-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

AKU PADA ALAM

Minggu, 15 Agustus 2021 | 20:18 WIB Last Updated 2021-08-15T13:18:08Z
Semua yang ada pada diriku adalah alam, tertumpah pada wajah yang selalu menarik dan meringkik bergemah diseluruh cela-cela batu serta pepohonan dan segala tumbu-tumbuhan yang menghias seluruh jiwa dan tubuhku. Itulah mengapa aku harus mencintai alam. Tidak perna cemburu dengan yang lain, hanya terkesan bila tidak menghargai alam. Sebab yang benar-benar mencintai alam dengan perasaannya Ia wajib menyederhanakan dirinya. Karena ada kata mustahil bagi sebagian orang untuk menerima alam jika tubuhnya telah diladeni oleh perkembangan zaman dan memikat hatinya untuk didandani, sehingga terlihat lebih seksi. Perbuatan untuk mengikuti perkembangan zaman Itu bukan keliru atau salah. Tetapi itu bagian dari respon manusia untuk menerima perubahan, terkadang potensi kita untuk menerima perubahan itu terlalu cepat dan sangat radikal sehingga muda untuk melupakan actus dirinya sebagai yang alamia. Hal semacam ini pasti sangat sulit untuk kembali pada yang semula. Bahwa kita tidak lebih dari seekor kera yang menurut evolusi darwin kita berasal dari kera, lalu kita berpura-pura untuk memanipulasi diri satu sama lain dengan menunjukkan diri bahwa  kita manusia. Apakah kita terlihat lebih manusia jika kita harus merusak alam dengan memperkosa semua gunung-gunung dan tumbu-tumbuhan? Apakah kita harus menggunakan kosmetik untuk bisa terlihat cantik dan ganteng?

 Hari-hari ini gunug dan lembah meninggalkan banyak tanda, entah itu sebagai kebahagiaan atau mala sebuah bentuk peringatan. Jika yang tidak ada dalam pikiran manusia terkadang muncul dalam tubuh alam. Lewat angin yang melintasi tanpa arah, dan badai yang menjelma jadi danau. Mungkin manusia merasa tersakiti oleh keadaan seperti itu, kendati demikian bahwa alam ingin memiliki perubahan pada tubuhnya. Hal itu pula menunjukan keterbatasan pengetahuan kita terhadap alam. Pengetahuan kita tentang alam hanya untuk mempergoki alam itu sendiri, jadi alam sebenarnya telah muak. Sehingga semuanya hanya diberi tanda.  Rational manusia terbatas pada subjek dan objek tertentu. Banyak orang yang telah melabelkan diri sebagai makhluk alam melalui daya rational, ternyata Ia hanya ingin menguasai alam untuk menguntungkan dirinya sendiri. Semua tangisan burung  dan seluruh makhluk hutan meringis pada tempat yang suda mangkrak. Suaranya menjadi tontonan para kaum birahi yang telah memperkosa pada rahim-rahim gunung dan memeras semua lereng bukit. Sehingga tak ada lagi yang menawan pada tubu, tak ada lagi yang memikat hati untuk menjamu dalam menerima hidangan lokal, jika semuanya telah terbakar pada lida-lida api yang menghangus seluruh tubu. 

Ada yang unik dalam setiap tubuh alam, dan itulah panorama yang ingin dijaga sepanjang masa. Seperti bibit pohon cemara yang tumbuh dalam cela batu dan seorang rambut gondrong yang dibenci oleh banyak orang, mereka telah merdeka bagi tubuhnya. Perbuatan orang fasik dapat dipuji oleh banyak orang, namun tak mulia dihadapan yang Kuasa. Hidup yang rapuh akan dijiwai oleh penguatan, kata-kata yang rancu akan diluruskan oleh sang sastrawan. Bila mana hidup sesorang masi ragu-ragu, bersyukurlah karena Ia masi berpikir. Seorang seniman terlihat lebih unik pada dirinya, Karena seni itu tumbuh dalam hatinya. Maka akan muda bagi seorang pembaca untuk menemukan  kata-kata. Karena bagi seorang  penulis, menulis adalah sebuah rayuan otak yang jengkel terhadap keperawanannya, tidak bisa dibanggakan bagi seorang penulis jika belum merobek selaputnya dengan pena dan kertas. Hal itulah yang tumbuh bagi setiap orang. Kendati demikian yang sunggu-sunggu tak terburaikan adalah alam. Seperti rumput-rumput liar yang bertumbu di lereng gunung dan pohon-pohon yang tumbuh dipinggir pantai.

Dari alam banyak orang menemukan keindahan dan keunikannya. Sehingga yang lain terus mengobiekan dirinya melalui perubahan alam, dan dia dikatan sebagai hidup yang natural. Hidup yang natural sungguh luar biasa, karena menahan nafsu perkembangan zaman. Banyak dari kita yang kehilangan essensi dirinya oleh pengaruh-pengaruh dari luar. Tindakan itu seperti bara api yang menyala pada tubuh.  Sungguh luar biasa bagi orang-orang yang telah merawat tubuh secara alamia. Dan tidak penting bagi saya untuk menggunakan sampo kuda untuk merawat yang alamia. Tantangan alam adalah memelihara tanpa menggunakan campur tangan prodak. Jika yang sedang  diandaikan manusia adalah untuk memlihara alam, maka wajib hukumnya untuk menjaga tanpa harus melukainya, karena akhirnya hidup kita kembali kepada alam.

Wukir, 2021

Oleh: Febrianus Nala
×
Berita Terbaru Update