-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kehilangan Apapun Yang Dimiliki, Jangan Sampai Kehilangan Sukacitamu Sebagai Katolik

Jumat, 03 September 2021 | 14:33 WIB Last Updated 2021-09-03T07:33:11Z

“Agama Katolik adalah Salib yang tidak pernah lelah dipikul, tetapi semakin membuat jiwa terpikat pada pengorbanan yang lebih besar, bahkan sampai mengorbankan nyawa demi membela iman dan agama Katolik, bahkan sampai mati di tengah siksaan. seperti para Martir Katolik di negeri-negeri yang jauh dan asing.” (Pater Placido Cortese).

Menjadi Katolik pertama-tama bukan untuk mendapatkan kemudahan, melainkan untuk mengikuti dan memikul Salib. Salib itu sudah kita rasakan sejak awal dimana menghadapi setiap proses untuk menjadi seorang Katolik yang panjang dan kadang terasa sangat sulit.

Berhadapan dengan proses yang panjang dan kadang melelahkan bahkan tidak jarang ada keluh; “menjadi Katolik kok susah amat” kita harus sadar bahwa pada saat itu kita sedang menempuh jalan yang sama seperti yang dilalui oleh Kristus sendiri, yakni jalan ketaatan, jalan kesetiaan dan jalan pengurbanan (bdk. Katekismus Gereja Katolik-KGK. 852).

Bahkan harus diakui bahwa dengan menjadi seorang Katolik kita kehilangan kebebasan, kehendak pribadi serta juga kehilangan waktu untuk bersenang-senang dengan keluarga, teman dan sesama bahkan karena sebagai Katolik kita harus dibenci, difitnah bahkan dibully. Namun satu hal yang tidak boleh hilang yaitu sukacita didalam hatimu sebagai seorang Katolik.

Demikian juga sebagai seorang imam, biarawan dan biarawati Katolik. Kita kehilangan “keluarga”, kehilangan kebebasan, kehilangan kesenangan masa muda dan kehilangan keinginan untuk memiliki apapun dan siapapun. Namun satu hal yang tidak pernah hilang yaitu sukacita dalam hati kita sebagai imam, biarawan dan biarawati Katolik.

Kita boleh kehilangan semua yang ada pada kita: kesenangan dan kehendak pribadi bahkan waktu serta kebersamaan dengan orang-orang terdekat namun semua kehilangan itu menjadi sukacita ketika semua kehilangan itu membuat kita semakin terpikat pada Kristus yang setia mengikuti Jalan Salib-Nya meski banyak pengorbanan (korban perasaaan, waktu dan tenaga) bahkan menjadi miskin sebagai seorang Katolik yang tetap bersukacita.

Dengan tetap bersukacita ditengah banyaknya kesulitan bahkan harus kehilangan yang ada pada kita; kita adalah “martir-martir” Kristus YANG MENGUBAH SETIAP KESULITAN MENJADJ BERKAT BAGI SESAMA, YANG MENGUBAH KEHILANGAN MENJADI SUKACITA (bdk. KGK. 852; AG. 5).

Setiap pengorbanan, tetesan keringat dan air mata kita sebagai orang Katolik adalah BENIH: Benih SUKACITA (bdk. Tertulianus: Darah orang-orang Kristen adalah Benih).

Mengubah setiap kesulitan menjadi berkat, kehilangan menjadi sukacita adalah jalan panjang untuk masuk kedalam persekutuan yang lebih dalam (intim) dengan Kristus dengan meninggalkan segala sesuatu yang ada pada kita karena satu hal yang tidak pernah hilang dari hati dan iman kita sebagai seorang Katolik adalah: Sukacita (Luk 5:1-11).

Orang Katolik yang paling bersukacita adalah yang mampu meninggalkan segalanya: keinginan dan kehendak pribadi, waktu, perasaan namun menemukan sukacita sejati dalam dan dari Kristus. Jadilah orang Katolik yang boleh kehilangan apapun namun tidak kehilangan sukacita dalam hati karena Kristus.

Foto 2018: Setelah Misa Krisma

Manila: 02-September 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update