-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CATATAN SEJARAH; Belajar dari Hitler dan Mahatma Gandhi

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:30 WIB Last Updated 2021-08-30T05:30:07Z

Pada tahun 1939, sosok Mahatma Gandhi menggemparkan Eropa prihal suratnya yang ditujukan kepada Hitler. Asal diketahui, ketika berita sampai kepadanya bahwa Hitler telah menginvasi Cekoslowakia, dia menulis surat kepada diktator Jerman tersebut dan memintanya untuk berhenti.  

Gandhi menulis surat kurang lebih demikian isinya, “Cukup jelas bahwa anda hari ini adalah satu-satunya orang di dunia yang dapat mencegah perang yang telah engkau pindahkan umat manusia ke keadaan yang biadab. Haruskah anda melakukannya betapapun berharganya hal itu bagi anda." 

Tidak diketahui apakah surat ini sampai di tangan Hitler atau bahkan mungkin tidak pernah meninggalkan India. Tetapi jika Hitler membacanya, dia mungkin mengabaikannya. 
Terbukti, hanya beberapa minggu kemudian, pada bulan September, ia menginvasi Polandia sekaligus memicu pecahnya Perang Dunia ke-2 dari tahun 1939-1945. 

Usaha Gandhi tidak berhenti di situ. Setahun kemudian, Gandhi mencoba lagi. Kali ini dia menulis surat yang lebih rinci dan beralasan, memohon Hitler untuk “menghentikan perang atas nama kemanusiaan.” Gandhi menegur Hitler atas invasinya ke negara-negara lain, yang dia sebut mengerikan dan merusak martabat manusia. Namun sekali lagi, tidak diketahui apakah Hitler membaca surat kedua Gandhi. 

Salah satu alasan mengapa interaksi Gandhi dengan Hitler begitu penting adalah karena sebagai manusia mereka adalah dua kutub yang berlawanan, berdiri pada titik ekstrem yang berlawanan dari rangkaian luas sifat manusia. 

Betul Gandhi tidak sempurna, tetapi dalam banyak hal dia adalah manusia yang luar biasa. Filosofi berpikirnya yang anti kekerasan dan kapasitasnya untuk altruisme dan pengorbanan diri (seperti yang dicontohkan oleh puasa publiknya yang membawanya hampir mati), jelas ia mewakili cita-cita kebaikan.  

Dalam kesediaannya untuk mengorbankan keinginan dan kepentingannya sendiri (dan bahkan hidupnya sendiri) untuk prinsip-prinsip keadilan dan perdamaian universal, ia mewujudkan spiritualitas murni yang tidak mementingkan diri sendiri. 

Sebaliknya, Hitler mewakili keadaan pemutusan hubungan yang ekstrem. Tanpa kapasitas empati, dia tidak dapat membentuk ikatan emosional dengan orang lain, dan melihat orang lain sebagai sesuatu yang tidak lebih dari objek.
  
Dia adalah sosok yang brutal, orang yang sangat terputus, benar-benar tenggelam dan terpisah. Dia tidak bisa merasakan penderitaan orang lain atau melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Dia tidak dapat melihat melampaui keinginan dan ambisinya sendiri. Tidak peduli dengan hak orang lain atau tentang penindasan atau ketidaksetaraan.  

Dari sini kita belajar, bahwa apa yang biasanya kita sebut sebagai kebaikan manusia dengan aspek-aspek seperti kebaikan, altruisme, keadilan, dan keadilan  adalah hasil dari kemampuan untuk berempati, merasakan penderitaan orang lain dan mengambil perspektif mereka. 

Sebaliknya apa yang biasa kita sebut sebagai “kejahatan” manusia dengan aspek-aspek seperti kebrutalan, kekejaman, eksploitasi, dan penindasan adalah hasil dari keterputusan. Perilaku jahat berasal dari perasaan diri yang sangat individual dan terputus yang tidak memiliki kapasitas untuk berempati. 

Pastilah perilaku kita berfluktuasi dari hari ke hari. Ada saat-saat kita merasakan empati dan kasih sayang dan bertindak tanpa pamrih. Namun di saat-saat tertentu kita terputus dengan orang lain. Kita sibuk dengan kebutuhan dan keinginan kita sendiri dan bertindak egois dan kejam. 

Semua ini memberi kita ukuran yang baik dan jelas dari perilaku dan karakter manusia. Ini juga memberi kita tujuan untuk pengembangan pribadi dan spiritual kita. 

Kita harus bergerak lebih jauh dari keterpisahan dan kekejaman, dan berlari menuju kebaikan serta berbaring satu sama lain di suatu tempat dengan atap kasih sayang.

Oleh: Pater Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update