-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Berkat Terindah Filipina Setelah Setahun Rela “Dipenjara” Dalam Rumah

Minggu, 18 Juli 2021 | 12:24 WIB Last Updated 2021-07-18T05:24:46Z
Berkat Terindah Filipina Setelah Setahun Rela “Dipenjara” Dalam Rumah
(Indonesia Banyak Tukang Protes, Tukang Keluh Dan Provokator Na!!)

Sejak awal 2020 hingga April 2021 kami rela tidak menerima uang saku. Hangus! Beberapa umat saya dirumahkan bahkan di-PHK karena tempat mereka bekerja terdampak pandemi covid 19 akibat lockdown bertubi-tubi. 

Selama setahun lebih sopir-sopir jeepny dan trycycle harus rela menjadi “pengemis” sementara waktu lantaran tidak diijinkan jalan. Termasuk ojek online. Ojek atau grab online mengubah haluan menjadi deliver makanan.

Selama setahun taxi dan grab online harus memarkirkan kendaraan mereka. Tak ada keluh dan protes serta perlawanan. Mereka untuk sementara menjadi penjual masker dan face shield.

Gereja-gereja ditutup. Semua misa online. Pelayanan pernikahan, komuni pertama dan baptisan untuk sementara ditiadakan. Pelayanan minyak suci kadang hanya melalui video call dan kalaupun terpaksa hanya imam, pasien dan satu keluarga di dalam rumah yang sebelumnya dilakukan penandatanganan pernyataan di kantor paroki bahwa hanya ada satu keluarga di dalam rumah yang menemani pasien. Pengolesan minyakpun dilakukan dengan perantaraan cotton balls.

Pemberkatan rumah ditiadakan, termasuk pemberkatan jenasahpun melalui video call. Parokipun ikut ambruk karena terdampak pandemi covid 19. Beberapa karyawan harus dirumahkan untuk sementara waktu, dan ada yang hanya kerja setengah hari. 

Namun tak ada yang melawan, protes ataupun menolak untuk divaksin. Tak ada pernyataan-pernyataan hoax yang memprovokasi dan menakuti umat dan masyarakat. Semuanya taat. Dalam situasi sulit semua terutama Gereja menjadi teladan kedisiplinan. Doa setiap hari pada jam enam maupun jam delapan malam didaraskan dari gereja untuk meneguhkan iman umat.

Semua menerima. Tak ada yang menghakimi dan mempersalahkan. Kerja keras para nakes dan sukarelawan, dihargai cukup dengan ketaatan dan kedisiplinan. Kami sadar, ketika kami mengeluh lapar dan mulai tidak taat maka itu berarti memperpanjang pengorbanan bahkan menambah jumlah kematian para nakes.

Dalam kesulitan selama setahun, lahirlah kreativitas, demikian buah yang kami petik dari peristiwa lockdown akibat covid 19. Kesulitan yang dihadapi oleh paroki meski harus berujung memiliki utang tidak menjadi halangan untuk “memberi makan” kepada umat dan masyarakat yang terdampak. Hampir setiap hari sembako dan voucher grosir diantarkan ke rumah mereka.

Hampir setiap hari paroki-paroki membuka “pasar” gratis menyediakan beras, sayur, telur, mie, minyak goreng, kopi dan gula untuk umat masyarakat yang datang mengambil sendiri paketan kebutuhan rumah tangga yang sudah tersedia di halaman gereja.

Dalam kesulitan bukan keluh, protes, provokasi dan saling mempersalahkan yang ditunjukan melainkan semangat gotong royong dan solidaritas dibangun dan dikerjakan bersama.

“Buluh yang patah terkulai dan sumbu yang padam nyalanya (bdk. Mat 12:20) tetap bertahan karena semangat gotong royong dan solidaritas dalam ketaatan dan kedisiplinan menjadi prinsip utama dan bukan keluhan, protes dan provokasi.” 

Dan hasil dari pengorbanan, ketaatan dan kedisiplinan itu, hari-hari ini para sopir jeppny, trycycle, taxi, ojek online, grab kembali bekerja seperti biasa. Mall-mall mulai beraktivitas seperti biasa, tempat-tempat olahraga seperti basket mulai dibuka, masyarakat sudah kembali beraktivitas seperti biasa, gereja-gereja mulai melaksanakan misa tatap muka, pelayanan sakramen termasuk misa pemberkatan jenasah sudah mulai dilaksanakan, rumah-rumah makan mulai ramai dikunjungi dengan tetap mengikuti protocol secara ketat, taat dan disiplin.

Karyawan-karyawan mulai kembali bekerja. Anak-anak sudah mulai berani keluar rumah. Masyarakat dan umat saling mengajak untuk mengikuti vaksinasi. Paroki membuka ruang untuk menjadi tempat vaksinasi. Setiap hari umat dan masyarakat berdatangan mendaftar untuk vaksinasi.

Singkatnya; buah dari kerelaan kami “dipenjara” di rumah selama setahun adalah kini, hari ini kami boleh menikmati persahabatan dengan covid walaupun masih saja ada kasus.

Tahun lalu Indonesia tidak melaksanakan lockdown demi ekonomi masyarakat. Dan kalau saja semua dengan kesadaran sendiri untuk taat dan disiplin serta mau divaksin tanpa keluh, protes dan provokasi maka Indonesia tidak akan mengalami situasi gawat darurat seperti hari-hari ini.

Berkat terindah dari kerelaan menjalani masa-masa “penahanan” di rumah akibat covid 19 adalah kami kini bisa berdamai dengan covid, melaksanakan aktivitas seperti covid sudah berakhir walau tetap taat dan disiplin mengikuti protocol.

Indonesia terlalu banyak tukang keluh, tukang protes dan provokatornya. Akhirnya banyak negara termasuk Filipina juga menolak pendatang dari Indonesia!!

Manila: 17-Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF.
×
Berita Terbaru Update