-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

KUALITAS KOMUTMEN

Senin, 20 September 2021 | 10:09 WIB Last Updated 2021-09-20T03:09:23Z

Setiap hubungan selalu diinisiasi oleh dua JABAT TANGAN: satu di atas meja dan satu di bawah meja. Jabat tangan pertama adalah kesepakatan sadar dengan mengatakan "Saya akan mendukungmu, memperhatikan kebutuhanmu, mendengarkan saran-saranmu dan mengakomodir setiap hal yang kamu anggap perlu. 

Kesepakatan ini penting namun terbatas. Seiring berjalannya waktu, biasanya menjadi semakin sulit untuk menjaga kesepakatan ini karena aspek yang sebelumnya tidak diungkapkan dari masing-masing pribadi akan muncul berjamaah yang tidak pernah terbayangkan dari awal. 

Jabat tangan kedua adalah kesepakatan tak terucap, terputus dan tidak disadari masing-masing pribadi, misalnya kepribadian, gaya hidup, cara berkomunikasi, kebutuhan,  keinginan dan cara meraba dan mendeteksi setiap persoalan hidup. 

Kesepakatan ini kerap membidani lahirnya kebencian, kemarahan, penyakit kronis, suasana hati kacau dan perselingkuhan sebab segala niat baik di jabat tangan pertama, kerap licin terjatuh oleh jabat tangan kedua yang sulit diidentifikasi. 

Sejatinya kerinduan untuk melestarikan jabat tangan pertama dan kedua itu ada pada kualitas komitmen. Komitmen yang rapuh dari sendirinya mengguncang perahu hidup bersama. 

C. S. Lewis mengatakan bahwa karakter dari komitmen itu adalah sebuah kewajiban dan kehendak yang tulus. Tidak boleh membuat komitmen hanya karena terpaksa.  Hal senada juga diamini oleh St. Ignatius Loyola dalam buku latihan rohani, kita harus cepat dan bersemangat untuk membuat komitmen.  Bukan karena disuruh,  tidak dengan paksaan, tetapi karena saya dan kita benar-benar ingin menyerahkan diri seutuhnya. 

Dengan kata lain, komitmen harus melampaui niat belaka. Ia juga berjalan dengan kuk dan pengorbanan serta disiplin diri. Komitmen bukan hanya barisan kata-kata, janji kosong atau generalisasi yang tidak jelas.  Komitmen nyata menciptakan cara hidup yang terbarukan dan bersifat generatif. Itu berarti ia harus menciptakan keberadaan di luar diri. Berlabuh bersama yang lain.

Oleh: Pater Garsa Bambang  MSF
×
Berita Terbaru Update