-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pelukan Akhir

Minggu, 12 September 2021 | 11:05 WIB Last Updated 2021-09-14T02:01:06Z
Sekian lama, gunung telah menjadi medan pergumulan yang mengasyikkan bagiku. Meski aku seorang perempuan, aku gemar mendaki dan menguak misteri kehidupan di tengah rimba. Ada begitu banyak tabir alam yang telah kukuak di antara lebih banyak lagi rahasia yang tersembunyi. Itu membuatku menyadari keberadaanku sebagai bagian kecil dari jagad raya, juga membuatku memahami keterbatasan pengetahuanku.

Tetapi ketidaktahuan itu, malah menggugah hasratku untuk mencari tahu. Aku lantas menggeluti ilmu sejarah untuk menelusuri kejadian masa lampau berdasarkan catatan dan peninggalan terdahulu. Hingga akhirnya, kini, aku masih terus berjuang untuk menguak sebuah teka-teki zaman purba di satu gunung favoritku, demi menyelesaikan tesisku dan memperoleh gelar magister, juga untuk berbagi secuil pengetahuan.

Untungnya, kau hadir sebagai partner diskusi dan debat untukku. Sudah setahun lebih kita bersahabat, dan kita senantiasa bertukar pikiran. Itu karena kita seangkatan di sebuah kampus, dan mendalami jurusan yang sama. Tetapi minat kita berbeda jauh soal ranah penelitian, sebab persepsi kita berbeda soal kegunaan sejarah. Kau memilih untuk meneliti sejarah kehidupan modern, sedangkan aku memilih untuk meneliti sejarah kehidupan kuno. 

“Untuk apa menguak sejarah terlalu jauh? Toh, yang penting untuk kita ketahui adalah penggalan sejarah yang memberikan pengaruh yang nyata untuk kehidupan kita saat ini,” tanggapmu, setelah aku membeberkan fokus penelitianku tentang peninggalan purba.

Sontak saja, aku kesal mendengar remehanmu. “Eh, sejarah adalah alur yang berkesinambungan. Kehidupan manusia saat ini, tidak terlepas dari kehidupan awal di jagad raya ini. Jadi, semakin jauh kita menyusuri alur sejarah di masa lampau, maka semakin paham pula kita perihal kehidupan kita di masa kini, bahkan bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Kau seharusnya paham soal itu.”

“Jadi, kau percaya pada teori evolusi? Kau percaya bahwa rupa manusia seperti kita, berawal dari rupa makhluk yang berbeda dengan kita?” tilikmu, dengan raut menantang.

Aku lekas mengangguk. “Secara teoretis, aku memercayai soal itu. Apa kau tidak percaya?”

Kau lantas mengangkat bahu dengan bibir yang manyun, seolah kau tak ingin menegaskan posisimu. “Hati nuraniku sulit membenarkan bahwa kita terbentuk dari makhluk yang jauh berbeda dengan kita.”

Aku hanya membalas dengan tawa, dan tak lagi berhasrat mendebatmu.
Akhirnya, setelah percakapan kita itu, aku pun semakin bertekad untuk menunjukkan eksistensi kehidupan purba kepadamu. Aku bahkan bernafsu untuk membuktikan bahwa di daerah kita pun, kehidupan purba pernah ada, sebagaimana catatan dan bukti awal yang kudapatkan dari berbagai sumber.

Untuk mewujudkan misiku itu, aku pun terus menuruti kesenanganku mendaki gunung favoritku di daerah kita. Aku ingin menguak bukti-bukti peradaban kuno yang kumaksud untuk mematahkan keraguanmu perihal kehidupan purba. Aku ingin kau berhenti meremehkan pandanganku tentang sejarah lampau yang selama ini hanya kau angggap rekaan ilmiah semata.

Hingga akhirnya, kebiasaanku mendaki gunung, berhasil pula menarik minatmu untuk turut. Kau yang selama ini kurang tertarik dengan penelitian lapangan, akhirnya mencoba mengikutiku menyusuri medan pegunungan. Lambat laun, kau pun mulai merasakan kenikmatan menjadi seorang pendaki, sebagaimana yang kurasakan.

Pada waktu kemudian, kau pun tampak menjadikan aktivitas mendaki gunung sebagai hobi barumu. Bahkan beberapa kali kau mendaki bersama teman-temanmu yang lain, seolah-olah kau tak lagi membutuhkanku sebagai guru dan pemandumu. Sampai akhirnya, hari ini, aku mendapatkan kabar bahwa kemarin sore, kau hilang saat mendaki gunung favorit kita bersama tiga orang temanmu.

Setelah beberapa lama tim pencari bekerja, akhirnya, pagi-pagi, dua orang temanmu berhasil ditemukan dengan kondisi lemas. Keduanya lantas bercerita bahwa saat itu, di waktu istirahat kalian di tengah pendakian, kau dan seorang temanmu pergi dengan alasan mencari bunga anggrek. Namun tiba-tiba, langit mendung dan kabut mengepul. Angin kencang lantas berembus, disusul hujan yang deras. Kau dan seorang temanmu akhirnya hilang.

Entah di mana keberadaan kalian berdua di tengah badan gunung favorit kita. Tak ada petunjuk perihal titik terakhir jejak kaki kalian. Banyak orang telah mencari, tetapi mereka tak juga menemukan kalian. Bahkan pantauan helikopter, juga tak mampu menguak posisi kalian.

Tak pelak, aku jadi tak sabar menahan diri dan menunggumu. Apalagi, aku telah menjadi kekasihmu, dan kita telah bersepakat untuk menikah pada awal bulan depan. Undangan kita bahkan sudah tercetak dan siap untuk disampaikan kepada orang-orang. Rancangan perayaan pun telah tersusun rapi, dan sisa kita wujudkan di hari bahagia kita.

Akhirnya, aku pun turut mencarimu hingga sore hari ini. Aku berharap, atas kesatuan hati kita, keajaiban akan menuntun langkahku kepadamu. Aku percaya pada kekuatan cinta, dan aku tak akan menyerah untuk membuktikannya. Karena itu, detik demi detik, kakiku terus menyusuri kemungkinan-kemungkinan keberadaanmu. Terus menjelajah pada sisi-sisi yang barangkali menyembunyikan ragamu.

Di tengah langkah-langkahku, tiba-tiba, aku teringat pada sepenggal percakapan kita tiga bulan yang lalu, menjelang perikatan kita sebagai sepasang kekasih:
“Kenapa kau akhirnya semakin tertarik mendaki gunung?” tanyaku kemudian, setelah kita berhasil mencapai puncak gunung favorit kita ini, yang telah banyak menyimpan kenangan tentang kita.

Kau pun mendengkus dan tersenyum. “Aku akhirnya menyadari bahwa gunung adalah cermin yang jujur untuk diri kita sendiri. Kurasa, mendaki gunung adalah cara terbaik untuk menguji ketangguhan, keyakinan, kesetian, dan cinta.” Kau lantas memandangku dengan tatapan yang hangat. “Dan saat ini, untuk kesekian kalinya, aku merasa telah membuktikan perasaan-perasaanku itu kepadamu.”

Sontak, aku tersipu atas godaanmu. Aku lantas berpaling pada bentangan alam di lembah, sembari berupaya meredam deru perasaanku. Lekas kemudian, aku menepak lenganmu, lalu menyanggah dengan sikap biasa, “Tetapi kau baru selesai mendaki. Itu berarti pembuktianmu masih separuh. Kau harus berhasil turun untuk menyempurnakannya.”

Kau pun tertawa pendek dan berhenti membalas.
Hingga akhirnya, sehari setelah kita turun gunung, kau pun mengajakku untuk bertemu di sebuah kafe yang bergengsi. Kau beralasan bahwa kau perlu berdiskusi denganku perihal penelitianmu. Namun tanpa kuduga, pada pertemuan itu, kau menyatakan perasaanmu kepadaku, sembari berjanji akan menikahiku. Tak pelak, aku jadi terkesima dan lekas menerima perasaanmu.

Sayangnya, kenyataan di hari ini telah menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang lain tentang kita di hari esok. Rencana besar kita menggantung dan berayun-ayun di tengah nasib. Tetapi aku tak akan menyerah untuk berjuang dan memastikan bahwa kita benar-benar akan bersama dalam ikatan cinta yang sejati.

Demi harapan itu, saat ini, aku memutuskan menjelajah di jalurku sendiri. Tetapi aku tak benar-benar sendiri, sebab aku mencarimu bersama seekor anjing kesayanganku bernama Kiko. Aku merasa patut mengandalkannya, sebab sebagaimana anjing, aku yakin ia punya kekuatan indra yang melebihi indra manusia. Apalagi, aku tahu betul bahwa ia dan kau punya hubungan yang baik. Itu karena sejak pertemanan kita, kau kerap bertandang ke rumahku dan memberikan makanan untuknya.

Di tengah langkah pencarianku, ketika hari semakin sore, pelan-pelan, langit jadi semakin mendung. Perlahan-lahan, kabut pun menyergap dan membatasi jarak pandangku. Lalu tiba-tiba, Kiko berlari ke arah depanku, sambil menggonggong-gonggong. Ia terus saja berlari, hingga terdengar suara keresek yang gaduh. Seketika pula, suaranya terdengar jauh dan menggema. 

Dengan rasa penasaran, aku pun mengarah ke titik keberadaannya. Aku terus melangkah mengikuti sumber suaranya di tengah kabut yang memburamkan pandanganku. Sampai akhirnya, aku terjengkang dan terperosok ke dalam turunan yang terjal. Aku terus meluncur, hingga terempas dan tertumbuk di permukaan batu yang licin.

Sejenak berselang, aku pun tersadar telah berada di dalam sebuah lubang batu yang dalam bersama Kiko. Seketika pula, aku merasakan kesakitan yang sangat pedih. Aku merasakan darah tengah mengalir di pelipis, pergelangan kaki, dan siku tanganku. Tetapi dengan daya yang tersisa, aku berusaha menguatkan diriku dan menjaga harapanku.

Untunglah, dalam sekejap, aku berhasil mendapatkan tasku yang berisi bekal dan peralatan yang bisa kugunakan untuk menyelamatkan diri. Aku lantas mengambil senter dan menyorot keadaan di sekelilingku. Hingga akhirnya, aku tercengang setelah menyaksikan bahwa aku tengah berada di tengah gua yang tampak purba, seperti yang kucari-cari untuk kepentingan penelitianku selama ini.

Sesaat kemudian, aku lantas bergerak dengan langkah yang pincang menuju ke sisi Kiko yang masih terus menggonggong. Sejenak berselang, aku pun melihat anjing itu di samping dua tubuh manusia yang tampak tak berdaya. Aku pun mendekat, hingga aku menemukan dirimu tanpa nyawa, di samping jasad seorang wanita yang tampak mendekapmu.***

Oleh: Ramli Lahaping
Ramli Lahaping. Lahir di Gandang Batu, Kabupaten Luwu. Berdomisili di Kota Makassar. Alumni Fakultas Hukum Unhas. Berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPMH-UH) selama berstatus sebagai mahasiswa. Aktif menulis blog (sarubanglahaping.blogspot.com). Telah menerbitkan cerpen di sejumlah media daring. Bisa dihubungi melalui Twitter (@ramli_eksepsi).
×
Berita Terbaru Update