-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kami Belajar Islamologi Dan Dunia Kekristenan Bukan Untuk Menghina

Sabtu, 17 Juli 2021 | 09:36 WIB Last Updated 2021-07-17T02:36:33Z
Sejak kuliah Filsafat dan Teologi di Fakultas Teologi Kepausan WedaBahkti-Jogjakarta dan juga di beberapa fakultas Teologi atau Seminari Tinggi yang lain, mata kuliah Islamologi dan juga dunia kekristenan seperti Protestan dan aliran kepercayaan yang lain kami pelajari.

Kami belajar Filsafat dan Teologi Islam, juga seperti Filsafat Hindu, Budhisme, Filsafat Timur dan juga teologi Protestan serta aliran kepercayaan yang lain pertama-tama adalah untuk menemukan kebaikan dalam agama-agama lain dan sebagai dasar pijak untuk berdialog dan membangun toleransi tanpa pernah mencari kelemahan ataupun kekurangan yang ada dalam teologi agama lain termasuk juga bukan untuk mengutak-atik ajaran mereka, menyerang, memfitnah apalagi menjadikannya sebagai bahan pembohongan dalam berkotbah.

Artinya dasar pijakan untuk mempelajari agama Islam baik Filsafat maupun Teologi Islam serta dunia kekristenan yang lain adalah untuk memahami konsep keTuhanan dan ajaran kitab suci mereka masing-masing agar sampai pada sebuah sikap penghormatan dan penghargaan dengan tetap memegang prinsip ajaran iman kekatolikan kami.

Jadi mempelajari Islamologi maupun dunia kekristenan dan aliran kepercayaan lainnya adalah sebuah proses refleksi untuk membangun kerangkat berteologi dan berpastoral secara kontekstual bagi umat dan sesama manusia tanpa menghakimi apalagi menjadikan sebagai bahan olokan ataupun hinaan.

Apapun yang dipelajari dibangku kuliah waktu masih frater, termasuk Islamologi dan dunia kekristenan serta aliran kepercayaan lainnya adalah untuk membangun kerangka refleksi yang kristis, sistematis dan cerdas tanpa menghakimi ataupun menjadikan apapun yang kita pelajari dari agama atau aliran kepercayaan yang lain. 

Dengan kata lain mempelajari Islamologi ataupun dunia kekristenan lainnya menjadi acuan sebuah refleksi kritis atas pengajaran oknum ustadz atau ustadja mualaf serta oknum tokoh agama lainnya yang pengajarannya dan perbuatannya justru jauh dari ajaran yang sebenarnya baik dan benar, 

Maka ketika kita mendengar ada oknum ustadz ataupun ustadja dan oknum tokoh agama lainnya yang seringkali mengutak-atik ajaran agama Katolik, atau secara terang benderang menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci agama Katolik secara sembarangan untuk sebuah pembohongan itu menunjukan kegagalan dalam sebuah proses belajar termasuk proses belajar atas teologi dan ajaran agama yang dianut mereka.

Manila: 17-Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update