-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Beragama Dalam Bisu Seorang Atheis

Kamis, 16 September 2021 | 13:02 WIB Last Updated 2021-09-16T06:02:26Z
Kalau seorang atheis sekalipun diberi rejeki, kesehatan dan hidup oleh Allah sang Pemilik kehidupan ini, mengapa justru yang mengaku bergama dan beriman harus ribut dengan mengklaim yang paling benar dan yang lain sesat, mengklain hanya mereka yang paling Alkitabiah dan yang lain tidak bahkan harus mempersalahkan musik, anjing dan lainnya.

Bahkan mengaku beragama tetapi anjing yang tidak pernah salah pada manusia nama ia selalu disebut-sebut dalam kemarahan dan mulut kotor sang peziarah agama dan iman. Jika saja anjing bisa berbicara; anjing pasti bertanya “dia yang “anjing”, kok saya yang disalahkan”?

Karena merasa paling beragama dan beriman, orang lain yang tidak sejalan dan berbeda dengan kita adalah sesat dan tidak diselamatkan. Klaim surga memang terdengar begitu wangi kalau sudah dibungkus dengan agama. Bahkan hoax yang baunya anyir sekalipun tetapi kalau sudah dibungkus dengan balutan agama akan terasa wangi sehingga mampu memprovokasi kesempitan dan kekerdilan beragama dan beriman orang lain yang kemudian memunculkan kekerasan.

Kita bisa mengatakan bahwa para atheis tidak masuk surga, sedang kita sendiripun tidak tahu Kehendak Allah bagi mereka. Karena mereka nampaknya begitu bahagia, tenang dan damai dalam kehidupan mereka di dunia ini. Mereka nampaknya memiliki intelektual yang mumpuni dan harta kekayaan yang melimpah. Namun mereka sendiripun tidak pernah mengklaim keyakinan mereka sebagai yang paling benar dan yang beragama adalah sesat, serta tidak pernah menyombongkan ajaran mereka sebagai yang paling benar dan ajaran agama adalah sesat. Tidak pernah!

Sedang banyak orang bergama dan beriman yang sejatinya lebih menampakan kebahagiaan, sukacita, kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan bersama sehari-hari karena iman akan penyertaan Tuhan dan tentunya merasakan kehadiran Tuhan Yang Mahabaik, MahaKasih dan Penyayang secara lebih dekat dan personal, justru lebih menampakan frustrasi dan stres dalam tabiat yang menganggap sesat dan salah pada yang berbeda.

Sebagian orang beragama dan beriman lebih suka menjadikan agama sebagai pameran kesombongan bahwa empunya kebenaran dan surga adalah mereka dan promosi kekerasan serta sesat pada yang lain. Agama yang sejatinya menjadikan seseorang menjadi lebih rendah hati dan terbuka pada yang lain justru diperalat sebagai penghalang pintu hati dan pikiran untuk menerima perbedaan.

Diam seharusnya menjadi perhiasan iman orang beragama. Namun sepertinya itu berlaku pada mereka yang dianggap sesat dan atheis. Diam yang seharunya menjadi jalan refleksi yang melahirkan kebijaksanaan orang beragama, tapi sepertinya itu lebih nampak pada mereka yang selalu menjadi korban dari perbedaan yang dianggap kafir.

Pernah ada yang bertanya kepada saya;

“Padre, mengapa Padre bergaul dengan orang itu yang dikenal pemabuk, tukang kelahi dan selalu membuat banyak masalah di lingkungan dia?”

Saya menjawab; 

“Itulah orang yang mengaku beragama. Lebih melihat kesalahan, kekurangan dan keburukan orang lain, sedang orang yang berdosa akan selalu berpikir dan mencari jalan untuk mencapai surga yaitu pertobatan.”

“Orang beragama selalu merasa lebih dekat dengan surga walau dalam kenyataan lebih mesrah dengan kekerasan, kebencian dan fitnah. Sedang orang berdosa selalu berusaha untuk menjadikan pertobatannya sebagai jalan untuk merasakan dan menikmati surga.”

Dari orang yang dianggap berdosa bahkan dianggap sesat dan atheis sekalipun, saya belajar tentang beragama dan beriman sebagaimana Yesus, Sang Guru yang tidak menghakimi perempuan yang kedapatan berzinah (Yoh 8:11) ataupun Lewi (Luk 5:27-32) dan Zakheus (Luk 19:1-10) yang justru disapa dan dikunjungi oleh Yesus.

“Menghadapi hilangnya rasa akan Tuhan dan sukacita iman, tidak ada gunanya mengeluh, bersembunyi di balik selubung agama yang defensif, menghakimi dan menyalahkan dunia yang buruk. Kita membutuhkan kreativitas dalam beragama dan beriman.”

Manila: 15-September 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update