-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Jalan Sunyi Altar Menjadi “Pasar”

Jumat, 16 Juli 2021 | 14:44 WIB Last Updated 2021-07-16T07:44:41Z
Gereja ditengah masyarakat yang menjadikan kegembiraan dan harapan serta duka dan kecemasan sesama sebagai kegembiraan dan harapan serta duka dan kecemasan Gereja (bdk. GS.1).

Pandemi covid 19 dan pemberlakuan PPKM oleh sebagian elite politik dan oknum tokoh agama dijadikan sebagai panggung untuk membangun perlawanan dengan mengatasnamakan masyarakat miskin dan provokasi mengatasnamakan Tuhan. Dan hasilnya sudah dapat kita lihat, bahwa kasus covid 19 di Indonesia bukannya semakin berkurang melainkan terus meningkat oleh karena mobilisasi massa dari oknum elite politik dan tokoh agama yang terus melakukan perlawanan dan protes atas nama perut dan Tuhan.

Dalam situasi seperti ini Gereja dalam jalan sunyinya bisa mengambil peran menghidupkan semangat gotong royong sebagaimana juga yang ditegaskan dalam dokumen Konsili Vatikan II: Gaudium Et Spes. 1 untuk meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa PPPKM tidak membuat kita kelaparan dan tidak menjauhkan kita dari Tuhan.

Gereja membawa altar di mana Tuhan bersemayam dalam bentuk lainnya yaitu “pasar.” Caritas KWI bisa berkolaborasi dengan Caritas-caritas Keuskupan hingga tingkat paroki seraya membangun kerja sama dengan pengusaha-pengusaha Katolik di setiap wilayah Keuskupan untuk memberikan sembako kepada umat dan masyarakat sekitar selama masa pemberlakukan PPKM. 

Ketua-ketua lingkungan digerakan untuk mendata penerima sembako dan bersama sukarelawan Caritas dari rumah ke rumah menyerahkan sembako. Umat atau masyarakat diminta untuk menyediakan kursi atau meja di depan rumah dan sembako diletakan di meja atau kursi yang kemudian diambil oleh yang menjadi sasaran penerima sembako.

Gereja Indonesia memiliki kekuatan dalam hal dana. Maka pemberlakuan PPKM yang oleh sebagian elite politik dan tokoh agama adalah sebuah masalah, namun PPKM justru menjadi sebuah jalan sunyi dimana Gereja bisa menjadikan altar sebagai sebuah pasar kemanusiaan dan solidaritas yang dengan jelas dan terang benderang menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih.

Sedikit pengalaman saya ketika pemerintah Filipina memberlakukan lockdown hampir selama setahun pada 2020. Umat dan masyarakat tidak protes dan melawan pemberlakuan lockdown karena Gereja mengambil peran aktif dengan memberikan sembako dan voucher grosir kepada umat dan masyarakat lainnya selama pemberlakuan lockdown hingga hari-hari ini.

Tarekat-tarekat Religius, Yayasan-yayasan pendidikan, kesehatan maupun sosial serta organisasi-organisasi Katolik dan para politisi Katolik yang tersebar di berbagai partai politik bisa diajak sebagai rekan kerja untuk menjadikan altar sebagai “pasar” dalam semangat gotong royong untuk membantu pemerintah dan masyarakat selama pemberlakukan PPKM daripada hanya sekedar membangun opini-opini perlawanan dan protes terhadap pemerintah.

Saatnya menjadikan setiap keluh dan protes di tengah pademi covid 19 dan PPKM sebagai jalan sunyi untuk membumikan Sabda Yesus;

“Yang Kukehendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan, dimana menjadikan altar sebagai “pasar” iman dan kemanusiaan.”

Manila: 16-Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update