-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

๐—•๐—ฎ๐˜†๐—ถ ๐—ฌ๐—ฎ๐—ป๐—ด ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ถ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—น ๐—ง๐—ฎ๐—ป๐—ฝ๐—ฎ ๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—ฟ๐—ถ๐—บ๐—ฎ ๐—ฃ๐—ฒ๐—บ๐—ฏ๐—ฎ๐—ฝ๐˜๐—ถ๐˜€๐—ฎ๐—ป

Senin, 04 Oktober 2021 | 11:56 WIB Last Updated 2021-10-04T04:58:03Z

Tema tentang bayi yang meninggal tanpa menerima Pembaptisan selalu menjadi bahan yang menarik untuk didiskusikan dalam kehidupan menggereja umat beriman Kristiani. Yang sering menjadi pertanyaan bersama adalah soal nasib dan pelayanan rohani yang diberikan pada bayi yang meninggal tanpa menerima pembaptisan. Dan persoalan ini bisa kita lihat bersama baik dari sisi yuridis, teologis maupun pastoral.

Tentang pembaptisan sendiri dalam Kitab Hukum Kanonik kita dibicarakan dalam beberapa nomor kanon (kan.849-878). Tapi yang menarik adalah gagasan teologis dan yuridis yang muncul pada kan.849: “Baptis, gerbang sakramen-sakramen, yang perlu untuk keselamatan, entah diterima secara nyata atau setidak-tidaknya dalam kerinduan, dengan mana manusia dibebaskan dari dosa, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah serta digabungkan dengan Gereja setelah dijadikan serupa dengan Kristus oleh meterai yang tak terhapuskan, hanya dapat diterimakan secara sah dengan pembasuhan air sungguh bersama rumus kata-kata yang diwajibkan.” Ada paling tidak tiga hal menarik disini: pertama, baptis itu perlu untuk keselamatan. Kedua, dengan baptis manusia dibebaskan dari dosa dan yang ketiga, digabungkan dengan Gereja, Umat Allah. Sedangkan nomor-nomor kanon yang lain berbicara soal  perayaan baptis, pelayan baptis, calon baptis, wali baptis dan pembuktian serta pencatatan baptis.
 
Sedangkan dari sisi teologis justru makin menarik tema ini. Diketahui bahwa ada ajaran tradisional (Teori Limbo) yang mengatakan bahwa keadaan di mana jiwa anak-anak yang meninggal tanpa Pembaptisan tidak dapat bertemu dengan Tuhan muka dengan muka atau mengalami “beatific vision“, karena dosa asal, tetapi mereka tidak menderita hukuman apa pun, karena mereka tidak melakukan dosa pribadi. Teori ini, dikembangkan oleh para teolog sejak Abad Pertengahan, tapi tidak pernah masuk dalam definisi dogmatis Magisterium, meskipun Magisterium sendiri menyebutkannya dalam ajarannya hingga Konsili Vatikan II. Oleh karena itu, ajaran ini tetap saja merupakan hipotesis teologis yang mungkin. Namun dalam Katekismus Gereja Katolik (1992) teori diatas (teori limbo) tidak disebutkan, dan sebaliknya diajarkan bahwa, bagi anak-anak yang meninggal tanpa Pembaptisan, Gereja hanya dapat mempercayakan mereka kepada belas kasihan Allah, seperti halnya dalam gereja disediakan ritus atau upacara pemakaman khusus untuk mereka. Artinya bahwa dalam gereja, ada ritus pemakaman khusus bagi anak-anak yang meninggal tanpa menerima pembaptisan. Dari celah ini, bisa kita katakan bahwa pada prinsipnya perlu adanya pelayanan rohani bagi anak-anak yang meninggal tanpa menerima pembaptisan. Pertanyaannya: apakah pelayanan rohani ini dalam rupa Perayaan Ekaristi atau mendoakan dan memakamkan sesuai dengan ritus yang ada itu?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas,  saya ingin kemukakan satu prinsip teologis yang ditegaskan dalam KGK.1261 bahwa Allah menginginkan keselamatan semua manusia memungkinkan kita untuk berharap bahwa ada jalan keselamatan bagi bayi yang meninggal tanpa Pembaptisan. Demikian kutipannya: “Anak-anak yang mati tanpa Pembaptisan, hanya dapat dipercayakan Gereja kepada belas kasihan Allah, seperti yang ia lakukan dalam ritus penguburan mereka. Belas kasihan Allah yang besar yang menghendaki, agar semua orang diselamatkan cinta Yesus yang lemah lembut kepada anak-anak, yang mendorong-Nya untuk mengatakan: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku; jangan menghalang-halangi mereka" (Mrk 10:14), membenarkan kita untuk berharap bahwa untuk anak-anak yang mati tanpa Pembaptisan ada satu jalan keselamatan. Gereja meminta dengan sangat kepada orang-tua, agar tidak menghalang-halangi anak-anak, untuk datang kepada Kristus melalui anugerah Pembaptisan kudus”. 

Kita kembali ke pertanyaan pelayanan rohani macam apa yang bisa diberikan bagi anak-anak yang meninggal tanpa menerima pembaptisan: apa dalam rupa Perayaan Ekaristi atau mendoakan dan memakamkan sesuai dengan ritus yang ada itu? Prinsipnya adalah perlu ada pelayanan dari Gereja dan pilihan pelayanan yang paling bijak dan tepat adalah memakamkan dan mendoakannya (bisa dengan ibadat sabda) sesuai dengan ritus pemakaman dalam Gereja bagi anak-anak yang meninggal tanpa dibaptis. Lalu pertanyaan kemudian bisa berkembang bagaimana dengan peringatan hari ke-3, hari ke-40 dan hari-100, apakah bisa diadakan perayaan ekaristi? Untuk perayaaan ekaristi peringatan arwah pada hari ke-3, ke-40 dan ke-100 bisa dirayakan yang sudah tentu dengan intensi mendoakan keselamatan jiwanya. 

Oleh: Pater Doddy Sasi CMF
×
Berita Terbaru Update