-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Buat Sahabat Menteri Agama RI: Meluruskan Pemahaman Kristen Di Indonesia

Kamis, 09 September 2021 | 12:08 WIB Last Updated 2021-09-09T05:08:31Z

Dibeberapa channel youtube salah satunya adalah channel youtube Sajian Islam, ditampilkan gambar layar youtube seputar Gereja Katolik seperti Paus Fransiskus, Kardinal, Perayaan Ekaristi Katolik, Salib Yesus yang disertai dengan caption yang kasar dan terkesan menista agama Katolik.

Namun ketika tayangan youtube dibuka, yang muncul adalah debat Islam vs Kristen. Dimana yang terjadi adalah debat seorang ustadz dengan pendeta entah dari geraja dan agama mana tidak dituliskan. Hanya menuliskan nama pendeta.

Saya pertama-tama tidak mempersalahkan channel itu dengan keyakinan bahwa sang pemilik channel itu justru “dibingungkan” oleh kecenderungan oknum gereja denominasi lainnya yang menyamakan semua aliran kristiani dalam frame Kristen yang sejatinya dalam konteks Indonesia dalam nama Kristen itu terkandung beberapa gereja, dan yang tidak mau menyebut secara jelas, tegas dan terang agama dan gereja mereka yang sebenarnya.

Maka ketika ada oknum pendeta yang berdebat dengan oknum ustadz tanpa menyebutkan agama dan gerejanya secara tegas dan terang benderang dan hanya menggunakan kata Kristen, pikiran saudara-saudari kita umat Islam bahwa yang ikut dalam debat tersebut termasuk Gereja Katolik. Di sinilah persoalannya di Indonesia ketika aliran kristiani lainnya selain Katolik yang tidak menunjukan identitas keagamaan dan gereja mereka secara jelas dan tegas tetapi hanya menggunakan Kristen, maka satu hal buruk yang dilakukan oleh oknum yang berasal dari denominasi lain pada akhirnya merusak nama baik yang lain terutama Katolik sebagaimana dalam channel youtube Sajian Islam.

Pada awal abad pertama para pengikut Kristus disebut Kristen yang satu dan universal. Namun kita juga jangan lupa bahwa Kristen ini juga bersifat atau berciri Rasuli (Apostolik) yaitu yang mengimani Kristus karena pewartaan para Rasul yang diketuai oleh Petrus yang hingga hari ini diteruskan oleh Gereja Katolik dalam diri Paus sebagai penerus Petrus dan para Uskup sebagai pengganti para rasuk (bdk. (Ef 2:20; Kis 11:26; AG. 5; KGK. 857).

Dalam konteks Indonesia, tampaknya ada kecenderungan untuk menyamakan semua aliran kristiani dalam satu nama yaitu Kristen. Padahal sebenarnya dalam nama Kristen terkandung beberapa gereja seperti: Katolik, Protestan, Ortodox, Gereja Masehi Injili, Pentekosta, Gereja Kristen Jawa dan lainnya. Harus diingat pula bahwa meskipun sama-sama Kristen, ada perbedaan yang sangat signifikan terkait ajaran-ajaran Biblis dan Teologis dengan Katolik. Contoh: Pemimpin Gereja Katolik (Roma) adalah Paus. Disamping Paus ada para Uskup, Kardinal dan para imam dan diakon. Sebutan untuk para tokoh agama Katolik bukan Pendeta. Pendeta adalah panggilan untuk tokoh agama Protestan dan komunitas gerejani lainnya. Sedangkan dalam Katolik panggilan untuk para imam adalah: Pater, Pastor dan Romo. Ini untuk konteks Indonesia.

Supaya diketahui, baik Paus, para Uskup dan para imam Katolik tidak pernah melakukan debat Biblis dan Teologis serta dogmatis dengan teman-teman Islam ataupun agama lain. Yang selalu dilakukan adalah dialog iman dan kemanusiaan. Dialog iman artinya mengajarkan ajaran-ajaran Iman Katolik sebagai pewartaan dan kesaksian tanpa ada perdebatan didalamnya dengan agama lain. Dari dialog iman inilah lahir dialog kemanusiaan yaitu karya-karya kemanusiaan yang dilakukan oleh Gereja dengan agama lain.

Dalam Katolik, kata Gereja (G: kapital) menunjuk juga kepada agama Katolik yang berarti persekutuan umat beriman yang mengimani Kristus. Sedang gereja dalam konteksi ini adalah bangunan, rumah ibadah. Maka jika menemukan kata Gereja dengan G kapital itu menunjuka secara langsung pada agama dan Gereja Katolik.

Dalam konteks Indonesia, yang termasuk didalam Kristen sudah ada namanya sendiri-sendiri: Katolik, Protestan, Ortodox, Pentekosta, Advent dan lainnya. Maka dari itu sebagai bentuk penegasan identitas masing-masing alirang kristiani, di Indonesia ada dua wadah ke-Kristenan yaitu KWI (Konferensi Gereja Indonesia) yang mewakili keberadaan seluruh umat dan Gereja Katolik di Indonesia dan PGI (Persekutuan Gereja-gereja Indonesia) yang menjadi wadah bagi agama dan gereja-gereja Protestan termasuk komunitas gerejani lainnya yang tergabung di dalam PGI dan komunitas gerejani lainnya yang entah belum atau sedang berusaha untuk menjadi anggota PGI. 

Oleh karena itu akan menjadi rancu, khususnya dalam konteks Indonesia ketika Katolik disebut Katolik sedangkan yang lain disebut Kristen. Padahal Katolik sendiri adalah Kristen yang kalau mau jujur aliran kristiani lainnya sebelumnya adalah Katolik. Misalkan saja; pada KTP dalam kolom agama, beberapa yang dari kalangan komunitas gerajani lainnya tidak menuliskan dengan jelas agamanya tetapi hanya menuliskan Kristen. Dengan menuliskan Kristen saja, terjadi sebuah pengaburan karena dia bisa Kristen Katolik, Kristen Protestan, Kristen Ortodox atau lainnya.

Dengan hanya menuliskan Kristen pada kolom agama di dalam KTP, terjadi inkonsistensi atas agama yang dianutnya dan seakan agama yang dia miliki adalah semua agama yang berada dalam satu rahim yang disebut “Kristen” walaupun kalau kita mau jujur mengakui, kebanyakan gereja yang muncul di Indonesia sebelumnya adalah Katolik namun memisahkan diri dari Katolik atau dari komunitas gerejani lainnya yang kemudian berpisah.

Hal lain yang menunjukkan kerancuan adalah keberadaan Dirjen Bimas Kristen untuk agama atau gereja yang bukan Katolik. Pertanyaan kembali muncul adalah; “jika sudah ada Bimas Kristen, mengapa masih ada Bimas Katolik”?

Karena jika ada Bimas Katolik sebagai penegasan identitas umat Katolik Indonesia dan pengakuan pemerintah akan keberadaan umat Katolik di Indonesia, maka sejatinya dan merupakan konsistensi pengakuan pemerintah akan keberadaan agama Protestan dan komunitas gerejani lainnya di Indonesia, seharusnya Bimas merekapun bukan Bimas Kristen. Karena jika menggunakan Bimas Kristen maka umat Katolik Indonesia memiliki dua Bimas yaitu: Bimas Katolik dan Bimas Kristen, karena Katolik adalah dan berarti Kristen.

Jika alasan menggunakan Bimas Kristen adalah untuk menampung komunitas gerejani lainnya selain Protestan, tetap kabur dan rancu karena Katolik sendiri adalah Kristen. Maka agar hak-hak komunitas gerejani lainnya dilindungi, pihak PGI bisa memfasilitasi keanggotaan mereka dan nama Bimas tetap sesuai dengan nama agama yang diakui yaitu dengan ada tambahan Protestan: Bimas Kristen Protestan. Hal ini adalah semata-mata untuk menjaga kebaikan dan keutuhan saudara-saudari kita umat Protestan dan komunitas gerejani lainnya serta PGI agar tidak ikut terkena dampak buruk oleh perilaku oknum yang mengaku Kristen namun tidak berada dalam kesatuan dengan PGI.

Maka mari kita tidak usah malu untuk menunjukan identitas agama kita yang sebenarnya. Kita semua yang mengaku pengikut Kristus memang Kristen, namun di Indonesia ada namanya sendiri-sendiri. Menegaskan identitas keagamaan kita yang sebenarnya sebagaimana yang telah diakui secara resmi oleh negara Indonesia adalah juga bagian dari menjadi kebaikan bersama antar sesama pengikut Kristus.

Catatan: Tulisan ini hanyalah sebuah bentuk pemikiran dengan berpijak pada pemaknaan sebutan Kristen.

Manila: 07-September 2021
Oleh: Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update