-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ketaatan Mulai Dari Altar

Rabu, 14 Juli 2021 | 17:19 WIB Last Updated 2021-07-14T10:19:39Z
Dari sebuah meja perjamuan (altar) Yesus memulai penegasan misi tertingginya yaitu Salib dalam sebuah peristiwa pemberian dan penyangkalan Diri, ketaatan pada kehendak Bapa untuk menerima Salib menuju Kalvari untuk keselamatan umat manusia. Dari meja perjamuan (altar) yang satu Yesus menegaskan bahwa keselamatan hanya akan bisa terwujud ketika meja perjamuan (altar) menjadi tempat penyerahan Diri dan hidup (bdk. Mat 26:17-29; Mrk 14:12-25).

Dari meja perjamuan (altar) Yesus menyatukan kembali pemberian Diri dan Hidup dalam kesederhanaan kelahiran-Nya yang terbaring dalam sebuah palungan dimana raga yang dibalut kain lampin, palungan itu kini menjadi altar dimana pengorbanan Diri dan Hidup-Nya di kayu salib dalam balutan sehalai kain yang telah dimulai sejak kelahiran-Nya disatukan kembali (bdk. Luk 2:7).

Altar menjadi palungan penyerahan Diri dan pengorbanan Hidup. Dan sehelai kain putih yang membalut altar adalah kesucian, kekudusan penyerahan Diri dan pengorbanan Hidup Tuhan kita Yesus Kristus. Dari meja perjamuan (altar) Dia mengajarkan Ketaatan, Pengorbanan dan Penyangkalan Diri. Dari meja perjamuan (altar) Yesus mengawali misteri Salib-Nya dalam ketaatan.

Seorang imam hanya bisa taat dalam seluruh karya pelayanannya termasuk di saat merayakan Ekaristi dengan mengikuti PUMR secara baik dan benar dan tidak menjadikan altar tempat untuk “berjingkrak” ketika menyadari bahwa altar tidak hanya sebuah tempat dimana persembahan Gereja disatukan dalam korban persembahan Kristus melainkan lebih dari itu altar adalah Ketaatan itu sendiri, tempat dimana sang imam menyatukan seluruh hidupnya, menyerahkan dan mengorbankan seluruh kehendak, keinginan dan hobinya dalam kesatuan dengan ketaatan pengorbanan Kristus.

Demikian juga dengan umat beriman. Umat beriman hanya bisa taat pada pedoman liturgi maupun ajaran Gereja lainnya dan hukum bernegara, termasuk tidak pernah mengeluh soal misa, imam yang memimpin misa dan berkotbah, lagu-lagu dalam misa ataupun soal pelayanan sakramen lainnya jika menyadari bahwa menjadi seorang Katolik harus berani dan siap menyatukan segala keinginan dan kehendak pribadi di atas altar. Altar tidak hanya meja perjamuan tetapi juga meja persembahan diri dan penyerahan hidup. Dari altar ketaatan lahir.

Singkatnya dari altar kita dikuatkan dan disadarkan bahwa altar sejatinya adalah saat di mana kita menyatukan segala keinginan dan kehendak pribadi dalam korban Kristus yang melahirkan ketaatan; “bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu Bapa” (bdk. Mrk 14:36).

Altar menjadi langkah awal ketaatan memikul salib, menjalani penderitaan yang melahirkan sukacita dan keselamatan bersama. Kita semua, umat Katolik hanya bisa taat kalau kita sadar bahwa di atas dan dari altar pengorbanan, penyerahan diri dan penderitaan kita dan sesama disatukan dalam pengorbanan, ketaatan dan penderitaan Kristus.

“Altar adalah meja perjamuan Ketaatan dalam korban penyangkalan diri dan penderitaan.”

Manila: 14-Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update