-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

๐๐ซ๐š๐ฒ ๐…๐ซ๐จ๐ฆ ๐‡๐จ๐ฆ๐ž

Kamis, 22 Juli 2021 | 10:30 WIB Last Updated 2021-07-22T03:30:46Z

Covid-19. Rasa saya, semua kita sudah jenuh dan capai bicara soal Covid-19. Sudah setahun lebih kita ada dalam suasana pandemi ini. Dalam konteks ritual peribadatan, semua rumah ibadah dan aktivitas peribadatan dibatasi dan bahkan dilarang. Semua diajak untuk berdoa dari rumah (Pray from home). Tujuannya jelas yakni untuk meminimalisir penyebaran virus mematikan ini. Meski tetap saja ada kelompok tertentu yang masih “ngeyel” dengan kebijakan ini. Di Gereja Katolik sendiri sudah sejak tahun lalu, diberlakukan misa hari minggu atau bahkan misa harian pun selama beberapa bulan disiarkan secara daring atau live streaming (online). Kita tentu perlu mengapresiasi usaha dan kreativitas masing-masing paroki untuk “cura anima” umat-umatnya. Dan semua kita tentu sepakat bahwa dengan “alasan darurat mendesak” dalam situasi Pandemi Covid-19 ini yang “online-online” itu tentu saja wajar dan menjadi salah satu solusi yang tepat.

Beberapa minggu terakhir dengan PPKM Darurat, kembali ada himbauan untuk berdoa dari rumah (Pray from home). Ada hal-hal menarik yang dapat direfleksikan disini. Bagi saya,  dengan Covid-19 ini memaksa aktivitas ritual kita untuk kembali ke spiritual. Ada goyangan halus dari ritual ke virtual. Ada gerakan dari perayaan iman yang “celebritas” ke spiritual. Ada inovasi dari aksi “solo” ke yang kolektif-kolaboratif. Ada pergeseran dari agama yang ritual kolosal pada agama yang memberi peran lebih pada umat. Dari peran para Imam/Pastor yang single fighter kepada peran yang kolaboratif bersama dengan umat. Tapi bisa saja ada umat beriman kristiani (Katolik) yang tidak puas atau merasa ada sesuatu yang kurang jika merayakan ekaristi secara virtual dan harus berdoa dari rumah saja. Ada yang merasa “berdosa” jika tidak merayakan ekaristi di Gereja. Ada yang merasa “bersalah besar” jika tidak dapat berpartisipasi dalam perayaan ekaristi virtual. Dan lagi, ada yang merasa kurang jika doa di rumah itu tidak dibawakan oleh seorang Suster, Frater, Diakon atau Imam. Rasanya ini soal yang perlu kita jawab bersama. 

Untuk menjawab persoalan ini, saya buka dengan sebuah kutipan ayat Kitab Suci yang berbunyi: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:6). Apakah waktu itu ada juga wabah sehingga Yesus “menyuruh” orang untuk di rumah saja? Senyum dululah. Dari kutipan Kitab Suci, kita menuju sebuah kutipan Kitab Hukum Kanonik yang berbicara soal Umat Allah atau Umat Beriman Kristiani. Kita temukan pada kanon 204, yang berbunyi: “Kaum beriman kristiani ialah mereka yang, karena melalui baptis diinkorporasi pada Kristus, dibentuk menjadi umat Allah dan karena itu dengan caranya sendiri mengambil bagian dalam tugas imami, kenabian dan rajawi Kristus, dan sesuai dengan kedudukan masing-masing, dipanggil untuk menjalankan perutusan yang dipercayakan Allah kepada Gereja untuk dilaksanakan di dunia”. Dari dua kutipan ini, saya mau katakan perlu adanya penekanan lebih dalam  katekese kita  bahwa keluarga-keluarga kristiani adalah Gereja domestik. Posisi dan peran kaum beriman kristiani (awam) berkaitan erat dengan tugas misi Gereja. Dan Paus Pius XII mengatakan bahwa kaum beriman kristiani (awam) berada di garis depan kehidupan Gereja (CL. 9). Umat (keluarga) bisa saja berdoa di rumah masing-masing tanpa harus merasa berdosa bila tidak bisa mengikuti secara live streaming atau online. Salah satu anggota keluarga bisa menjadi “pastor” karena dengan baptisan ia telah menerima predikat sebagai imam, nabi dan raja. Booming katekese akan peran lebih umat (awam) untuk menjadi imam, nabi dan raja bagi mereka sendiri akan menjadi tepat dan terasa disini. Sebab Tuhan bisa saja sudah bosan juga ketika selama ini umat hanya kebagian jawaban: amin, amin dan amin. 

Mengakhiri tulisan ini, saya teringat dan mengutip kata-kata inspiratif dari Kardinal Carlo Maria Martini, beberapa hari menjelang kematiannya. Kata Kardinl Martini: “The Church was 200 years behind the times”. Liturgi Gereja memang megah dan meriah, busananya gemerlap indah, tapi berhadapan dengan zamannya, Gereja sendiri sesungguhnya kehilangan nyali dan menjadi penakut. Mengutip Karl Rahner pula Kardinal Martini mengatakan: “Gereja sekarang seperti bara api yang tidak kelihatan nyalanya lagi karena tertutup abu. Kita mesti menyingkirkan abu itu, sampai kita bisa menemukan apinya lagi”. Sebuah teguran konstruktif, yang bisa dimaknai bahwa dengan situasi pandemi Covid-19 ini menjadi tanda positif bagi Gereja untuk bermain lebih terbuka, ofensif dan progresif dan ini terlihat dalam beberapa terobosan kontekstual dan tepat sasar  yang diambil dan ditawarkan meski masih dalam suasana “alasan darurat mendesak” dan demi keselamatan jiwa-jiwa (anima salutis suprema lex). Dan bisa saja inilah bentuk wajah cantik Bunda Gereja futuristik kita. Akhirnya, mari kita resapkan kata-kata K. Rahner: “Gereja adalah wanita tua dengan banyak keriput, tetapi dia adalah ibuku dan tak seorang pun boleh memukul ibuku.”

Oleh: Pater ๐™ณ๐š˜๐š๐š๐šข ๐š‚๐šŠ๐šœ๐š’, ๐šŒ๐š–๐š
×
Berita Terbaru Update