-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

"Dosa" dan Pertobatan Intelektual

Rabu, 22 September 2021 | 14:32 WIB Last Updated 2021-09-22T07:32:57Z
Oleh: Sil Joni*

Aksi plagiarisme dalam dunia kepenulisan sebetulnya bukan hal yang baru. Budaya menjiplak atau mencuri karya orang lain, tidak hanya dilakukan penulis amatir seperti saya, tetapi juga kerap dilakukan oleh sebagian orang yang bertitel akademik tinggi seperti profesor, doktor, dan magister. Gelar akademik tidak menjadi garansi hilangnya virus plagiarisme itu.

Saya kira, tindakan 'mengambil karya orang tanpa sebuah pertanggungjawaban ilmiah' boleh dipatok sebagai "dosa intelektual"  yang seolah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, saya tidak terlalu 'terkejut' ketika seorang jurnalis mengekspresikan keluhannya terkait dengan fakta beberapa media yang mencuri 'teks berita' hasil racikannya di ruang publik digital.

Kendati demikian, tetap diakui bahwa actus plagiasi itu merupakan 'kecurangan akademik' yang tidak bisa ditoleransi. Bahwa saat ini, tindakan menjiplak itu kian marak, tidak berarti 'unsur moralnya' raib. Status etis dari tindakan semacam itu tetap buruk.

Saya sendiri kadang tidak bisa menghindar dari jebakan 'dosa intelektual' itu. Aspek kejujuran dalam menulis masih kurang diperhatikan secara konsisten. Godaan untuk 'mengambil jalan pintas', dalam situasi tertentu, relatif sulit dilawan.

Dalam aras pikir ini, kritik publik soal kebiasaan 'mencuri karya orang lain', mesti direspons secara arif. Itu sebuah pratanda bahwa 'ada yang kurang beres' dalam aktivitas kepenulisan kita. Publik pembaca 'cukup peduli' dengan potensi yang kita miliki seraya menaruh ekspektasi tentang lahirnya karya yang orisinal dan berkualitas dalam diri kita.

Setidaknya, melalui kritik semacam itu, kita kembali 'terjaga' bahwa respek terhadap karya orang merupakan satu bentuk 'etika menulis' yang mesti kita ikuti. Kita diingatkan untuk "tidak boleh" memupuk tradisi buruk semacam itu.

Ketika 'sisi minus' sebuah tulisan dipotret oleh pembaca, semestinya hal itu membuat kita 'sadar' akan kerapuhan diri. Bahwasannya, tidak ada manusia yang selalu tampil sempurna sepanjang hayat. 

Kesalahan adalah hal yang sangat manusiawi. Sadar akan kekurangan diri dan berani 'untuk berputar haluan' adalah modal untuk 'berubah'. Kesadaran itu mesti berujung pada laku pertobatan intelektual.

Kewibawaan kita sebagai 'penulis' tidak akan runtuh, ketika mengakui secara jujur bahwa kita pernah tersandung pada dosa intelektual di masa lalu. Bahkan hemat saya, ketika seseorang menyadari dosanya dan punya komitmen untuk bertobat, maka sebuah kebajikan etis telah diterapkan secara elegan.

Menyadari kesalahan dan berkomitmen untuk tidak 'terantuk pada batu yang sama', merupakan sebuah karakter yang terpuji. Kita menjadikan pengalaman masa lalu sebagai cermin dan guru kehidupan.

Kita insyaf bahwa plagiarisme itu buruk secara moral. Kesadaran itu akan bertambah lengkap dan berdaya guna ketika diikuti oleh laku tobat yang konsisten. 

Intelektualisme moral ala  Socrates, dalam kenyataannya relatif sulit diimplementasikan. Pengetahuan moral tidak selalu berkorelasi dengan tindakan yang berbobot secara moral. Selalu diskrepansi antara apa yang diketahui dengan apa yang dibuat.

Untuk kasus plagiarisme, pengetahuan teoretis soal topik ini saja tidak cukup untuk 'menghindari' perilaku itu. Mesti ada komitmen dan motivasi etis yang lebih untuk menolak godaan 'mencari cara instan' dalam memproduksi sebuah karya bermutu.

*Penulis adalah peminat isu literasi.
×
Berita Terbaru Update