-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tugas Kita Meyakinkan Umat Akan Kebenaran Ajaran Gereja

Selasa, 01 Juni 2021 | 11:14 WIB Last Updated 2021-06-01T04:14:31Z

Ketika sebuah aturan Gereja sudah menjadi dogma maka untuk saya, kita terima dengan penuh iman dan ketaatan. Bahwa kemudian ada diskusi, diskusi itu sejatinya menjadi jalan untuk memperkuat ajaran Gereja tersebut dan bukan mengaburkan bahkan menggugatnya, demikian jawaban saya atas “diskusi” singkat hari ini bersama seorang teman,

Diskusi kami masih seputar soal topik yang beberapa hari ini hangat di jagad media sosial. Saya menjadi sedikit kaget ketika tanggapannya bahwa ajaran Gereja itu diterima atau tidak; umat memiliki kebebasan, hak dan pilihan untuk menerima atau tidak. Suka-suka umat lah. Tidak usah dipaksakan.

Saya kemudian menjawab; “Justru menjadi tugas kita untuk mengajarkan, mempertahankan kebenaran ajaran dan meyakinkan umat bahwa ajaran Gereja itu benar adanya. Maka kita yang ditahbiskan pertama-tama harus menunjukan kebenaran ajaran Gereja dalam sikap hidup kita, bersukacita menjalani ajaran itu dengan penuh iman.”

Kalau ajaran Gereja dianggap sebagai beban bahkan bersifat otoriter seperti yang dikatakan, maka dalam prakteknyapun sesuka hati. Dan sebagai seorang imam, kalau sudah mempraktekan ajaran Gereja sesuka hati maka bagaimana umat bisa diyakinkan? Saya ditahbiskan sebagai seorang imam untuk menerima, menjaga dan mengajarkan kebenaran ajaran Gereja yang merupakan turunan dari Kehendak Allah sendiri sebagaimana yang tertulis di dalam Kitab Suci, ungkapku.

Saya melanjutkan, bahwa hidup dalam organisasi manapun atau dalam kehidupan bernegara ada aturan yang harus diterima dan dijalankan. Sanksinya jelas kok bagi yang tidak mau menerima dan menjalani aturan tersebut. Demikian juga dengan Gereja. Bahwa aturan yang dibuat disatu sisi untuk menjaga kehidupan beriman para anggotanya tetapi juga untuk menjaga martabat ajaran Yesus, Sang Guru.

Maka, jika sebagai seorang imam namun kemudian masih memberi pilihan pada umat untuk taat pada aturan Gereja atau tidak, terserah umat maka sejatinya kita sedang memperlakukan setiap ajaran Gereja sebagai beban dan penghalang bagi kehidupan kita sebagai seorang imam. Dengan demikian imamat yang dikelilingi dengan berbagai aturan juga dianggap sebagai beban yang tidak membuat kita bahagia menghidupi imamat kita.

“Sukacita kita sebagai seorang imam salah satunya adalah dengan menjadikan aturan Gereja sebagai pelaksanaan kehendak Allah dan bukan kehendak pribadi. Sukacita seorang imam bukan karena kecerdasan memainkan logika semata atas sebuah aturan Gereja, tetapi juga taat dan cerdas dalam mempraktekan ajaran Gereja; “tegas pada prinsip, lembut dalam cara .”

Manila: 31-Mei 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update