-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Stop Pertontonkan Kesombongan Bergama Dan Bernegara!

Selasa, 13 Juli 2021 | 11:22 WIB Last Updated 2021-07-13T04:22:40Z
Tahun lalu ketika Filipina lockdown pertama, saya pernah menulis bahwa Indonesia patut bersyukur memiliki seorang Jokowi karena tidak melakukan lockdown meski tekanan politik dan bahkan agama harus ia hadapi. Saya menuliskan demikian karena ketika Filipina melakukan lockdown pertama dampak ekonomi sangat terasa.

Dan sejak tanggal 3 Juli pemerintah harus mengambil keputusan tegas dengan melakukan PPKM Darurat untuk seluruh wilayah Indonesia. Keputusan ini diambil seiring lonjakan kasus covid yang tak terbendung lagi di Indonesia. Ketika keputusan ini diambil dan dilaksanakan oleh pemerintah walah sangat beresiko dan berdampak pada ekonomi, masih saja ada oknum elite politik dan tokoh agama yang mempersalahkan pemerintah yang tidak lain adalah pak Jokowi.

Di tengah badai covid yang melanda Indonesia, bukannya semangat gotong royong dihidupkan untuk membangun bangsa kita tercinta dan di saat masyarakat biasa yang terus berjuang bahkan menggelontorkan hartanya untuk membantu rakyat dan bangsa Indonesia, oknum elite politik yang pelit dan tokoh agama yang sombong justru menarikan tarian nyinyir dan mempersalahkan pemerintah.

Ekonomi dan masyarakat kecil dijadikan tameng untuk mempersalahkan pemerintah. Tuhanpun dijadikan perisai untuk mempertontonkan kesombongan sebagian oknum tokoh agama dengan mempersalahkan pemerintah.

Namun mereka tidak sadar bahwa masyarakat kecil dan Tuhan hanya dijadikan perisai untuk mempertontonkan kesombongan dan keangkuhan mereka. Indonesia tidak akan pernah melaksanakan PPKM kalau saja kita semua, siapapun kita dan apapun kedudukan kita benar-benar mau menunjukan sikap kerendahan hati dan ketaatan untuk mengikuti protokol kesehatan covid 19.

Ketika pemerintah tidak melaksakanakan PPKM, seharusnya kita semua bergotong royong untuk taat dan rendah hati mengambil jarak dari setiap kerumunan termasuk ibadah di mesjid, gereja, pura, wihara dan klenteng termasuk sejenak menghentikan setiap pesta yang beresiko terjadinya kerumunan, tetapi kita justru melawan dan tidak mau tahu. 

Kita menjadikan masyarakat kecil dan Tuhan sebagai alasan menyombongkan diri, menuhankan keangkuhan dan tidak mau peduli pada keselamatan sesama termasuk tidak mau peduli pada usaha pemerintah. Dan ketika PPKM terpaksa dilaksanakan, masyarakat kecil dan Tuhan dijadikan sebagai senjata mempersalahkan pemerintah. 

Lantas kapan, “kita mempersalahkan diri kita sendiri yang terlalu sombong dan angkuh tidak mau taat dan rendah hati mengikuti protokol kesehatan covid 19 dan berani memikul salib serta menyangkal segala keinginan dan kehendak pribadi?” (Bdk. Luk 9:23).

Lonjakan badai covid 19 di Indonesia dan PPKM terpaksa diambil dan dilaksanakan karena negara yang dikenal sebagai negara religius tetapi bukan kerendahan hati dan ketaatan menyembah Tuhan yang dikedepankan dengan setia mentaati protocol covid 19 melainkan karena mendewakan kesombongan dan keangkuhan atas nama masyarakat kecil dan Tuhan yang dengan sewenang-wenang menabrak protocol covid 19 adalah penyebabnya.

Meski seluruh rakyat Indonesia sudah divaksin dan jutaan vaksin didatangkan tetapi ketika kita masih mengedepankan kesombongan dan keangkuhan dalam beragama dan bernegara seraya saling mempersalahkan diantara kita terutama mempersalahkan pemerintah maka badai covid 19 di Indonesia tetap menghantam bangsa kita.

Salam taat dan rendah hati
Manila: Juli 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update