-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Hilangnya Kesopanan Karena Kita Lupa Diri

Kamis, 01 Juli 2021 | 18:05 WIB Last Updated 2021-07-01T11:07:43Z
Siapapun kita, apapun kedudukan dan jabatan kita, sehebat apapun kita, satu hal yang tidak pernah kita lupakan adalah kita semua ini berasal dari desa, kampung atau dalam bahasa lain kita semua adalah orang “gunung.”

Bahwa kemudian di antara kita yang lahir di kota-kota besar, minimal di kota kabupaten atau kecamatan dan mungkin juga ada yang lahir di luar negeri itu adalah sebuah “kebetulan.” Kebetulan orang tua merantau dan bekerja di sana, kebetulan perkawinan dengan yang berasal dari negara lain dan tinggal menetap di negara tersebut dan kebetulan orang tua pindah tugas ke kota lain. Semuanya berada pada yang namanya “kebetulan.”

Kebetulan itu tidak akan pernah menghapus dan menyembunyikan dari mana kita berasal, desa atau kampung nenek moyang dan orang tua kita berasal. Dan yang tidak kalah penting adalah bahwa meski kita berasal dari desa atau kampung, meski jabatan dan posisi kita tinggi, meski kita menjadi mahasiswa di kota-kota besar atau lulusan pada kampus-kampus ternama di luar negeri seharusnya, kita seharusnya tidak menjadi “kampungan” yaitu yang tidak berbudaya, beradat dan tidak memiliki sopan santun.

Harus kita akui bahwa di rahim Republik banyak orang pintar, banyak kaum intelek dan tokoh agama yang jika kepintaran dan kecerdasan serta kekritisan mereka disumbangkan untuk kebaikan bersama bangsa Indonesia, maka Indonesia akan maju dan jaya. 

Namun sebagian besar yang terjadi di negara kita, kepintaran, kecerdasan dan kekritisan mereka justru membuat mereka menjadi “kampungan” alias tidak berbudaya, tidak beradat dan hilangnya sopan santun karena mereka menjadi lupa diri bahwa sejatinya mereka, saya dan kita semua adalah orang-orang kampung atau desa yang memiliki segudang keramahan, etika, budaya dan nilai-nilai kesopanan yang jika dihidupi maka akan melahirkan manusia-manusia intelek yang beradab, berbudaya, beradat dan beriman.

Hilangnya budaya kesopanan di tengah kehidupan kaum intelek dan sebagian oknum tokoh agama karena setiap hinaan, ujaran kebenciaan selalu dibungkus atas nama demokrasi. Walaupun mereka juga sebenarnya sadar dan tahu bahwa dalam demokrasi juga dibutuhkan kesopanan (decency in democracy).

Bahkan tidak jarang kebaikan dan kebenaran dikompromikan dengan setiap hujatan, hinaan dan fitnah sehingga mereka yang lupa diri menjadikan setiap hinaan, hujatan dan fitnah sebagai “budaya atau habitus mereka.”

Desa atau kampung adalah sekolah kesopanan, sekolah budaya dan sekolah etika. Dari desa atau kampung kita belajar bagaimana berkata-kata yang baik dan benar, bagaimana sikap kita ketika lewat didepan banyak orang tua. Bagaimana seharusnya kita menyampaikan pendapat dan semangat orang desa atau kampung adalah semangat gotong royong yaitu bersama mengusahakan jalan keluar atas setiap masalah yang dihadapi dan bukannya hanya omong kosong.

Boleh pintar, cerdas dan kritis. Tapi jangan lupa dan bangga bahwa kita semua adalah anak kampung atau desa yang memiliki kesopanan melebih setiap ilmu yang kita miliki.

Manila: 01-Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update