baru. Malam Paskah menjadi saat yang dinantikan untuk menyaksikan pembaptisan bagi mereka yang akan menjadi Katolik atau anggota Gereja yang baru.

Namun ketika ada yang pindah ke agama lain terutama orang-orang muda ragam sikap bermunculan. Ada yang menghakimi orang tua atau mengeluarkan sumpah serapah pada pribadi tersebut. Ada yang masa bodoh dan menganggap itu adalah hak asasi. Ada yang “menggugat” pastor paroki dan lainnya. Ragam sikap bermunculan dan yang paling dominan adalah sikap saling mempersalahkan.

Dibalik ragam sikap itu, ada satu hal yang kita lupakan; “menciptakan lingkungan gereja atau paroki sebagai lingkungan yang ramah, yang mengkrasankan bagi orang muda sebagai rumah kedua mereka.”

Situasi yang ramah atau mengkrasankan bukan soal Ekaristi Kaum Muda, bukan semata outbound atau sekedar kumpul-kumpul, melainkan relasi yang harmonis dengan para imam yang ada di paroki tersebut, dengan DPP dan semua yang melayani di gereja atau paroki.

Sebuah relasi yang kemudian meyakinkan mereka bahwa orang-orang yang mereka jumpai: para pastor, DPP, dan pelayan lainnya adalah orang tua, saudara dan keluarga mereka.

Kalau kita mau jujur, masih banyak paroki yang “alergi” dengan kehadiran orang muda. Masih banyak yang menganggap kegiatan orang muda hanya menghabiskan uang paroki. Masih banyak juga yang menganggap kehadiran paroki hanya membuat keributan yang mengganggu istirahat pastor saja. Bahkan masih banyak pula yang menganggap tugas orang muda cukup di bagian parkir, keamanan dan perlengkapan ketika ada kegiatan atau perayaan besar di paroki.

Bahkan harus diakui pula bahwa banyak orang muda yang terlibat di organisasi-organisasi yang tidak termasuk dalam kelompok kategorial paroki tersebut seperti organisasi bela diri selain THS-THM seringkali kurang mendapatkan sentuhan dan sapaan dari kita. 

Saat gereja atau paroki membutuhkan tenaga mereka, baru kita mulai mendekati mereka. Namun seringkali kita juga lupa bahwa orang-orang muda kita membutuhkan asupan rohani seperti katekese, pendalaman iman dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya yang memperdalam dan memperkuat iman mereka.

Saya meyakini bahwa tanpa EKM dan outbound sekalipun orang-orang muda kita tetap setia pada Gereja Katolik ketika lingkungan gereja atau paroki kita adalah lingkungan yang ramah yang membuat OMK selalu rindu untuk kembali berkumpul di lingkungan gereja atau paroki setelah disibukan dengan kuliah, studi dan pekerjaan. 

Sekalipun tanpa program kaderisasi khusus, namun mereka diberikan kesempatan untuk memegang peranan penting sambil terus mendampingi, mengajari dan membimbing mereka, OMK kita akan menjadi seorang pemimpin yang mumpuni mulai dari lingkungan gereja atau paroki.

Meskipun berbagai program kaderisasi dan leadership diberikan namun pada akhirnya peranan OMK selalu mentok di parkir, keamanan dan perlengkapan serta lingkungan gereja atau paroki yang tidak bersahabat maka mereka akan mencari situasi dan tempat yang lain dimana mereka bisa mengembangkan talenta dan kemampuan mereka.

Paroki sebagai komunitas yang mewartakan Injil siap “menemani” OMK dalam seluruh prosesnya, betapa pun sulit dan lamanya. Komunitas ini terbiasa dengan penantian yang memerlukan  kesabaran dan daya tahan kerasulan. Evangelisasi bagi OMK membutuhkan banyak kesabaran  dan mengabaikan kendala waktu.

OMK seharusnya dilihat sebagai anugerah Allah bagi Gereja. Maka kesetiaan kepada anugerah Allah ini juga menghasilkan buah. Sebuah paroki yang  mewartakan Injil selalu peduli dengan buah, karena Tuhan menginginkannya berbuah.  Paroki seharusnyanmemelihara gandum dan tidak menjadi tak sabar dengan ilalang. Penabur ketika melihat ilalang tumbuh di antara gandum, tidak menggerutu atau bereaksi berlebihan (bdk. Evangelii Gaudium. 24).

Dengan kata lain dalam segala aktivitasnya paroki mendorong dan melatih para  anggotanya untuk menjadi pewarta Injil. Paroki  menjadi komunitas dari pelbagai  komunitas, tempat kudus di mana mereka yang haus datang untuk minum di  tengah-tengah perjalanan mereka, dan sebuah pusat perutusan yang senantiasa  memiliki jangkauan luas (Evangelii Gaudium. 28).

Semoga kita tidak hanya bahagia ketika mendapatkan anggota Gereja yang baru, tetapi juga harus berani menggugat diri sendiri baik imam, DPP dan umat ketika ada OMK kita yang meninggalkan Gereja dan berlabuh ke pelabuhan lain. Kepindahan mereka pada agama lain seharusnya menyadarkan kita semua bahwa kita semua memang belum mampu menjadi orang tua, saudara dan keluarga OMK kita di lingkungan paroki.

Manila: 22-Juni 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update