-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MEDIA, PLAGIARISME, DAN JURNALISME BERMUTU

Senin, 20 September 2021 | 09:38 WIB Last Updated 2021-09-20T02:38:40Z

"Siapa media pencuri teks dan penjiplak naskah(?)". Itulah bunyi judul postingan Rioashley Hunter dalam akun facebook pribadinya, Sabtu (18/9/2021). Rio, demikian sapaan akrabnya begitu kecewa dan berang sebab ada media yang 'mencuri teks beritanya' di jurnalbali.com dan bali.poskota.co.id soal "Keterangan Jaksa Tolak Berkas Kasus Golo Mori".

Tidak hanya 'teks' yang dicuri, tetapi fotonya juga 'diambil' tanpa permisi. Hasil tetesan keringat sang jurnalis 'tidak dihargai' oleh para plagiator tersebut. Perjuangan Rio dalam 'menjangkau narasumber berita' tak diindahkan oleh beberapa media itu. Mereka dengan tak tahu malu 'mempublikasikan' naskah berita tulisan jurnalis lain. 

Seingat saya, jurnalis ini pernah mengutarakan kekesalannya soal banyaknya media plagiat saat ini pada akun facebook pribadinya. "Media plagiat berseliweran saat ini, masih  layakkah disebut karya jurnalistik", tulis Rio dalam akunnya itu, Rabu (11/8/2021). Itu sebuah gugatan sekaligus sebuah otokritik (mengingat sang pemosting adalah seorang jurnalis juga) bagi pekerja pers saat ini. 

Apakah kita masih bangga menyebut diri 'jurnalis' ketika produk berita yang dihasilkan lebih banyak 'menjiplak' teks berita orang lain? Atau seperti yang ditulis saudara Rioashley Hunter di atas, apakah karya plagiasi itu masih pantas disebut karya jurnalistik?
Membaca dua postingan pendek ini, saya berguman dalam hati. Jika media berwatak plagiat berseliweran, berarti jurnalis bergaya plagiat juga banyak. Ini sebuah 'kabar buruk'.

"Teguran pedas' dari Rio pada tulisan terdahulu seolah tak menimbulkan efek jera 'bagi para pagiator' tersebut. Alih-alih bertobat, justru 'penyakit plagiarisme' itu kambuh lagi.  Agak sulit untuk melacak akar soal mengapa budaya jiplak masih kuat dalam kalangan jurnalis kita.

Tetapi, rupanya, kultur plagiarisme dalam dunia akademik sudah merambah ke segala bidang, termasuk jurnalisme. Jika para akademisi, penulis, dan jurnalis saja tak malu 'memplagiasi' karya orang lain, maka  apalagi 'khalayak umum' yang awam dengan dunia kepenulisan, kasusnya bertambah runyam.

Padahal, hampir saban hari para jurnalis bergaul dengan dunia 'memproduksi teks berita'. Menulis teks bergenre jurnalistik merupakan pekerjaan (profesi) utama mereka. Lalu, mengapa aksi plagiarisme masih marak diperagakan oleh para pekerja media?

Aktus plagiarisme dalam penulisan berita 'semakin menjamur dan vulgar' saat ini. Mental jalan pintas (terabas) dalam menghasilkan karya jurnalitis kian menguat seiring berlakunya semboyan 'kecepatan' lebih utama ketimbang akurasi. Efeknya adalah jurnalis tak bisa menghindar dari godaan untuk 'mencuri' naskah berita media lain tanpa sebuah pertanggungjawaban yang kredibel.

Kalau kita membaca secara teliti konten berita dari beberapa media daring, maka bukan hal asing kita menjumpai 'kemiripan bahkan kesamaan' gaya penulisan dan isi berita. "Kemiripan dan kesamaan" itu begitu kentara ketika beberapa media "memuat press release" dari lembaga tertentu. Saya menduga sumber teksnya hanya satu. Jurnalis dari beberapa media tinggal 'meng-copy paste' teks berita yang sama.

Sebetulnya, jurnalis itu bukan 'tukang jual berita semata'. Jurnalis adalah pewarta kebenaran. Karena itu, seorang jurnalis mesti mengikuti kaidah penulisan jurnalistik yang benar agar cahaya kebenaran sebuah peristiwa tersingkap dengan jelas. 

Kejujuran dan keterbukaan pada realitas faktual mesti dijunjung tinggi oleh seorang juru warta. Karena itu, wartawan tidak boleh 'malas' meliput berita. Pastikan kegiatan peliputan itu tembus sumber dan tidak menyimpang dari rambu etis penulisan jurnalistik.

Produk jurnalistik akan terasa matang dan orisinal jika para jurnalis 'tidak tergoda' untuk menyebarkan hasil jeri lelah orang lain. Teks berita yang dikonstruksi dengan 'perkakas intelektual sendiri' jauh lebih bermartabat ketimbang memamerkan teks curian kepada khalayak pembaca. 

Saya berpikir, jika seorang jurnalis konsisten untuk secara serius 'menggarap teks berita secara mandiri' dari hari ke hari, maka pada saatnya publik akan mengonsumsi karya jurnalisme berkualitas dari jurnalis terebut. Gaya penulisan beritanya kian matang dan enak untuk dilahap sebab sudah ditempah dalam fase proses penulisan yang panjang.

Oleh: Sil Joni
×
Berita Terbaru Update