-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sahabat Pak Menteri Agama RI Dan Pak Kapolri RI Saling Menista Agama: Bukti Kegagalan Formatio (Pembinaan)

Senin, 30 Agustus 2021 | 12:19 WIB Last Updated 2021-08-30T05:19:29Z
Muhammad Kece, seorang yang pindah dari agama Islam ke denominasi gereja tertentu ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan dengan tuduhan kasus penistaan atau penodaan agama (detiknews; “Momen Penangkapan Muhammad Kece di Bali”, 25/8/2021).

Banyak pihak yang kemudian mendukung Muhammad Kece karena yang dilakukan oleh Kece dilihat sebagai sebuah pembelaan iman dari serangan dan fitnah pihak lain terhadap agama yang berada dalam satu payung bersama yang disebut “Kristen.” 

Dukungan ini terjadi dengan alasan adanya diskriminasi dalam penegakan hukum terhadap mereka yang mualaf seperti Yahya Waloni, dan mualaf lainnya atau seperti UAS, Riziq yang selalu menebarkan kebohongan dan kebencian terhadap agama yang mereka anut sebelumnya dan agama lain.

Orang-orang seperti mereka ini masih saja menempati panggung atas nama dakwah dan ceramah meski hanya sebagai tameng untuk menebarkan kebencian, kebohongan dan fitnah terhadap agama lain. Mereka sepertinya kebal hukum yang kemudian dipertegas dengan alasan tidak ada yang melapor. Walaupun saya sendiri percaya bahwa sudah banyak laporan dugaan penistaan agama terhadap mereka namun karena tidak ada tekanan dari pihak lain untuk memproses mereka secara hukum, maka mereka sepertinya di atas angin dan merasa benar serta wajar kebohongan dan penistaan yang mereka lakukan.

Saya sendiri sangat sepakat bahwa siapapun yang melakukan penistaan agama tetap harus diproses hukum sesuai dengan hukum yang berlaku. Namun menjadi tidak sepakat ketika proses hukum itu terlihat “berat sebelah” hanya karena tekanan mayoritas.

Kita harus jujur mengakui bahwa itu nyata terjadi. Ketika agama tertentu merasa bahwa agama mereka dinodai, maka semua orang turun gunung untuk melakukan protes, tekanan dan pelaporan. Sedangkan ketika agama lain yang difitnah oleh sekelompok orang yang seagama, sepertinya suara mayor yang memprotes dan menekan sepertinya tidak terdengar dan kasus pelaporanpun hanya menjadi sebuah berita tanpa proses penegakan yang jelas dan tuntas.

Dengan demikian, sekalipun Muhammad Kece dan juga seperti Joseph Paul Zhang ditetapkan tersangka dan ditahan, tidak akan pernah mengubah dan memutuskan mata rantai penistaan atau penodaan agama di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Alasannya, masih ada saja oknum mualaf yang hobinya menebarkan kebohongan, kebencian dan fitnah terhadap agam lain dibiarkan menguasai panggung baik media elektronik maupun cetak dan karena itu atas nama pembelaan ataupun balas dendam oknum agama lain terutama yang pindah dari Islam ke agama lain akan melakukan perlawanan dengan menista agama Islam.

Jika sistem “balas dendam” penistaan agama hanya dihadapi dengan proses hukum yang oleh sebagian orang terkesan “diskriminatif”, tidak akan mampu memutus mata rantai penyebaran penistaan dan penodaan agama di Indonesia.

Dibutuhkan langkah transformatif dan revolusioner untuk memutus mata rantai penistaan agama yaitu dengan sistem formatio atau pembinaan bagi mereka yang mualaf atau yang pindah ke agama lain. Karena harus diakui bahwa mereka yang mualaf atau yang pindah ke denominasi Protestan lainnya dengan “mudah” mendapatkan panggilan Ustadz ataupun Ustadza dan Pendeta hanya karena mereka memiliki pengikut dan menghafal Al-quran dan Alkitab dengan sedikit pengetahuan tafsir serta kealihan public speaking.

Untuk yang pindah menjadi seorang jemaat Protestan atau denominasi lainnya dan hendak menjadi seorang Pendeta maka PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia), jika gereja dari yang pindah itu masuk sebagai anggota PGI dalam kerjasama dengan Dirjen Bimas Protestan memberikan pendampingan dan pembekalan termasuk soal mental dan psikologi serta bidang homiletik. Jika yang pindah ke dalam salah satu gereja yang tidak termasuk anggota PGI, maka urusannya dengan kementrian Agama RI, karena kalau merujuk pada pengakuan agama di Indonesia hanya: Islam, Katolik, Protestan (anggota PGI), Hindu, Budha dan Kong Huchu.

Demikian juga bagi yang mualaf perlu pembinaan khusus oleh para Ulama dalam koordinasi dengan kementrian Agama RI dan Dirjen Bimas terkait. Termasuk dalam pembinaan ini perlu diberlakukan ketentuan Pendidikan yang membuat seorang layak menyandang panggilan Ustadz, Ustadza maupun Pendeta, serta sanksi ataupun hukuman bagi mereka yang dalam kotbah atau dakwah menista agama lain atau menebar kebencian: misalnya tidak diijinkan lagi memberikan kotbah atau dakwah.

Pentingnya Formatio atau Pembinaan ini dalam rangka menyadarkan mereka semua bahwa tugas seorang pengkotbah atau pendakwah adalah mewartakan kebaikan Allah dan bukan menebar kebencian yang berujung pada sikap balas dendam untuk saling menista. Selama proses hukum ditegakkan secara adil dan benar serta didukung dengan formatio yang memadai maka saya memiliki keyakinan bahwa mata rantai penistaan agama dapat diputus. Termasuk di dalam formatio ini, wawasan kebangsaan bisa disebarkan dan diajarkan kepada mereka.

Manila: 26-Agustus 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update