-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pakai Kondom Cegah HIV/AIDS

Jumat, 24 September 2021 | 09:20 WIB Last Updated 2021-09-24T02:20:08Z
Oleh: Sil Joni*

Menggunakan kondom saat 'berbungan seks dengan pasangan berisiko', menjadi salah satu materi kampanye dari para aktivis yang peduli dengan isu HIV dan AIDS. Kampanye semacam itu diartikulasikan, baik melalui media tulisan (stiker, brosur, baliho, dll) maupun disampaikan secara lisan pada saat memberikan edukasi dan sosialisasi HIV/AIDS kepada kelompok tertentu.

Anjuran untuk 'memakai kondom' ini, kadang menimbukan polemik di ruang publik. Hemat saya, perdebatan itu terjadi karena ada tendensi untuk menginterpretasi pernyataan itu 'terpisah' dari konteksnya. Kita 'menangkap kampanye itu' hanya pada bagian permukaan. Sementara latar belakang argumentasi di balik seruan itu, relatif kurang diperhatikan.

Kampanye itu, hemat saya mesti dibaca dari sudut pandang 'pencegahan penularan HIV/AIDS'. Kita tidak bisa menafsir pernyataan 'pakai kondom saat berhubungan seks' sebagai upaya meligitimasi dan menjustifikasi penggunaan kondom secara massif oleh publik. 'Pakai kondom' itu, selalu dikaitkan dengan strategi 'menghambat penyebaran' virus yang belum ada obat untuk mematikan daya aktifnya.

Perdebatan semakin alot manakala definis kondom coba ditarik untuk memperkuat argumentasi. Secara sederhana kondom adalah salah satu alat untuk mencegah kehamilan dan atau penularan penyakit kelamin pada saat melakukan aktivitas seksual. Mengacu pada definisi ini, maka 'kampanye pakai kondom' berpotensi untuk diterjemahkan secara salah. Para remaja yang sedang 'kasmaran' bisa menjadikan kampanye 'gunakan kondom' untuk melakukan seks bebas. Ternyata, kondom merupakan 'alat penyelamat' agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sebagai konsekuensi dari seks pra-nikah itu.

Dengan demikian, 'gunakan kondom' dianggap sebagai 'perintah' untuk melakukan hubungan intim. Ternyata berhubungan seks di luar nikah itu bisa dibenarkan asalkan kita memakai kondom saat melakukannya. Dengan memakai kondom, maka kita terhindar dari HIV dan kehamilan. 

Saya kira tafsiran semacam itu bersifat simplistis dan tendensius. Ajakan untuk menggunakan kondom tidak dalam kerangka untuk 'menjustifikasi' perilaku seks yang berisiko dan tidak terkontrol. Seruan itu hanya bersinggungan dengan upaya 'menyematkan kehidupan' para penderita HIV dan AIDS dan mencegah penularan virus itu kepada orang lain.

Mengapa harus kondom? Masalahnya adalah HIV itu ditularkan melalui 'hubungan seks' dengan pasangan yang selalu berganti. Ketika orang dengan HIV/AIDS melakukan aktivitas seksual dengan orang yang negatif HIV, maka sudah pasti pasangan seksualnya akan terinfeksi HIV. Kondom biasanya terbuat dari bahan karet latex yang telah dibuat sedemikian rupa agar dapat dipakaikan pada alat kelamin pria pada keadaan ereksi dan juga terdapat jenis kondom yang dipakai wanita sebelum melakukan aktivitas seksual.

Kondom adalah 'alat pelindung' sehingga organ kelamin dan cairan yang keluar dari alat kelamin itu, tidak bersentuhan dengan pasangan. Kondom akan mencegah sperma masuk ke dalam alat reproduksi wanita sehingga dapat mencegah kehamilan dan penyakit menular seksual termasuk HIV.

Kasus HIV dan AIDS di Kabupaten Manggarai Barat (Mabar) cenderung bergerak naik. Padahal, pemerintah Pusat (Pempus) berikhtiar bahwa pada tahun 2030, Indonesia harus 'bebas dari HIV/AIDS. 

Untuk mewujudkan cita-cita besar itu, maka harus ada agenda aksi dan program yang konkret dalam menangani isu HIV/AIDS ini. Semua elemen mesti 'terlibat aktif' dalam upaya memberantas HIV/AIDS tersebut. Setidaknya, mendukung dan mengikuti arahan yang didesain oleh lembaga yang peduli dengan masalah ini. Salah satunya adalah bagaimana 'mematuhi' seruan  untuk menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim dengan ODHA. Melakukan seks yang aman adalah sebuah opsi yang arif dan cerdas.

*Penulis adalah warga Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update