-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pak Kapolri: Lebih Baik Urus Yahya Waloni! Lebih Berbahaya Daripada Covid

Kamis, 22 Juli 2021 | 10:30 WIB Last Updated 2021-07-22T03:30:45Z

Virus yang paling ganas di Indonesia bukan hanya covid 19 ataupun Delta Variant, tapi virus mabuk dan candu agama dari otak-otak provokator seperti Yahya Waloni yang selalu melihat setiap peristiwa dan kebijakan dari pemerintah (hanya di pemerintahan pak Jokowi) sebagai pelemahan, penyingkiran dan pemecah belah persatuan umat Islam.

Para kyai saleh dan tutur kata mereka yang selalu mendamaikan dan menyejukan selalu menunjukan keteladaan, kedisiplinan dan ketaatan sebagai ungkapan iman yang Islami, tapi seorang Yahya Waloni yang mualaf dan pengetahuannya tentang agama Islam yang masih seumur jagung membuat diri seakan-akan dia yang paling hebat, dia yang paling Islami padahal dengan sadar merusak ajaran-ajaran agama Islam yang katanya ia bela walau dengan bahasa dan tuduhan provokatif.

Di saat banyak orang termasuk tokoh agama lainnya serius, taat dan disiplin serta terus mengajak umat manusia untuk bergandengan tangan memutus mata rantai penyebaran covid 19 dengan mengikuti vaksinasi, menjaga jarak, tidak menimbulkan kerumunan, menggunakan masker, rajin mencuci tangan, work from home dan sebaiknya tidak melakukan perjalanan, Yahya Waloni membuat diri seakan-akan hanya dia dan pengikutnya adalah korban dari kebijakan yang dibuat.

Yahya Waloni menjadikan Islam sebagai tameng untuk memprovokasi dan memecah belah bangsa. Yahya Waloni secara jelas membenturkan Islam dengan pemerintah walau kita yang waras, urusan covid bukan urusan agama termasuk Islam, melainkan urusan keselamatan, kemanusiaan yang wajib dilakukan oleh setiap umat manusia apapun agamanya. Yahya Waloni mau mengatakan bahwa setiap kebijakan pemerintah harus mendapat persetujuan dari Islam, berpihak pada umat Islam dan tunduk pada ajaran Islam. 

Gereja, sekolah, kantor, perusahaan, warung, Wihara, Pura, Klenteng semua ditutup karena kemanusiaan, keselamatan dan kebaikan bersama dan kedisiplinan yang adalah bagian dari iman dan ibadah. Para nakes yang meninggal dunia karena harus menyelamatkan orang lain, para imam, suster, kyai, pendeta dan tokoh agama lainnya meninggal karena covid, apakah mereka tidak beriman dan tidak bergama?

Kepergiaan para nakes dan juga para tokoh agama akibat covid seharusnya membuka mata hati kita bahwa Tuhan yang kita sembah tidak hanya meminta kita menyembah-Nya tetapi juga meminta kita untuk menjaga kesehatan dan keselamatan diri sendiri dan sesama. Jika Yahya Waloni meresa kebijakan pemerintah memecah belah persatuan umat Islam, Yahya Waloni mau tidak ke rumah sakit dan mengurus pasien covid tanpa menggunakan APD? 

Stop menjual agama dan kotbahmu hanya untuk memprovokasi dan memecah belah masyarakat Indonesia. Pak Kapolri seharusnya juga tegas terhadap orang seperti Yahya Waloni yang dianggap sebagai ustadz yang omongannya walau provokatif dan tidak baik pasti diikuti oleh para pengikutnya dan itu membuat badai covid di Indonesia semakin merajalela.

Kita yang waras, mari tutup telinga atas pernyataan-pernyataan provokatif seperti Yahya Waloni dan bergandengan tangan, bahu membahu memutus mata rantai covid 19 di pertiwi tercinta Indonesia, mengikuti protocol dengan taat dan disiplin serta mari kita vaksin bersama-sama.

Banyak orang yang melawan setiap kebijakan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19 tidak hanya disebabkan oleh ketidaktaatan dan ketidakdisiplinan masyarakat, tetapi juga karena omongan maupun pernyataan oknum yang dipandang tokoh agama seperti Yahya Waloni yang provokatif!

Manila: 21-Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update