-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BERIMAN DI TENGAH ARUS KEHIDUPAN SEKULER

Rabu, 22 September 2021 | 14:15 WIB Last Updated 2021-09-22T07:15:37Z
Terlepas dari kenyataan bahwa sebagian besar manusia adalah religius, percaya pada Tuhan, menemukan penghiburan dalam doa, menggali kebijaksanaan dalam kitab suci, belajar bimbingan lewat para nabi, kenyamanan dalam ritual keagamaan dan inspirasi dalam hidup beriman, sebagian besar umat manusia memilih keluar dan berenang diarus yang berlawanan. 

Semakin banyak pria dan wanita menjalani hidup mereka tanpa banyak hal yang disediakan agama. Mereka tidak percaya pada tuhan. Tidak merasa perlu untuk diselamatkan. Mereka skeptis atau hanya acuh tak acuh dalam hal kitab suci.  

Mereka menganggap agama tidak menarik. Membosankan. Ritual keagamaan itu asing dan memalukan. Sebagian mereka menemukan bahwa agama dan politik itu mengkhawatirkan dan saling membajak satu sama lain. 

Belum lagi dalam hal pandangan pribadi mereka atas dunia; menghargai akal di atas iman dan sains di atas tahyul. Mereka menyimpan harapan untuk dunia ini, ketimbang dunia yang diakui di luar nalar. 

Sederhananya, kehidupan sekuler itu memanggil semua orang-orang yang SKEPTIS, SINIS dan PESIMIS untuk berkumpul. Seorang yang skeptis berarti seseorang yang pernah percaya dan dikecewakan. Dia enggan untuk percaya lagi. 

Orang Sinis berarti dia yang menolak untuk percaya karena merasa tertipu dan trauma. Sementara seorang pesimis adalah orang yang sinis yang baru saja lelah berjuang dan sekarang menyerah dan menarik diri. Dia menyerah untuk percaya. 

Sebagai orang beriman kita berlabuh di wilayah-wilayah seperti ini dan berjumpa dengan orang-orang di dalamnya. Mereka menjalani Kehidupan tanpa kepercayaan pada sesuatu yang supranatural – baik itu Tuhan, Yesus, neraka, keajaiban, jin, atau reinkarnasi.  

Menjadi sekuler berarti menjalani hidup di luar Gereja, Masjid, Sinagoga, Ashram, atau tembok kuil. Sebaliknya menemukan komunitas di tempat lain, merayakannya di tempat lain dan membesarkan anak-anak di lingkungan non-agama. 

Mereka tidak percaya dengan moral publik, juga yang dikumandangkan oleh agama-agama. Seorang yang sekuler mendasarkan etikanya berdasarkan kompas moral batinnya sendiri, hati nuraninya dan berusaha untuk memperlakukan orang lain sebagaimana dia ingin diperlakukan dirinya sendiri.  

Menyadari bahwa jumlah manusia yang diidentifikasi sebagai non-religius sedang meningkat dan bahwa fenomena ini menghasilkan sejumlah besar identitas, makna, dan pengalaman yang berbeda dalam hal ketidakberagamaan, menantang kita orang beriman untuk selalu waspada dan semakin menunjukkan daya tarik dan jati diri kita sebagai orang-orang beriman dan bermoral.

Oleh: P. Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update