-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kemerdekaan Sejati:Melaksanakan Kewajiban Sebagai Prasyarat Pemenuhan Hak (Mat 22:15-21)

Minggu, 22 Agustus 2021 | 15:49 WIB Last Updated 2021-08-22T08:50:13Z

Merdeka! Itulah pekik yang setiap saat kita dengarkan pada perayaan ulang tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Kita semua merasa bahwa merdeka berarti bebas dari setiap bentuk penjajahan dan bebas untuk berekspresi.

Pemahaman akan kemerdekaan sebagai bebas dari dan bebas untuk, justru membuat banyak orang menjadi sebebas-bebasnya yang pada gilirannya melahirkan “penjajahan” baru dalam bentuk bullyan, hinaan, makian, fitnah dan cemoohan pada orang lain. Banyak orang kemudian menganggap hal ini biasa dan wajar sebagai ekspresi kemerdekaan atau kebebasan.

Maka kalau ada pihak yang dihukum karena menyebarkan ujaran kebencian, SARA, fitnah, cemooh dan makian dianggap sebagai bentuk tindak ekspresif penguasa dan diskriminasi atau kriminalisasi kebebasan berekspresi. 

Setiap orang merasa memiliki hak yang sama untuk melakukan apapun sekalipun kadang di dalam pelaksanaan hak tersebut justru merugikan orang lain maupun pihak tertentu bahkan karena tuntutan pemenuhan hak itu seringkali menimbulkan kegaduhan dan keributan di ruang-ruang publik. Atas alasan hak sebagai pemaknaan dari kemerdekaan itu sendiri, seringkali kita jumpai yang salah dibela habis-habisan hanya karena sakit hati politik atau karena takut kehilangan pamor.

Kenyataan yang kita jumpai di tengah masyarakat, seringkali juga kita jumpai di dalam kehidupan menggereja. Sebagian umat merasa yang paling berhak untuk dilayani, apapun alasan entah sakit dan kesibukan imam tidak peduli. Jika karena kesibukan tertentu dan tidak terlayani maka yang terjadi adalah penghakiman melalui cerita-cerita buruk tentang pastor.

Tidak hanya umat, namun kami para pastor juga mungkin jatuh dalam pelaksanaan hak yang keliru. Bisa jadi karena alasan hak (kebebasan) maka meskipun berkotbah sambil joget ataupun mengenakan kasula sambil tik tok-an dianggap wajar dan biasa. Atau hanya untuk memenuhi hak umat yang mengikuti perayaan Ekaristi biar “tidak bosan dan mengantuk”, segala kreativitas ditampilkan oleh imam entah berkotbah sambil jalan walapun secara liturgi sang imam tahu dan sadar itu adalah keliru.

Mengapa situasi seperti ini bisa terjadi baik di dalam lingkungan masyarakat maupun Gereja? Mengapa kita kerap jatuh dalam pelaksanaan hak yang keliru? Karena kita sendiri lupa akan kewajiban kita. Banyak dari kita menuntut pemenuhan hak namun tidak mau melaksanakan kewajiban kita. 

Banyak orang protes terhadap pelaksanaan PPKM karena hak untuk bisa kemana-mana dikekang. Namun saat diminta untuk melaksanakan kewajiban dengan mengikuti protokol dan mentaati aturan banyak yang mundur, mengeluh dan protes.

Hak-hak kita hanya bisa terpenuhi; hak untuk dihormati, dihargai dan didengarkan ketika kita sendiri juga sudah mampu melaksanakan kewajiban kita untuk menghormati, menghargai dan mendengarkan orang lain secara sopan dan ramah.

Artinya pelaksanaan kewajiban dari kita secara setia menjadi prasyarat utama terpenuhinya hak-hak kita. Dan itu adalah kemerdekaan sejati, dimana kita semua memiliki tanggungjawab dan kewajiban untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan bangsa kita menuju Indonesia yang tangguh dan tumbuh untuk terpenuhinya hak-hak kita sebagai masyarakat yang berperikemanusiaan dan berkeadilan sosial.

“Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar, dan kepada Allah apa yang kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21) adalah ajakan Yesus untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai prasyarat untuk mendapatkan ruang melaksanakan hak-hak kita. 

Kita bisa hidup sebagai manusia yang merdeka dari belenggu dosa, karena Yesus secara taat melaksanakan kewajiban-Nya yaitu menerima dan memikul salib hingga wafat di kayu salib. Hak keselamatan yang sudah kita terima ini hanya bisa memerdekakan kita selamanya jika kitapun melaksanakan kewajiban kita sebagai pengikut-Nya secara setia dan taat yaitu: bertobat dan menaati kehendak Allah. Amen.

Manila: Agustus 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update