-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEDIA, PLAGIARISME, DAN KEBENARAN YANG KABUR

Minggu, 22 Agustus 2021 | 14:50 WIB Last Updated 2021-08-22T07:50:45Z
"Media plagiat berseliweran saat ini, masih  layakkah disebut karya jurnalistik", tulis Rioashley Hunter dalam akun facebook pribadinya, Rabu (11/8/2021). Ini sebuah gugatan sekaligus sebuah otokritik (mengingat sang pemosting adalah seorang jurnalis juga) bagi pekerja pers saat ini. Apakah kita masih bangga menyebut diri 'jurnalis' ketika produk berita yang dihasilkan lebih banyak 'menjiplak' teks berita orang lain? Atau seperti yang ditulis saudara Rioashley Hunter di atas, apakah karya plagiasi itu masih pantas disebut karya jurnalistik?

Membaca postingan pendek ini, saya berguman dalam hati. Jika media berwatak plagiat berseliweran, berarti jurnalis bergaya plagiat juga banyak. Ini sebuah 'kabar buruk'. 

Rupanya, kultur plagiarisme dalam dunia akademik sudah merambah ke segala bidang, termasuk jurnalisme. Jika para akademisi, penulis, dan jurnalis saja tak malu 'memplagiasi' karya orang lain, maka  apalagi 'khalayak umum' yang awam dengan dunia kepenulisan, kasusnya bertambah runyam.

Padahal, hampir saban hari para jurnalis bergaul dengan dunia 'memproduksi teks berita'. Menulis teks bergenre jurnalistik merupakan pekerjaan (profesi) utama mereka. Lalu, mengapa aksi plagiarisme masih marak diperagakan oleh para pekerja media?
Aktus plagiarisme dalam penulisan berita 'semakin menjamur dan vulgar' saat ini. Mental jalan pintas (terabas) dalam menghasilkan karya jurnalitis kian menguat seiring berlakunya semboyan 'kecepatan' lebih utama ketimbang akurasi. Efeknya adalah jurnalis tak bisa menghindar dari godaan untuk 'mencuri' naskah berita media lain tanpa sebuah pertanggungjawaban yang kredibel.

Kalau kita membaca secara teliti konten berita dari beberapa media daring, maka bukan hal asing kita menjumpai 'kemiripan bahkan kesamaan' gaya penulisan dan isi berita.

"Kemiripan dan kesamaan" itu begitu kentara ketika beberapa media "memuat press release" dari lembaga tertentu. Saya menduga sumber teksnya hanya satu. Jurnalis dari beberapa media tinggal 'meng-copy paste' teks berita yang sama.

Sebetulnya, jurnalis itu bukan 'tukang jual berita semata'. Jurnalis adalah pewarta kebenaran. Karena itu, seorang jurnalis mesti mengikuti kaidah penulisan jurnalistik yang benar agar cahaya kebenaran sebuah peristiwa tersingkap dengan jelas. 

Kejujuran dan keterbukaan pada realitas faktual mesti dijunjung tinggi oleh seorang juru warta. Karena itu, wartawan tidak boleh 'malas' meliput berita. Pastikan kegiatan peliputan itu tembus sumber dan tidak menyimpang dari rambu etis penulisan jurnalistik.

Oleh: Sil Joni
×
Berita Terbaru Update