-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

ɪᴍᴀᴍ ᴘᴇʀᴇᴍᴘᴜᴀɴ ᴅᴀɴ ᴠɪʀɪ ᴘʀᴏʙᴀᴛɪ?

Minggu, 22 Agustus 2021 | 16:55 WIB Last Updated 2021-08-22T09:55:26Z
Semua kita tentu masih ingat dengan baik Sinode Para Uskup Amazonia pada tahun 2019 yang lalu. Salah satu usulan dari para Bapa Sinode saat itu, yang hangat dibicarakan adalah soal “diakon -imam perempuan dan viri probati”.  Lalu pada tanggal 2 Februari 2020, Paus Fransiskus menandatangani sebuah Anjuran Apostolik pasca-Sinode Para Uskup Amazonia. Anjuran Apostolik ini diberi judul “Querida Amazonia” (Indonesianya: Yang Tercinta Amazon). Anjuran Apostolik ini kemudian dipublikasikan pada tanggal 12 Februari 2020. Dalam anjuran apostolik ini Paus Fransiskus menanggapi dokumen terakhir Sinode Amazon, yang berakhir Oktober 2019 yang lalu, dalam empat bidang: sosial, budaya, ekologi, dan gerejawi. 

Tapi sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita pahami sejenak tentang apa itu Sinode Para Uskup. Salah satu referensi yang bisa membantu kita adalah Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983. Dalam KHK dari Kanon 342-348, menampilkan arti, tujuan dan dinamika sinodali yang paling tidak membantu kita sedikit memahami tentang Sinode Para Uskup. Misalkan pada Kan.342, memberikan defenisi tentang Sinode Para Uskup. Sinode para Uskup ialah “himpunan para Uskup (coetus episcoporum), yang dipilih dari pelbagai kawasan dunia yang pada waktu-waktu yang ditetapkan berkumpul untuk membina hubungan erat antara Paus dan para Uskup, dan untuk membantu Paus dengan nasihat-nasihat guna memelihara keutuhan dan perkembangan iman serta moral, guna menjaga dan meneguhkan disiplin gerejawi, dan juga mempertimbangan masalah-masalah yang menyangkut karya Gereja di dunia”. Sinode Para uskup adalah organisme permanen dalam Gereja yang bersifat “menasihati” dan “konsultatif”. Karena itu, laporan akhir Sinode tidak mengatakan apa yang harus dilakukan Paus. 

Sejak tahun 1974, Paus biasanya akan menerbitkan sebuah eksortasi/nasihat/anjuran Apostolik setelah Sinode. Dan bisa saja dalam nasihat/anjuran apostolik itu, Paus mengikuti usulan-usulan hasil Sinode atau bisa juga tidak. Hasil Sinode bukanlah sesuatu yang mengikat Paus tapi bisa dikatakan sebagai pedoman/panduan bagi Paus dalam pengambilan keputusan. Prinsip yang kembali untuk diingat adalah Sinode berhak mengajukan masalah-masalah, membahas dan memberi usulan atau harapan-harapan tapi tidak berhak untuk memutuskannya atau mengeluarkan dekret-dekret tentang Sinode. Hanya Paus yang berhak untuk memutuskan dan mengesahkan keputusan-keputusan yang dihasilkan sinode. Sinode Para Uskup Amazon telah berakhir pada 6-27 Oktober 2019 yang lalu dan saat itu dinamika sinodali baru sampai pada tahap mengusulkan pada Paus, hasil akhir dari Sinode itu. Paus tentu masih membaca, mendalami dan memahami semuanya itu untuk kemudian sampai tahap mengeluarkan sebuah anjuran/nasihat apostolik yang berkaitan dengan semua usulan, saran dan harapan-harapan dari sinode itu. 

Ada beberapa usulan dari para Bapa Sinode saat itu tapi yang hangat dibicarakan dan diperdebatkan dan tentu saja semua kita masih mengingatnya adalah soal diakon perempuan -“imam perempuan” dan Viri probati (rahmat imamat untuk orang sudah dewasa/matang, bisa saja juga sudah menikah, hidup mapan dan dapat/telah memberikan kesaksian hidup yang baik). Rasa saya, inilah usulan-usulan yang sempat “heboh” ketika dokumen hasil akhir Sinode diusulkan pada Paus. 

Pertanyaan logisnya jelas: apa jawaban Paus akan usulan dari hasil akhir Sinode Amazonia itu? Jawabannya memang hanya bisa kita temukan dalam “Querida Amazonia”. Hanya saja tidak mudah menemukan jawaban yang eksplisit tapi pada bagian/ bab keempat dari dokumen “Querida Amazonia” tentang Impian Gerejawi bisa membantu kita untuk menarik keluar satu-dua jawaban. Misalkan pada n.99-105, inti sari gagasan yang bisa didapat adalah soal pentingnya peran awam. Tantangan kelangkaan imam di Amazon menuntut Gereja "untuk mencapai kehadiran luas yang hanya mungkin melalui protagonisme awam yang tajam", terutama kaum perempuan yang sebenarnya memainkan peran sentral dalam komunitas-komunitas di Amazon. Mereka tetap mendapat akses dalam fungsi dan pelayaanan gerejawi tanpa harus meminta atau bertanya untuk tahbisan suci. Karena itu, bisa dengan tegas dikatakan bahwa anjuran apostilik Querida Amazonia ini tidak terbuka, menolak usulan diakon perempuan-“imam perempuan” dan  tidak terbuka, menolak usulan pemberian rahmat tahbisan bagi viri probati. Dengan lain kata, Magisterium Paus ini tidak membuat keputusan baru untuk “mengakomodir” apa yang diusulkan dalam laporan akhir dokumen Sinode, Oktober 2019 lalu itu, akan kemungkinan menganugerahkan rahmat imamat kepada kaum perempuan dan viri probati. Tradisi dan teologi imamat tetap tinggal, ada dan sama seperti yang sekarang kita jalani dan hidupi. Harapan saya, dengan tulisan sederhana ini, bisa membantu kita untuk membuang jauh asumsi-asumsi premature yang “meresahkan”, yang sempat ada dalam pikiran kita.
Sebagai penutup dari tulisan sederhana ini, saya ingin mengutip kata-kata dari Paus Fransiskus dalam anjuran apostolik ini: “...I have preferred not to cite the Final Document in this Exhortation, because I would encourage everyone to read it in full” (n.3).

Oleh: Pater Doddy Sasi CMF
×
Berita Terbaru Update