-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Sang MESIAS dan Sang BUDDHA

Minggu, 22 Agustus 2021 | 16:37 WIB Last Updated 2021-08-22T09:37:23Z

Secara pribadi ketika saya merenungkan tokoh-tokoh yang benar-benar besar dalam perjalanan sejarah manusia, dua nama sering datang ke pikiran: Yesus Nazareth dan Buddha Gautama.  Keduanya adalah tokoh historis yang diselimuti  cerita mengaggumkan, tak bertepi dalam balutan rasa, cinta, kesadaran, dan kebijaksanaan yang universal. 

Orang-orang di zamannya, menyebut bila keduanya memiliki DNA ilahi untuk mau mengatakan betapa spesialnya kehadiran mereka bagi dunia dan teristimewa bagi para pemeluk kedua agama. 

Tulisan ini tidak sedang membandingkan keduanya. Saya hanya berusaha menunjukkan salah satu wilayah perjumpaan ajaran yang dedemonstrasikan Yesus dan Buddha Gautama selama mereka hidup. 

Ya, sosok seperti Yesus dan Buddha Gautama menetapkan standar moral yang tinggi bagi perilaku manusia yang seringkali sulit dipenuhi oleh para pengikutnya masing-masing.  

Inti dari ajaran Yesus terbingkai indah dalam kata: KASIH, CINTA DAMAI dan KEBENARAN. Bila kita membuka beberapa catatan sejarah prihal hidup Yesus, pada saat orang Romawi menindas dan membunuh umat-Nya, Yesus menganjurkan para pengikutnya untuk “berbuat baik kepada mereka yang membencimu” dan “jika musuhmu lapar, beri dia makan.”

Lagi, di saat kehidupan manusia penuh dengan kebrutalan dan perang, Yesus menyatakan, “Berbahagialah orang yang membawa damai,” dan menasihati murid-Nya “Sarungkan pedangmu kembali ke tempatnya; bagi mereka yang hidup dengan pedang, akan mati oleh pedang.” 

Bagi kita tidak mudah untuk mencintai musuh; tidak mudah untuk memberikan pipi yang lain ketika seseorang menghina atau melukai hidup kita. Tidak mudah untuk menahan diri dari berbohong atau menyakiti hati orang lain. 

Dengan skema ajaran yang tak kalah heroik dalam Sūtra Vimalakīrti, Buddha Gautama berpesan bahwa di masa perang seseorang harus menumbuhkan pikiran cinta dan kasih sayang  dalam diri untuk membantu hidup atau nasib orang lain. "Tinggalkan keinginan untuk bertarung atau berperang", tegas sang Buddha. 

Demikian pula dalam salah satu teks Buddhis yang paling indah, Mettā Sutta, Sang Buddha menasihati "Seperti seorang ibu yang melindungi dengan nyawanya untuk keselamatan anaknya demikian pula seseorang harus memiliki hati yang tak terbatas untuk menghargai, merawat dan melindungi nyawa orang lain. 

Sang Buddha yang menghabiskan sisa hidupnya selama 45 tahun sebagai biksu dan pengembara, berbagi wawasan dan kebijaksanaan dengan orang lain, tanpa memandang kasta atau jenis kelamin mereka. Dia  merancang sejumlah praktik yang luar biasa untuk membantu orang memahami penderitaan dan untuk menunjukkan jalan menuju kedamaian. 

Seorang Kristiani dan Buddhis pasti menemukan jurang pemisah yang sangat besar antara ajaran yang diwariskan Yesus dan Buddha Gautama dengan tindakan kita, para pemeluk. Sering muncul ketidakharmonisan aspek iman dan tindakan. 

Mari menyadari bahwa ada kebenaran dalam semua tuduhan itu.  Tetapi saya percaya ada alasan yang lebih mendasar bahwa meskipun agama mengajarkan kasih dan kebenaran namun di tangan pemeluk agama menjadi religius itu justru sering menyebabkan berkurangnya kapasitas dan kualitas empati dan kasih sayang. Ini tantangan bagi kita.

Oleh: Pater Garsa Bambang MSF
×
Berita Terbaru Update