-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Katolik “Tersesat”

Selasa, 21 September 2021 | 10:57 WIB Last Updated 2021-09-21T03:57:54Z
“Perasaan “tersesat” penting dijaga.” (Habib Husein Jafar Al Hadar).

Sebagai seorang Katolik dan imam, saya ikut dicerahkan oleh inspirasi bijak dari seorang Habib Milenial: Habib Husein Jafar Al Hadar yang memiliki salah satu channel youtube: Pemuda Tersesat.

Sudah dua hari ini saya tak henti-hentinya menikmati ceramah dan dakwah “gratis” dari Habib Husein di berbagai podcast yang ada di youtube. Meskipun dakwah dan ceramahnya itu berisikan ajaran-ajaran agama Islam, namun juga berciri universal karena ikut mencerahkan saya sebagai seorang imam sekaligus Katolik.

Salah satu gagasan dakwahnya adalah tentang ketersesatan yang menjadi alasan Habib Husein membangun sebuah yayasan dengan nama Pemuda Tersesat yang kemudian juga menjadi nama channel youtubenya. Jika selama ini kita, termasuk saya melihat ketersesatan itu secara negatif yaitu orang yang berdosa, yang tersesat di jalan dan ajaran yang salah, namun oleh Habib Jafar, kata tersesat ini dibuat menjadi lebih positif yaitu; “tersesat pada jalan yang benar”.

Dan yang paling menarik, mengesankan dan menginspirasi saya adalah ketika dalam obrolan Habib dengan Helmy Yahya dalam podcast “Helmy Yahya Bicara” dengan judul; “Kain Kafan Enggak Pakai Saku”!, Habib Husein Jafar dengan jelas dan tegas mengatakan;

“Perasaan tersesat itu penting untuk dijaga”!

Alasannya karena jika tidak merasa tersesat maka cenderung menghakimi. Habib kemudian menganalogikan demikian; karena jika orang merasa sudah pintar maka akan berhenti belajar. Jika menganggap diri sebagai yang paling benar dan orang lain salah maka ia akan berhenti mencari kebenaran dan di saat itu kita merasa diri paling benar dan orang lain terutama yang berbeda adalah salah maka lahirlah radikalisme.

Ciri orang yang merasa diri tidak pernah tersesat dan berhenti mencari kebenaran dalam dialog dengan lain serta yang melihat orang lain yang berbeda selalu salah adalah: selalu mengkafirkan orang yang berbeda dan menyelesaikan masalah atas nama agama dengan kekerasan.

Maka bagi Habib, menjaga perasaan tersesat itu penting agar terus mencari kebenaran dalam dialog dengan yang lain, tidak menghakimi orang lain tetapi selalu terbuka dan rendah hati. 

Pernyataan Habib Husein Jafar ini senada dengan Sabda Yesus;

“Mengapa engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kau ketahui? Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (lih. Luk 6:39-42).

Artinya menjadi Katolik “tersesat” artinya tersesat pada jalan yang benar dengan menyadari dan melihat terlebih dahulu kesalahan kita sendiri sebelum melihat kesalahan sesama kita sehingga kita tidak mudah menghakimi dan mempersalahkan sesama kita.

Sebagaimana kata Habib bahwa sebagian oknum yang mengaku pembaca dan penghafal Al-quran mengaku Muslim, tetapi hanya sampai pada batang tenggorokan dan tidak sampai masuk ke hati dan pikiran sehingga selalu mengkafirkan orang lain yang berbeda dan menyelesaikan masalah dengan kekerasan menjadi permenungan bagi kita minimal bagi saya yang adalah seorang Katolik dan imam.

Saya mengaku Katolik dan imam bisa saja membaca dan menghafal Kitab Suci namun itu tidak sampai kekedalaman hati dan pikiran sehingga lebih mudah menghakimi dan mempersalahkan orang lain daripada memberikan sukacita dan kebahagiaan pada sesama agar merekapun berjalan pada jalan yang benar, “tersesat pada jalan yang benar.”

Demikian juga bagi sebagian umat yang rajin mengikuti misa namun hanya menjadi sebuah “kesombongan” ritual. Rajin mengikuti misa namun untuk senyum saja susah. Baru selesai misa, gosipkan orang lain.

Maka dari itu agar kita: Anda sekalian dan saya sebagai umat Katolik dan iman mampu menjadi Katolik yang “tersesat” di jalan yang benar dan menjaga perasaan “tersesat” mata kita harus diganti dengan mata Tuhan yaitu melihat segala ciptaan Tuhan, termasuk melihat sesama kita yang berbeda sebagai keindahan, bahwa yang diberikan Tuhan adalah terbaik termasuk perjumpaan kita dengan sesama yang kita anggap tersesat di jalan yang salah adalah cara Tuhan mendidik kita untuk menjadi lebih baik.

Manila: 10-September 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update