-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kebijaksanaan Sekolah Katolik

Minggu, 22 Agustus 2021 | 15:47 WIB Last Updated 2021-08-22T08:47:42Z

Kasus “pembubaran” proses belajar mengajar yang terjadi di salah satu sekolah Katolik di Kabupaten Sika, menjadi pembelajaran kita bersama. Bahwa kemudian ada tindakan “represif dan terkesan kasar” dari pihak Satpol PP Kabupaten Sika terhadap para siswa memang tidak bisa dibenarkan.

Namun jika hanya melihat serta mengutuk tindakan Satpol PP yang menurut pihak sekolah dan beberapa organisasi kemasyarakatan yang terkesan “represif dan kasar” juga tidak bijaksana. Pihak sekolah sendiripun harus bisa merefleksikan dan menilai tindakannya yang kemudian berujung pada pembubaran.

Dalam catatan dan fakta sejarah, lembaga-lembaga pendidikan Katolik dimanapun berada dikenal dengan kedisiplinan dan ketaatannya. Keunggulan lembaga-lembaga pendidikan Katolik tidak hanya menyangkut soal intelektual namun juga moralitas yang salah satunya ada kedisiplinan.

Artinya orientasi pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan Katolik tidak hanya berorientasi pada kemampuan intelektual namun lebih dari itu adalah kebijaksanaan yang dalam hal ini adalah kedisiplinan. Apalagi jika pengelolah lembaga pendidikan tersebut adalah para imam, suster, bruder maupun frater kekal maka pengembangan mental kedisiplinan dalam usaha pencarian kebijaksanaan menjadi salah satu prioritas.

Situasi pandemi covid 19 yang dihadapi seluruh dunia termasuk di Indonesia adalah situasi luar biasa yang menantang sekaligus menuntut semua pihak untuk bersikap dan bertindak bijaksana demi kebaikan bersama. Artinya setiap tindakan yang hendak diambil dan dilaksanakan menjadi sebuah keharusan mengedepan keselamatan masyarakat luas semata-mata demi kebaikan bersama.

Di Indonesia sendiri terutama NTT yang menjadi penyumbang ketiga kasus covid 19 terbanyak di Indonesia telah mendapat peringatan keras dari Presiden Jokowi melalui  Gubernur NTT agar berusaha sekuat tenaga menurunkan angka kasus covid 19 di NTT termasuk di Kabupaten Sika yang kasus covid 19nya cukup banyak menjadi tantangan bagi kita semua terutama tantangan terhadap kedisiplinan dan kebijaksanaan semua pihak untuk sejenak menanggalkan keegoisan masing-masing.

Dalam situasi seperti ini, kita semua memiliki tanggungjawab moral untuk ikut ambil bagian di dalam memutus mata rantai penyebaran covid 19 di seluruh Indonesia secara khusus di wilayah NTT.

Pendidikan sangat penting dalam rangka membangun Indonesia yang tangguh dan tumbuh dimana melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang cerdas namun juga yang memiliki kwalitas moral yang memadai pula. Indonesia yang tangguh dan tumbuh tidak hanya menggantungkan diri pada kecerdasan dan kepintaran intelektual tetapi juga pada kebijaksanaan itu sendiri dimana membimbing para terdidik untuk sampai pada semangat menghargai keselamatan orang lain yang sejalan dengan nilai-nilai moral yang dihayatai secara pribadi agar semakin mengasihi Allah dan sesama (bdk. Gravissium Educationis. 2). Kebijaksanaan itulah yang pada gilirannya melahirkan sumber daya manusia yang cerdas.

Sebagaimana dalam Gravissium Educationis.3 bahwa pendidikan merupakan pewartan jalan keselamatan, menyalurkan semangat hidup Kristus agar hidup mereka yang dididik diresapi semangat Kristus maka dalam konteks pandemi hari ini, spiritualitas pendidikan model ini yang senantiasa diberikan kepada para siswa. 

Bahwa pendidikan itu sangat penting namun situasi hari ini berbicara lain. Dan dalam situasi seperti ini maka semangat penyangkalan diri Yesus (bdk. Mrk. 14:36) sejatinya juga menjadi semangat penyaliban keegoisan setiap lembaga pendidikan Katolik untuk bertahan dalam kesabaran semata-mata untuk kebaikan bersama.

Kita tidak perlu membandikan pasar dengan sekolah. Berhentilah untuk mencari kesalahan dan saling mempersalahkan. Kita bisa belajar pada sikap Gereja di mana semua umat memiliki kerinduan untuk mengikuti misa secara langsung namun karena belas kasih (bdk. Mat 12:7) menjadi hukum tertinggi sehingga harus mengikuti misa secara online.

Masa pandemi ini sejatinya juga menantang para siswa untuk secara kreative dan mandiri dalam belajar. Meskipun proses belajar mengajar secara online, namun jika menyadari bahwa belajar tidak semata-mata untuk kepandaian intelektual namun juga mencari dan menghidupi kebijaksanaan maka ia akan dengan bijak dan taat serta disiplin mengikuti pelajaran meskipun secara online.

Dan jika menghendaki proses belajar mengajar secara tatap muka, sebaiknya dilakukan terlebih dahulu pembicaraan dengan Kementrian Pendidikan, Komisi Pendidikan KWI, para Uskup setempat, Gubernur, Dinas Pendidikan, Bupati, serta petugas gugus covid 19 setempat. Jangan sampai terkesan kita lebih menampilkan keegoisan dan kesombongan kita sebagai lembaga pendidikan Katolik yang mengabaikan kebijaksanaan, kedisiplinan dan ketaatan untuk kebaikan bersama.

Manila: Agustus 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update