-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pandemi Covid-19 dan Elitisme

Minggu, 22 Agustus 2021 | 21:20 WIB Last Updated 2021-08-22T14:21:15Z
                                                 Ilustrasi: mediaindonesia

Oleh: Jondry Siki, CMF
(Tinggal di Seminari Hati Maria Claretian Kupang)

Beberapa pekan lalu sejumlah warga NTT memprotes pelakuan khusus atas jenazah Bupati Lembata, Eliazar Yentji Sunur. Protes tersebut bermula dari keputusan pihak rumah sakit Siloam Kota Kupang yang mengizinkan pemulangan jenazah Bupati Lembata ke kediamannya di Nubatukan, Lembata. Warga mencium aroma ketidakadilan Rumah Sakit dan Pemerintah Daerah mengurus proses pemakaman jenazah pasien Covid-19 sebab Bupati Lembata meninggal akibat terpapar Covid-19.
Warga NTT menuntut agar jenazah Bupati Sunur tetap dikuburkan di Pemakaman Umum khusus Covid-19 Fatukoa, Kota Kupang. Peristwa  serupa terjadi lagi. Kali ini adalah mantan Ketua DPRD Kabupaten TTU, Pak Frengky Saunoah yang dikabarkan meninggal di Rumah Sakit SK Lerik Kota Kupang karena terpapar Covid-19 pada hari Sabtu, 31 Juli 2021, dikabarkan telah dipulangkan ke TTU.

Dilansir dari berandanusantara.com, diberitakan bahwa jenazah Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten TTU dipulangkan ke kampung halamannya untuk dimakamkan. Pemulangan jenazah para pejabat daerah ke kampung halamnya khusus wilayah NTT kembali terulang. Yang mana sebelumnya adalah Bupati Lembata. Pertanyaan sederhana bagi kita, apakah ada aturan khusus bagi para pejabat untuk tidak dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Khusus Covid-19. Alih-alih menilai bahwa saat ini kita sedang terperangkap dalam budaya elitisme.

elitisme adalah suatu paham yang memandang kaum elit politik dan pejabat lebih tinggi derajatnya daripada rakyat jelata. Pemahaman ini bukan tanpa bahaya sebab saat ini banyak keluarga, sanak saudara mereka yang meninggal karena terpapar Covid-19 dikuburkan secara diam-diam di pemakaman Covid-19 di mana mereka meninggal. Ketidakadilan dalam penanganan jenazah Covid-19 memicuh warga melakukan tindakan tak terpuji dengan mengambil jenazah Covid-19 di rumah sakit secara paksa.
Warga telah melihat dan mencium budaya elitisme dalam proses penguburan jenazah Pasien Covid-19. Miris melihat jenazah pejabat diperlakukan khusus sementara jenazah rakyat jelata diperlakukan dengan tidak hormat sekurang-kurangnya  penghormatan terkahir  keuarga dengan mendoakan sanak saudara yang meninggal. Rakyat seoalah-olah dibodohi dengan aturan pemakaman jenazah pasien Covid-19.

Dua  jenazah pasien Covid-19, Eliazar Yentji Sunur  dan Frengky Saunoah menjadi menjadi gambaran suram keadilan bagi rakyat dalam proses pemakaman jenazah pasien Covid-19. Perbedaan cara perlakuan terhadap jenazah pejabat memicu konflik antara pemerintah dan rakyat. Perlakuan ini kemudian memudarkan rasa percaya rakyat kepada pemerintah yang bertidak elitis.

Banyak warga mempertanyakan keistimewaan jenazah kedua pejabat ini yang tidak dikuburkan di TPU khusus Covid-19 Fatukoa, Kota Kupang. Sanak saudara yang keluarganya meninggal karena terpapar Covid-19 dan dimakamkan bersama jenazah pasien Covid-19 yang lain tidak akan tinggal diam. Keadilan harus sungguh-sungguh ditegakan. Seolah-olah tempat pemakaman umum khusus Covid-19 hanya diperuntukan bagi rakyat jelata sedangkan bagi para elit tidaklah demikian.

Elitisme pandemi menjadi suatu pentas politik untuk menunjukan bahwa kaum elit dan pejabat derajatnya lebih tinggi dari rakyat biasa. Peristiwa ini kemudian menciptakan satu jurang yang tak terseberangi antara rakyat dan pejabat. Kita hanya menuntut keadilan bagi segenap warga sebab pandemi ini menjangkit semua orang tanpa melihat apakah  itu pejabat, rakyat, orang baik ataupun orang jahat. Di hadapan pandemi, semua sama.  

Elitisme adalah virus yang harus dibasmi dari kehidupan bersama sebab bahayanya tidak hanya mematikan tubuh manusia tetapi juga menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa. Kita terus berjuang melawan elitisme dalam semua bidang kehidupan dengan vaksinasi  keadilan dan kesederajatan sebab tanpa keduanya, kaum elit akan merasa derajatnya lebih tinggi.

Mari kita basmi virus elitisme dengan menjunjung tinggi nilai ketuhananan, kemanusiaan, persatuan, kebijaksaan dan keadilan   sebab di hadapan hukum kita sama dan sederajat. Kembalikan keadilan kepada kemanusiaan sebab kemanusiaan adalah agama universal di mana ia melampaui segala sekat suku, bangsa, bahasa, ras dan agama. Rawatlah negeri ini dengan keadilan demi Indonesia yang sehat dan tangguh. 
×
Berita Terbaru Update