-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pemimpin Besar Yang Tetap Rendah Hati

Senin, 20 September 2021 | 10:43 WIB Last Updated 2021-09-20T03:48:10Z

Saya mengenal beberapa pejabat. Umumnya saya kenal mereka sebelum menjadi pejabat. Setelah menjabat kami sudah tak saling kenal. Itu juga baik, agar kita bebas mengeritik apa yang perlu dikritik. Untuk apresiasi: tunggu hasil.

Saya teringat akan beberapa anggota DPR dan pejabat lain yang bahkan sangat ramah dengan saya menjelang pemilu; dari pusat hingga daerah. Di pusat, saya mengenal 1-2, yang tidak pernah bertemu sebelumnya, namun menjelang pemilu menjadi ramah: kirim pesan lewat WA, FB, minta doa, minta promosi dan sebagainya. Setelah pemilu, hilang kabar. 

Ada lagi, yang sebelum pemilu, datang minta didoakan. Ada yang bawa air, bawa garam untuk didoakan. Saya teringat di suatu tempat, tahun 2014: saya didatangi beberapa calon DPR dan minta penumpangan tangan. Lalu tukar nomor HP yang setelahnya juga, tidak saling kontak. Saya juga sih tidak terlalu hobi bergaul dengan pejabat. Kikuk! Tidak PD! Selesai yah selesai. Setelah pemilu hilang kabar.

Beberapa dari mereka, setelah pemilu dan ada yang sukses, saat bertemu empat mata, jangankan menyapa, lirik saja tidak. Cocok sekali dengan saya yang tidak peduli dengan status orang. Engkau mau pejabat, pembesar, pengecil atau apalah: maaf tak berpengaruh. Saya juga tidak mempunyai kepentingan apa pun dan tidak merasa berjasa. Sampai pernah ada pejabat besar yang tersinggung gara-gara saya tidak ikut kemauannya. Dia datang terlambat pada sebuah acara dan memaksa saya yang kebetulan memimpin perayaan ekaristi untuk menunggu dia. Saya bilang pada panitia: "saat misa, dia adalah umat. Dan saya tidak mau hanya karena dia, saya harus korbankan ratusan umat yang menunggu lama. Saya tetap memulai misa tepat waktu. Alhasil dia tiba, kami sudah pertengahan misa. Dan dia merajuk, bla..bla..bla. Gengsi kan? Tidak tunggu pejabat. Setelah misa, saya malas tau. Lalu saya dengar, dia bilang ke orang lain: romo sombong. Saya tertawa.  (Saya rahasiakan, ini terjadi kapan dan di mana).

Waktu saya masuk Timor Leste, saya sudah bertemu Presiden dan Perdana Mentri. Namun karena Presidennya dalam pengawalan ketat, saya hanya sampai menjabat tangan. Perdana mentri, yang sekarang mantan, pernah juga saya jumpai bahkan saya memimpin misa ulang tahunnya di Balibo, lalu duduk makan bersama. Ada rasa bangga bertemu mereka saat menjabat. Tetapi setelah itu, biasa-biasa saja.

Lain halnya dengan orang yang satu ini. Namanya sangat dikenal. Di Timor Leste orang menyebutnya AVO NANA; yang merujuk pada namanya Xanana. Avo artinya Opa. Jadi Avo Nana artinya Opa Xanana. Ini sebuah sapaan kesayangan, sapaan kasih dan penghormatan yang tinggi. Dia adalah Kairala Xanana Gusmão, pahlawan besar, panglima perang, mantan Presiden dan mantan Perdana Mentri Timor Leste.

Dia orang hebat. Dan orang pasti tahu itu. Dia orang besar, dan itu semua orang juga tahu. Dia juga masuk dalam tokoh berpengaruh, bukan hanya di Timor Leste tapi juga dunia. Tidak percaya? Googling saja! Sejarah hidupnya disediakan oleh banyak buku termasuk Mr. Google. Ada beberapa bahasa yang mengulas dia banyak: Bahasa Indonesia, Inggris, Portugis, Tetum dan pasti daam bahasa lain juga. Coba cek saja.

Kekaguman saya pada beliau, selain karena dia dikenal sebagai pemimpin kharismatik, tapi juga terutama oleh keteladanannya dalam solidaritas. Ketika terjadi bencana di Dili tahun 2020 dan terbaru 2021, mudah sekali bertemu beliau di pengungsian. Ketika masyarakat merasakan beratnya hidup karena dampak dari Covid-19, dia datang seperti Mesias, yang menyelamatkan dan memberikan harapan.

Saya bertemu beliau bukan di istana; bukan pula di hotel berbintang atau di rumah megah. Saya bertemu dia di jalan solidaritas bencana, di tengah para pengungsi yang terjebak lumpur, di emperan toko ketika dia sendiri turun tangan membeli sembako bagi pengungsi. Dan yang mengagumkan saya adalah: dia jalan dengan bebas, dengan penampilan apa adanya dan tidak terikat pada protokoler. Dan para pengawal seperti tidak berdaya. 

Ketika saya meminta foto dengan beliau, dia tidak tanya, kamu siapa? Dia terima semua orang, siapa saja. Dia tidak menerima cuma yang selevel. Dia pemimpin besar yang tetap merendah. MASIH ADAKAH PEMIMPIN YANG SEPERTI ITU?
 
MUNGKIN AVO NANA ADALAH EDISI SPECIAL. Banyak pejabat yang ketika masih orang biasa, hidupnya begitu bersahaja, ramah, dekat dan sebagainya. Tapi ketika sudah ada pangkat: SUDAH JAGA JARAK DENGAN SAHABAT DAN RAKYAT. Justru di situlah yang mau saya bandingkan dengan Xanana. Pejabat lain, dekat dengan rakyat pas ada mau-maunya. Mereka tiba-tiba ramah, sok kenal sok dekat (SKSD) jelang pemilu. Setelah itu, jangankan dekat, bertemu saja susah. Avo Nana agak lain. Sebelum, saat atau pun sesudah menjabat, DIA TETAP BEGITU: MERENDAH UNTUK DEKAT DENGAN SIAPA PUN. Dia tidak peduli dengan keuntungan politis; dia benar-benar hanya mau dekat. TIDAK ADA AMBISI UNTUK CARI NAMA.

AVO NANA, TRIMAKASIH UNTUK TELADAN KERENDAHAN HATI DAN SEMANGAT SOLIDARITASNYA. Avo Nana tetaplah pembesar yg merendah. Dan tetaplah menginspirasi.

Oleh: Wendly J Marot SVD
×
Berita Terbaru Update