-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Tata Bahasa di Media Sosial

Rabu, 22 September 2021 | 16:26 WIB Last Updated 2021-09-22T09:26:36Z
Oleh: Sil Joni*
 
Sebagai seorang 'penulis amatir', pertanyaan berikut ini selalu 'terngiang dalam gendang telinga hati saya'. Apakah aspek tata bahasa dasar 'tidak harus diperhatikan' ketika menulis di media sosial dalam pelbagai platform-nya? Apakah ada semacam 'previlese' bagi media sosial untuk tidak mengindahkan sisi gramatika dalam menulis?

Saya sendiri pun tidak tahu apakah dalam setiap artikel yang saya tulis di ruang ini, unsur gramatika itu sudah diterapkan secara ketat atau tidak. Saya bukan 'ahli tata bahasa'. 

Meski demikian, saya selalu tertantang untuk 'membenahi' aspek tata bahasa dalam menulis. Tentu saja, rujukan saya adalah secuil pengetahun Bahasa Indonesia ketika berada di bangku pendidikan formal.

Mungkin terlalu berat jika masuk ke pembahasan soal struktur kalimat dan paragraf dalam sebuah wacana. Kita coba "mendiskusikan' soal gramatika dasar seperti kaidah penulisan huruf kapital, preposisi, dan tanda baca.

Tidak sedikit tulisan yang berseliweran di ruang digital yang menabrak tiga gramatika elementer di atas. Penulisan huruf besar tidak diperhatikan. Dalam sebuah paragraf misalnya, tidak ditemukan penulisan huruf kapital. Huruf pertama dalam satu kalimat ditulis sama seperti huruf lainnya dalam kalimat itu.

Selain itu, kita sering menemukan kesalahan dalam penulisan preposisi. Umumnya, kita tidak bisa membedakan antara kata depan dan awalan. Sebagai contoh, penulisan di sebagai awalan dan di sebagai kata depan seperti "dipukul" dan di sekolah. Ada yang menulis terbalik, dipukul menjadi di pukul dan di sekolah menjadi disekolah. Ini contoh kesalahan penulisan yang sangat fatal.

Hal yang sama terjadi juga dalam penggunaan 'tanda baca'. Ada yang tidak menggunakan satu tanda baca pun dalam wacana yang ditulisnya. Kita sulit menagkap 'maksud' dari tulisannya sebab semuanya ditulis secara 'bersambung'. Tidak ada tanda untuk memenggal wacana itu sesuai dengan 'pesan' yang mau disampaikan dalam setiap kalimat.

Hemat saya, masih ada di antara warga-net yang tidak tahu bahkan tidak bisa memakai 'tanda baca' dalam tulisannya. Itu berarti mereka sekadar 'tampil atau tayang' (appear), tetapi tidak menulis sesuatu. Mereka hanya 'memindahkan' bahasa tutur ke medium tulisan. Tetapi, apa yang ditulis itu masih jauh dari kriteria bahasa tulis yang baik.

Tragisnya, kesalahan dalam memperhatikan unsur gramatika dalam menulis, kadang dilakukan oleh mereka yang 'tingkat pendidikannya' masuk kategori tinggi. Gelar sarjana yang melekat pada seseorang, termasuk saya, tentu tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kecakapan memakai tata bahasa yang benar dalam menulis.

Bahkan mereka yang saban hari 'berkutat' dengan pekerjaan menulis, masih saja 'melakukan' kesalahan dalam tulisan yang mereka racik di media sosial. Boleh jadi, mereka menganggap bahwa menulis di media sosial itu hanya sekadar 'iseng atau rekreasi'. Tetapi, menurut saya, meski menulis untuk tujuan kesenangan semata, tetapi seagai 'penggembala bahasa tulis', semestinya para jurnalis dan penulis harus berada pada garda terdepan untuk mengedukasi publik bagaimana menggunakan tata bahasa yang benar dalam menulis.

Dengan demikian, seseorang yang sering berkomentar di media sosial dalam pelbagai platform-nya, tidak identik dengan mengerjakan aktivitas literasi. Menulis tidak sama dengan 'memindahkan bunyi bahasa tutur ke bentuk tulisan' di ruang digital. Literasi tidak sekadar mengenal dan menggunakan huruf dalam membahasakan sesuatu, tetapi menuangkan gagasan secara runtut dan sstematis dengan menggunakan perangkat garamatika yang baik dan benar.

*Penulis adalah warga Labuan Bajo.
×
Berita Terbaru Update