-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Keserakahan

Minggu, 22 Agustus 2021 | 16:46 WIB Last Updated 2021-08-22T09:46:05Z
Kemiskinan menginginkan banyak hal tetapi keserakahan segalanya. Ya, keserakahan adalah lubang tak berdasar yang melelahkan orang dalam upaya tanpa akhir untuk memenuhi kebutuhan tanpa pernah mencapai kepuasan. Poin terburuk keserakahan adalah tidak tahu berterima kasih. Ketidaksempurnaan yang mengotori pikiran. 

Keserakahan secara tradisional dianggap sebagai satu dari tujuh dosa berat, mematikan [KGK 1866 ]. St Thomas Aquinas mengatakan bahwa keserakahan adalah "dosa terhadap Tuhan" karena manusia mengutuk hal-hal yang kekal demi hal-hal duniawi.  

Keserakahan bisa dirupakan dengan tindakan pengkhianatan untuk keuntungan pribadi, penimbunan materi, pencurian, perampokan, pembajakan dan skema penipuan yang dirancang untuk memanipulasi orang lain secara tidak jujur ​​demi keuntungan pribadi.  

Keserakahan dan kerakusan berhubungan erat dengan apa yang disebut Buddha Gautama sebagai  "kemelekatan berlebihan" pada dunia material dan kesenangannya yang merupakan akar dari semua penderitaan manusia.  

Keserakahan adalah tentang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki, selalu menginginkan dan mengharapkan lebih. Ini adalah rasa lapar yang tak terpuaskan. Suatu bentuk kerakusan yang mendalam.  

Keserakahan tumbuh dari keegoisan, bergerak menuju pembangkangan, mengandung ketidaksadaran diri dan melahirkan anak-anak pecandu. 

Seorang yang serakah adalah pecandu. Asal diketahui, pecandu selalu menginginkan lebih  yang membuat mereka terbang tinggi, memberi mereka kesenangan, memungkinkan berlari dari kecemasan dan penderitaan.   

Seorang yang serakah dengan rakus mendambakan apa yang disediakan oleh narkoba, seks, perjudian, makanan, pornografi, internet, televisi, ketenaran, kekuasaan atau uang.  

Bagi kita sangat mudah dan nyaman untuk mengutuk keserakahan yang kita lihat di sekitar kita. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja kesuksesan dan uang. Tapi jangan lupa bagaimana dengan keserakahan yang ada di dalam diri kita. 

Bukankah kita semua serakah dalam beberapa hal.  Saat kita menyangkal dan memproyeksikan keserakahan kita sendiri itulah yang paling berbahaya. Jadi pertama-tama, kita harus menyadari bahwa kita semua memiliki keserakahan untuk sesuatu. Itu adalah sifat asali manusia.  

Tidak ada formula ajaib untuk mengubur keserakahan.  Dibutuhkan ketekunan untuk mencari jati diri. Proses halus ini dimulai dengan mendengarkan lebih hati-hati dan teratur pikiran, perasaan, impuls, persepsi, dan kebutuhan batin kita sendiri.  

Di samping itu, hormat dan respek pada diri sendiri dapat memberikan obat penawar yang ampuh untuk keserakahan, kerakusan, ketamakan, dan kecanduan. 

Menghormati diri bukan dalam arti bertindak egois untuk hal-hal yang serakah tetapi menghormati martabat kehidupan yang diberikan Tuhan sehingga menuntun dan membimbing diri sendiri menuju kehidupan yang lebih membumi, seimbang, dewasa, bermakna dan spiritual. 

Oleh: Pater Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update