-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rendah Hatikah Gerejaku?

Selasa, 28 September 2021 | 14:08 WIB Last Updated 2021-09-28T07:08:28Z

Kepada mereka yang bukan anggota Gereja meskipun berbuat salah, seperti para teroris misalnya kebanyakan dari kita selalu mengucapkan kata-kata saleh demikian;

“Kita doakan mereka. Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”

Apakah kata-kata ini juga berlaku bagi sesama anggota Gereja dan karyawan kita yang mungkin karena keterbatasan mereka ada kesalahan yang mereka lakukan. Atau justru ada “penghakiman” dan  “jurang” pemisah lantaran kedudukan sebagai imam, DPP, pengurus lingkungan, stasi serta ketua dan anggota tim kerja paroki?

Siapapun kita, apapun fungsih pelayanan yang kita jalankan baik sebagai imam, DPP, pengurus lingkungan, stasi serta ketua dan anggota tim kerja paroki adalah panggilan untuk melayani semua dan bukan untuk sekelompok orang yang justru melahirkan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme di dalam Gereja. Apalagi jika pilihan untuk “menduduki” fungsih pelayanan tertentu didasarkan pada besarnya sumbangan yang diberikan setiap kali paroki membutuhkan bantuan.

Kita harus akui bahwa kadang fungsih pelayanan yang diberikan kepada kita justru membawa kita pada kesombongan rohani seakan-akan yang melayani Gereja entah apapun posisi kita adalah orang-orang pilihan, tanpa kita semuanya tidak berjalan. Atau masih ada saja yang ditemukan bahwa dalam melaksanakan pelayanan masih ada saja praktek kolusi dan nepotisme; yang dekat dengan saya dan selalu memberikan sumbangan yang didahulukan dan kita sangat cepat menanggapinya misalnya pelayanan misa untuk yang meninggal dan pada saat pelaksanaan vaksin di paroki-paroki.

Kita memang harus rendah hati mengakui kelemahan dan kekeliruan kita termasuk rendah hati juga untuk mengakui bahwa mereka yang hanya umat biasa yang dengan doa-doa mereka dan kerajinan mengikuti misa di gereja adalah juga pelayan Gereja yang mengambil peran sebagai pendoa bagi kita.

Doa-doa mereka, kolekte dan juga kerajinan mengikuti misa adalah bentuk pemberian diri mereka kepada Allah dan Gereja yang juga adalah pelayanan mereka. Maka sudah seharusnya kita memperlakukan mereka juga sama sebagaimana perlakuan kita kepada sesama yang menempati posisi fungsih pelayanan tertentu di paroki.

Meski tidak kelihatan peran mereka, namun seringkali yang tidak kelihatan itulah yang memberikan kontribusi pelayanan yang lebih besar (bdk. Luk 9:46-50).

Santo Vinsensius de Paulo mengatakan;

“The poor have so much to teach you.”, demikian juga mereka yang hanyalah umat biasa bisa memiliki banyak hal yang diajarkan kepada kita yang salah satunya adalah Kerendahan Hati.

Manila: September 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update