-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Mencontoh Imam, Biarawan, Biarawati KatolikYang Lahir Maupun Pindah Dari Agama Lain

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:21 WIB Last Updated 2021-08-30T05:21:57Z
Di dalam Gereja Katolik sendiri, banyak juga yang menjadi anggota baru Gereja setelah hijrah dari agama yang dianut sebelumnya. Bahkan dari mereka yang masuk kedalam Gereja Katolik banyak juga yang kemudian menjadi imam, bruder, suster dan frater kekal.

Meskipun kemudian menjadi seorang imam, proses untuk menjadi anggota resmi Gereja Katolik wajib dilalui dalam masa persiapan yaitu empat tahap persiapan: masa pra-katekumenat, masa katekumenat, upacara penerimaan sakramen baptis, dan masa mistagogi.

Empat tahap persiapan ini wajib dilalui oleh mereka yang adalah calon anggota baru Gereja Katolik yang hendak melaksanakan penerimaan baptisan dewasa. Dalam masa persiapan ini, para calon dibimbing dan dibekali dengan ajaran-ajaran iman resmi Gereja agar iman mereka semakin diteguhkan, pengenalan akan Kristus semakin terang dan motivasi semakin dimurnikan.

Dan yang paling penting juga bahwa setiap orang yang pindah dari agama lain dan menjadi anggota resmi Gereja Katolik tidak serta merta bisa dipanggil sebagai seorang imam, suster, bruder maupun frater kekal. Karena untuk menjadi seorang imam, suster, bruder dan frater kekal harus adalah anugerah panggilan Allah sendiri dan bukan kehendak pribadi yang kemudian dihidupi dan dijalani melalui proses pembinaan dan pendidikan tertentu.

Termasuk dalam hal memberikan kotbah atau homili. Meskipun seorang suster yang belajar Teologi tidak berarti ia bisa memberikan kotbah atau homili. Karena homili maupun kotbah selalu berhubungan dengan perayaan Liturgi yang salah satunya adalah Ekaristi, maka hanya imam yang bisa memberikan kotbah ataupun homili. Awam dalam hal ini pro diakon atau seorang suster, bruder maupun frater hanya bisa memberikan homili maupun renungan dalam konteks ibadat sabda setelah mendapat ijin dari Pastor Paroki.

Ditengah gelombang fitnah dan penistaan agama yang terus melanda bangsa dan kebanyakan pelakunya adalah oknum “pindahan”, saya tertarik untuk mengangkat dan mengapresiasi keteladanan para imam Katolik, biarawan dan biarawati yang juga kebanyakan berasal dari keluarga yang beragama lain atau merupakan “pindahan” dari agama lain namun tetap menghargai agama mereka sebelumnya termasuk agama orang tua mereka.

Dalam perjumpaan dengan mereka, tidak pernah mereka mengutak-atik dan mempersoalkan agama yang mereka anut sebelumnya, termasuk agama dan Kitab Suci orang tua dan keluarga mereka yang sekarang sudah berbeda dengan agama dan Kitab Suci mereka sebagai imam, biarawan maupun biarawati Katolik. Mereka tetap menghargai dan menghormati agama yang mereka anut sebelumnya, tidak menjelekan dan tetap menjaga silaturahmi yang baik dengan keluarga mereka yang berbeda secara agama.

Penghormatan maupun penghargaan dari anggota Gereja yang merupakan pindahan dari agama lain seperti juga para imam, suster, bruder dan frater kekal pertama-tama karena motivasi mereka untuk pindah. Motivasi mereka pindah pertama-tama karena pengalaman iman akan Yesus Kristus yang mereka alami sendiri dalam hidup mereka maupun karena kesaksian hidup dan iman umat Katolik yang mereka jumpai. 

Jadi bukan karena alasan soal ajaran iman agama yang mereka anut sebelumnya yang kemudian dibandingkan dengan ajaran iman Gereja Katolik. Tidak! Pertama dan utama karena pengalaman iman akan Yesus Kristus, maka jelas bahwa Yesus dengan segala ajaran dan keteladan-Nya menjadi pusat hidup iman mereka, sehingga yang mereka hidupi dan laksanakan adalah ajaran dan keteladanan Yesus.

Hal lain yang menentukan kualitas hidup mereka sebagai seorang Katolik yang tidak pernah jatuh dalam fitnah dan penisataan terhadap agama yang mereka anut sebelumnya adalah Pendidikan dan formasi yang diberikan termasuk yang dijalani oleh para imam, suster, bruder dan frater kekal.

Untuk menjadi seorang imam maupun biarawan dan biarawati, wajib melalui proses pembinaan dan pendidikan yang panjang disamping untuk pemurnian motivasi tetapi juga untuk penyembuhan luka bathin untuk sampai pada sikap memaafkan dan menerima, termasuk memaafkan masa lalu dan menerima kenyataan akan kehidupan baru yang sudah berbeda dengan sebelumnya.

Disamping pembinaan dan formatio yang dijalani dalam kurun waktu yang sangat panjang, pendidikan yang cukup panjang bagi seorang calon imam juga ikut menentukan pengembangan wawasan yang metodis, sistematis, kritis dan reflektif. 

Ajaran teologi dan filsafat dari agama-agama lain ikut dipelajari agar calon imam tersebut memiliki kemampuan untuk menghargai dan menghormati perbedaan termasuk agama yang dianut sebelumnya dengan tetap menjaga sikap kritis dan reflektif. Ajaran teologi dan filsafat agama lain yang dipelajari bukan menjadi senjata untuk menyebarkan fitnah dan penistaan melainkan menjadi jalan untuk menemukan kebaikan dalam ajaran agama yang lain hingga sampai pada sebuah penghargaan dan penghormatan. 

Pembinaan dan pendidikan panjang yang fokus pada ajaran dan teladan Yesus Kristus, pada akhirnya melahirkan para imam, biarawan dan biarawati yang sebelumnya beragama lain jauh dari penyebaran fitnah dan penistaan.

MEREKA PANTAS UNTUK DICONTOH DAN DITELADANI!!

“Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan.” (2 Kor 10:5).

Manila: 29-Agustus 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update