-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

IBU, MAAFKAN AKU!

Rabu, 15 September 2021 | 16:26 WIB Last Updated 2021-09-16T06:02:28Z
                                                      Ilustrasi: hipwee

Yakobus Syukur, SMM
Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang

Aku duduk memandang view yang indah sembari menikmati teh hangat. View itu menghantar aku ke pelabuhan senja. Udara senja membawa aku untuk bernostalgia dengan kenangan yang aku lalui bersama ibu. Kenangan itu selalu bergaung dalam diriku di manapun kakiku berpijak. Apakah ibu sepertiku? Yang bernostalgia dengan kenangan itu sambil meneteskan air mata? Kenangan itu lebih terharu dari kenangan-kenangan yang lain. Kenangan itu adalah kenangan tidur di bawah kolong jembatan bersama ibu.

Cahaya merah di barat begitu cerah dengan udara senja yang jernih. Namun, sore itu aku merasa kurang semangat. Entah kenapa? Mungkin aku terlalu menyibukkan diri memikirkan kenangan itu. Aku pun mencoba untuk bersahabat dengan udara senja sambil menikmati teh hangat. Namun, aku tak merasakan apa-apa. Kenangan itu tetap menghantui diriku. Suasana batinku semakin sepi dan tak bersahabat hingga malam datang menjemput senja. Aku berpikir, apakah kenangan ini akan sirna dari diriku?

Udara dingin menemani diriku yang sedang galau. Ah, aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Tiba-tiba handphoneku berdering. Akupun terkejut dan takut menjawab suara itu. Takut, kalau rasa sepi yang baru akan menghampiriku. Namun aku menjawab dan berpikir mungkin rasa sepiku akan hilang. Ternyata itu adalah saudaraku. Dia menyampaikan sesuatu sambil menangis, sehingga suaranya kurang jelas. Akupun berlagak kuat. Seakan-akan suatu virus telah merasuki diriku. 

Dia mengabarkan bahwa ibu sedang menderita sakit. Ibu didiagnosis virus korona. Ketika aku mendengar berita itu, rasa sepi dan galau itu kembali menghampiriku. Udara dingin dan cahaya rembulan tak enak kupandang, seakan-akan terasa hampa. Aku hanya diam dan tak sanggup mendengar suaranya. 

Rasa sepi yang aku rasakan sepanjang hari ternyata mengabarkan berita buruk bagiku. Aku merasa bahwa hidupku penuh dengan beban ditambah lagi tugas kampus semakin menumpuk. Rasanya mau mati, namun aku takut mati karena umurku masih muda. Udara malam tak memberi ketenangan bagiku. Malam terasa hening dan suara-suara malam terdengar lebih nyaring.  Aku duduk berdiam diri sembari memandang cahaya rembulan yang menembus tirai kamarku. Aku mencoba untuk menghibur diri dengan menyalakan lilin kecil sembari berdoa. Di tengah doa, air mataku menetes. Entah kenapa? Saat itu, tak ada kawan yang menghiburku. Tetesan air mata ini menimbulkan rasa sepi dan galau yang baru. Pedih hatiku sungguh tak terpahami. Namun di tengah doa, aku mendengar suatu bisikan yang bergaung di telingaku. “Anak-Ku janganlah engkau menangis, sebab Aku berada bersama engkau.” Aku mengusap air mataku yang berlinang ketika aku mendengar bisikkan itu. Suara inilah yang menguatkan aku, sehingga rasa sepi dan galau hilang seketika. Suara siapakah ini? Aku tak tahu, mungkin suara Dia yang selalu menemaniku setiap saat. Bisikan suara itu selalu terngiang di dalam hatiku, sehingga aku menikmati hariku dengan sukacita.

****
Bulan telah berlalu. Aku kembali berada dalam suasana hati yang galau. Suasana yang mengingatkan aku akan kenangan bersama ibu. Aku teringat kembali senyuman manisnya. Senyumannya memantulkan dengan ramah dan aku memaniskan air mukaku. Udara segar tambah terasa dan udara dingin mulai menguap: seperti napas air bening yang mengalir di sungai atau di dedaunan yang hijau kehitam-hitaman karena bayang-bayang cahaya menjelang senja. Suara air mendesau mulai terdengar seperti bercampur dengan suara angin yang menggoyangi dedaunan. Namun, situasi ini mengingatkan aku akan wajah ibu. Wajah yang menemaniku dalam setiap derap langkah hidupku. Aku merasa ibuku berdiri tegak di sampingku.

Cahaya bintang menyinari diriku yang hampa. Aku terdiam di bawah redupnya malam yang menghantar aku bernostalgia. Suasana galau dan sepi menghampiri diriku. Hal ini menghantar aku untuk pulang ke kampung halamanku. Agar aku dapat merasakan pelukan hangat seorang ibu. Namun, tak bisa sekarang karena situasi covid semakin merajalela. 

Aku tak sanggup melihat kerumunan langit malam. Aku menikmati cahaya yang menganga di arah timur, mungkin malam telah menjelang fajar. Cahaya mentari pagi dan lapisan embun pagi yang kemilau, menghantui aku dengan perasaan sedih dan galau. Aku termenung sembari mengingat wajah ibu yang manis. Aku tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna. Aku hanya bergulat dengan perasaan yang aku alami sekarang, seperti rusa yang berada di tengah kawanan singa. 

Perasaan ini menghantui langkahku. Aku mencari seseorang untuk menghibur diriku, namun tak kunjung aku temui. Bagaikan pengantin wanita yang ditinggal pergi oleh mempelainya. Aku ingin pulang dan berjumpa dengan ibu. Aku ingin menyaksikan kelembutan kasihnya yang tiada tara. Seandainya aku memiliki sayap, aku akan terbang jauh menemui ibuku. Namun, itu hanyalah khayalan semata, yang akan melepaskan aku dari perasaan sepi dan galau ini. Aku mencoba untuk menenangkan diri dengan pergi ke pantai.

Dari pesisir ke pesisir, aku menikmati empasan gelombang yang tak terbendung. Aku berteriak melepaskan perasaan galauku. Percuma saja, perasaan ini tetap merasuki diriku. Aku pun pulang sebab malam akan menjemput senja. Setibanya di kost, aku mendapat kabar dari saudaraku bahwa ibu akan beroperasi. Ia mengatakan bahwa ibu selalu menyebut namaku dan menyuruhku pulang. Inilah jawaban dari perasaan sepi yang selalu merasuki diriku. Energiku terkuras, tak berdaya dan air mataku berlinang tiada henti. Aku ingin pulang, namun pihak pemerintah tak mengizinkan untuk ke luar kota. Terpaksa aku mengurung diriku. Aku tak mampu menahan kesedihan ini dan ingin berlari jauh mencari dunia yang lain. Aku mengabarkan kalau aku tidak bisa pulang karena dihalangi oleh aturan pemerintah. Hal inilah yang membuat ibu sakit dan merasa diabaikan oleh anak yang paling ia cintai. 

Tangisan ibu sungguh aku rasakan karena ikatan batin antara aku dan ibu tidak bisa dipisahkan. Berkali-kali aku mencoba untuk menghubungi pihak pemerintah, namun tidak mendapat respon yang baik. Aku pun berpasrah kepada Sang Pemilik hidup. Aku mendapat berita bahwa ibu telah meninggalkan aku selama-lamanya tanpa ada suata pesan dan nasihat. Aku membantingkan diri dan rebah tak menyadarkan diri. Saat itu tak ada kawan yang membantu aku. Kini hatiku tergores kesedihan, ketika ibu mengucapkan salam perpisahan untuk selamanya. Aku tidak memiliki gairah untuk hidup. Aku ingin pergi bersama ibu. Aku tidak sanggup menerima salam perpisahan yang dilakukan ibuku ini. 

                 “Apakah ibu marah denganku?” kataku dalam hati.
                 “Mengapa ibu pergi meninggalkan aku tanpa janji yang pasti?” keluhku dalam hati.

Tangisanku tiada henti, sebab dalam diri masih bergulat dengan pesan yang ingin ibu sampaikan kepadaku. Kini aku berpasrah pada Dia yang menguasai segalanya. Rasa sedih dan galau merasuki diriku hingga kini. Aku merasa bersalah, sebab aku tak menghargai undangan ibuku. Ibu maafkan aku.
×
Berita Terbaru Update