-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tubuh Suamimu, Tubuh Istrimu: Tubuh Kenabian Dan Bukan Mesin

Jumat, 11 Juni 2021 | 00:06 WIB Last Updated 2021-06-10T17:06:54Z

“Sebagai manusia kita adalah gambar Allah namun kita tidak hanya menggambarkan Allah melalui karunia kehendak bebas kita melainkan melalui persekutuan dengan yang lain, yang dalam hal ini adalah persekutuan seorang pria dengan seorang wanita, karena Allah sendiri adalah persekutuan pribadi-pribadi di dalam Tritunggal Maha Kudus.

Santo Yohanes Paulus II dalam pengajarannya tentang Teologi Tubuh menjelaskan bahwa seorang pria adalah gambar dan citra Allah tidak hanya melalui kemanusiaannya sendiri, tetapi juga melalui persekutuan pribadi dengan seorang wantia yang telah dibentuk sejak awal oleh seorang pria dan seorang wanita (Adam dan Hawa).”

Kita sebagai gambar Allah tidak hanya karena kecerdasan dan kehendak bebas kita, kemampuan kita untuk mengetahui dan memilih, tetapi juga karena kemampuan kita untuk memiliki diri kita sendiri dan kemudian memberikan diri kita kepada orang lain, membentuk persekutuan orang-orang dikasihi, karena Allah yang adalah kasih juga merupakan persekutuan pribadi-pribadi dalam Trinitas.

Persatuan seorang pria dan wanita merupakan persatuan tubuh yang memberikan makna yang signifikan tentang perkawinan. Tubuh manusia bukan hanya organisme reaksi seksual. Tetapi juga merupakan cara untuk mengungkapkan manusia seutuhnya, pribadi, yang mengungkapkan dirinya melalui bahasa tubuh yang mengungkapkan partisipasi dalam rencana cinta yang kekal ('sakramen yang tersembunyi di dalam Allah), maka bahasa tubuh menjadi semacam kenabian tubuh.”

Bahasa tubuh sebagai kenabian tubuh karena menegaskan dan membahasakan janji perkawinan antara seorang pria dan wanita dalam sikap saling memberikan diri sampai mati. Tubuh yang terlihat mengungkapkan yang tidak terlihat, sumpah itu hanya dapat dipenuhi sepenuhnya melalui persatuan perkawinan. Melalui persatuan perkawinan mereka mengatakan satu sama lain dengan tubuh mereka apa yang mereka janjikan di altar. Dengan kata lain bahasa tubuh suami istri harus selalu berbicara tentang kebenaran dan sifat hakiki perkawinan. 

Itulah sebabnya mengapa hubungan seksual di luar perkawinan yang sah juga dilarang. Karena dalam ikatan pranikah seseorang tidak membicarakan "pemberian diri yang total dan setia sampai mati" karena tubuhnya belum menjadi sebuah pemberian total. Tubuh berbicara melalui kesetiaan dan cinta suami-istri tanpa mengenal batas usiah ataupun kekuatan fisik.

Melalui bahasa tubuh suami dan istri yang bersatu dalam ikatan perkawinan, keduanya sedang mewartakan dan membahasakan kehendak Allah sekaligus kesetiaan perjanjian Allah dengan umat-Nya. Hargailah tubuh suamimu, hormati dan jagalah tubuh istrimu karena dari bahasa tubuh suami istri, manusia sebagai gambar dan citra Allah semakin mendapatkan maknanya.

Bdk. Saint John Paul II, Theology of the Body

Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update