-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

CERPEN: ROSARY

Sabtu, 09 Oktober 2021 | 10:54 WIB Last Updated 2021-10-09T03:58:39Z
Oleh: Videlis Gon, SMM
Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang

Dalam hening-sepi sore ini, Josua kembali duduk di depan beranda rumahnya sembari menyeruput secangkir kopi pahit. Pandangannya tertuju ke arah pantai yang menampilkan panorama senja yang menawan. Situasi ini sangat menyenangkan hatinya, sehingga hampir setiap sore selama masa liburannya ia selalu meluangkan waktu untuk menikmati fenomena alam ini. Apa bila ia merasa jenuh, pusing dan galau, niscaya ia selalu berada di beranda rumah waktu sore hari. Baginya senja itu bak oase dalam kesehariannya. Senja itu memunculkan seabrek imajinasi, kedamaian dan ketenangan yang mendalam dalam hatinya; senja itu bak sahabat tanpa suara baginya. Dalam heningnya senja, ia dapat berpikir jernih dan menemukan setitik embun segar atas setiap persoalan yang dialaminya. 

Sore ini ia kembali duduk di beranda rumah sembari  menikmati panorama senja bukan tanpa alasan yang jelas. Dirinya sedang galau memikirkan nasib Rosary, kekasih hatinya. Kurang lebih selama seminggu ini  tidak ada komunikasi yang terjalin antara mereka berdua. Josua telah berulang kali mencoba untuk menelpon Rosary, tetapi tak pernah dijawab.  Bahkan ketika Josua me-chat Rosary di akun Facebooknya pun tidak digubris sama sekali. Sikap Rosary ini membuat Josua bingung dan resah. Ia sama sekali tidak tahu alasan Rosary bersikap demikian. Padahal, sebelumnya tidak ada permasalahan yang terjadi antara mereka berdua. Situasi ini, membuat dia tidak sabar lagi untuk berjumpa dengan Rosary. Memang akhir-akhir ini ia ingin segera kembali  ke kota untuk meminta klarifikasi dari Rosary, tetapi ia juga tidak tega meninggalkan bapanya yang saat ini sedang sakit. “Ah…Rosary..Rosary..mengapa engaku bersikap seperti ini terhadapku,”gertu Josua.

                                                              ****

Sore ini pada saat yang sama Rosary hanya duduk diam membisu di kamarnya. Sudah seminggu ia mengurung diri di dalam kamar. Ia tidak mau bertemu dengan siapa pun, bahkan dengan teman-temannya pun tidak. Rosary bersikap seperti ini lantaran malu karena seminggu yang lalu suatu peristiwa nahas menimpa dirinya. Ia dirampok sekaligus dilecehkan oleh seorang perampok di tepi jalan tatkala pulang dari kantor. Beruntung bahwa ada beberapa warga sekitar itu yang melihatnya dan segera membantunya. Sementara itu, perampok tersebut berhasil melarikan diri dan saat ini masih dalam pencarian pihak kepolisian. 

Bagi Rosary, peristiwa tersebut adalah suatu tamparan keras. Ia sangat terpukul dan terbebani secara mental. Ia tidak berani lagi pergi ke kantor lantaran masih trauma dengan peristiwa itu. Ia telah kehilangan kepercayaan diri untuk berjumpa dengan orang lain dan mengekspresikan diri. Yah…tidaklah mengherankan apabila dia tidak merespons sama sekali telepon dan chat dari Josua. Ia telah menganggap dirinya tidak pantas lagi untuk menjadi kekasih Josua. 

Dalam situasi pilu ini, Rosary tidak berani mensharingkan peristiwa nahas itu kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua dan teman-temannya, apalagi kepada Josua. Ia malu dan takut kalau-kalau dicap sebagai wanita yang tidak murni lagi dan diputus oleh Josua. Karena itu, selama ini ia hanya mengurung diri dalam kamar dan meluapkan segala perasaannya dalam buku catatan hariannya. Baginya, buku tersebut adalah sahabat yang setia untuk mendengarkan segala unek-uneknya tanpa menilai atau pun mengkritiknya. 

Dalam hening-sepi sore ini dengan suasana hati yang pilu, Rosary kembali duduk di depan meja belajarnya dan mulai merangkai kata demi kata pada buku catatan hariannya. “Hidup ini sungguh tragis. Tidak ada kebahagiaan sejati yang kualami. Malahan ada banyak penderitaan yang datang silih berganti. Apa yang kuharapkan dan kuimpi-impikan seringkali berbenturan dengan kenyataan yang terjadi. Ah..sungguh sadis…sungguh pedih kurasa. Masa mudaku buram, tak bersinar lagi bak mentari, tak bercahaya lagi bak bintang kejora. Kini pupus sudah harapanku. Aku telah dinodai, aku telah dilecehi, aku tidak berharga lagi, aku tidak pantas lagi untuk Josua. Ah…Tuhan mengapa peritiwa nahas ini menimpaku? Apa kesalahan dan dosaku sehingga Engkau membebaniku dengan masalah sekejam ini? Di manakah letak keadilan dan rasa belaskasihan-Mu kepadaku?”. Setelah menulis ini, bendungan air mata Rosary pun pecah. Syaraf-syarafnya kaku-membeku. Otot tangannya melemah. Ia tidak mampu lagi memegang pena tuk melanjutkan tulisannya. Sementara itu, suara tangisnya terdengar sampai di luar kamarnya. 

Beberapa menit kemudian mamanya datang dan mengetok pintu kamarnya…Rosary…Rosary, panggil mamanya. Mendengar itu, Rosary pun bangkit dan segera membuka pintu. Seketika ia dan mamanya pun berpelukkan. Rosary tidak bisa menahan tangis pilunya. Ia tidak mampu berkata-kata lagi. Mamanya hanya diam-membisu menyaksikan tangis putrinya yang menyayat hati. Ia hanya memeluk Rosary dengan erat sembari membelai rambutnya dan tanpa melontarkan sepatah kata pun.
Sejenak keheningan pun tercipta. Tangisan Rosary perlahan-lahan mereda. Ia mulai merasa tenang dalam dekapan mamanya. “Ros, hari sudah malam. Mari kita makan malam dulu. Mama sudah memasak nasi kuning, makanan kesukaanmu,” bisik mamanya.  Terima kasih ma. Memang mama itu pribadi yang pengertian, ujar Rosary.
 
                                                             ***

Gelap malam kian pekat. Suara bising kendaraan perlahan-lahan menghilang. Sementara itu, Rosary dan mamanya sedang duduk berdampingan di ruang tamu dalam suasana hening.  “Ros.. tolong ceritakan kepada mama mengapa engkau bersikap aneh seperti ini,” suara mamanya memecah keheningan. Rosary pun menceritakan peristiwa nahas yang telah menimpanya secara medetail dan perasaannya serta beban yang dialaminya sekarang ini kepada mamanya. Mamanya pun tidak dapat menahan tangisnya. Ia memeluk Rosary dengan erat. “Nak…kamu harus tetap kuat. Kamu tidak boleh patah semangat, kamu tidak boleh menyerah dalam keadaan ini. Memang ini tragis, tetapi kamu tidak boleh berhenti. Engkau berhak untuk terus melanjutkan hidupmu. Sadarilah selalu cuma ada satu waktu yang paling penting, yakni sekarang juga! Maka gunakanlah waktumu sebaik mungkin. Ros…engkau masih sangat muda. Ada banyak mimpi dan cita-cita yang masih dapat engkau gapai. Ingat Ros..seorang penyair (Dosfel) pernah mengatakan: masa muda tanpa mimpi bagaikan musim semi tanpa sinar mentari pagi. Karena itu, bangkitlah, pandanglah ke depan dan wujudkanlah mimpimu. Teruslah bermimpi dan jangan berhenti bergerak…Engkau tahu tidak Alberth Einstein pernah mengatakan hidup ini seperti naik sepeda, dimana agar tetap dalam keadaan seimbang, maka engkau harus terus bergerak. Dan jangan lupa untuk terus berdoa dan menyerahkan seluruh pergulatan hidupmu pada Tuhan,” ujar mamanya. Perkataan mamanya ini sungguh menyejukkan hati Rosary. Ia telah mendapat peneguhan dan inspirasi baru tentang bagaimana semestinya menjalani hidup. “Terima kasih ma,” kata Rosary sembari memunculkan sesimpul senyum pada pipihnya yang ranum. 

Tak terasah jam dinding di ruang tamu telah menunjukan pkl. 22.00 WIB. Rosary dan mamanya pun kembali ke kamar masing-masing tuk beristirahat. Sebelum memejamkan mata, Rosary kembali merangkaikan kata demi kata pada buku catatan hariannya tuk mengabadikan pengalamannya sepanjang hari itu. 

                                                               ***

Malam berlalu begitu cepat. Lampu-lampu jalan mulai padam satu per satu. Suara deru kendaraan mulai terdengar di gang-gang. Kicauan burung mulai terdengar bersamaan dengan sinar mentari pagi yang merekah, memercikkan cahaya ke bumi. Kring..krinng…kring… bunyi weker di kamar  Rosary kembali terdengar. Rosary pun segera bangun dari lamunan tidurnya. Pagi ini ia bangun dengan suasana hati yang tenang dan gembira. Ia tidak merasa terbebani lagi oleh masalah itu. “Tuhan terima kasih atas anugerah kehidupan, kesehatan, dan perlindungan yang masih Engkau berikan kepadaku hingga saat ini. Aku sadar bahwa aku manusia lemah-tak berdaya. Engkaulah penopang hidupku, Engkaulah sumber sukacita dan kekuatanku. Kedalam tangan-Mu kuserahkan segenap jiwa-ragaku, kehendak dan pikiranku sepanjang hari ini. Tuhan, terjadilah padaku hari ini menurut kehendak-Mu,” secuil doa Rosary pagi ini. 

Walaupun atmosfer hatinya mulai membaik, tetapi hari ini Rosary memutuskan untuk tetap di rumah. Sebagian waktu hari ini ia habiskan untuk membersihkan rumah, menyiram tanaman dan bersenda gurau dengan mamanya. Gelak tawa dan senyum Rosary yang manis hari ini menyejukkan hati mamanya. “Tuhan, terima kasih atas rahmat sukacita yang kembali Engkau anugerahkan kepada putriku,” kata mamanya dalam hati.

                                                              ***
Beberapa hari kemudian Rosary mulai beraktivitas seperti semula lagi. Ia sudah masuk kantor dan sudah bisa menerima keadaannya apa adanya. Di sisi lain ia juga sudah siap untuk mendengar keputusan dari Josua terkait hubungan mereka. Setiap hari ia selalu mengawali hari dengan berdoa, “Tuhan terjadilah padaku pada hari ini menurut kehendak-Mu”.

                                                              ***

Sementara itu, Josua telah mendengar informasi tentang peristiwa nahas yang menimpa Rosary dari teman-temannya. Karena itu, sore ini ia pergi ke rumah Rosary tuk berjumpa dengannya. Tok..tok..tok..Rosary…Rosary, panggil Josua. Beberapa menit kemudian, Rosary muncul untuk membuka pintu. Seketika keheningan tercipta. Mereka saling beradu pandang tanpa berkata apa-apa.  Sekejap Josua pun langsung memeluk Rosary dengan erat. Rosary hanya diam membisu sembari meneteskan air mata. “Rosary…aku telah mendengar semuanya. Aku tahu itu sangat menyedihkan…Tetapi percayalah aku akan ada untukmu selamanya.  Aku sayang kamu, aku mencintaimu, aku menerimamu apa adanya. Cintaku tak pernah luntur untukmu.” Rosary pun tersenyum bahagia mendengar ungkapan hati Josua. Ia tak menyangka Josua bisa menerima dia dengan tulus hati.

                                                              ***

Beberapa bulan kemudian mereka pun menikah. Rosary sangat bersyukur kepada Tuhan karena dianugerahi suami yang baik dan tulus hati seperti Josua. Pada dinding Facebooknya waktu hari pernikahannya, Josua menulis demikian:

Rosary…
Gadis di balik sepi
Saban hari tak yang lain di memori
Rona wajahmu tak menepi
Tak lenyap diterpa badai

Rosary…
Gadis kemarin, hari ini dan nanti
Engkau abadi di hati, bukan ilusi
Engkau nyata, bukan rekayasa
Rosary aku mencintaimu

×
Berita Terbaru Update