-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Good Samaritan (Luk 10:25-37): Tak Mabuk Agama, Tak Klaim Surga

Selasa, 05 Oktober 2021 | 06:20 WIB Last Updated 2021-10-04T23:20:39Z

“Dari mereka yang kita anggap berdosa bahkan kafir sekalipun, kita bisa belajar menjadi seorang beragama dan pemuka agama yang benar serta menjadikan semua sebagai sesama saudara.”

Orang Samaria yang baik hati menjadi cermin bagi yang mengaku beragama, ber-Tuhan dan beriman. Orang Samaria oleh orang Yahudi bukan Israel sejati maka dari itu tidak pantas bergaul dengan mereka (bdk. Yoh 4:9) justru memberikan pelajaran berharga bagi yang mengaku beragama, ber-Tuhan dan beriman.

Saat banyak orang beragama bahkan oknum pemuka agama ribut soal agama, Tuhan serta menghujat kafir bagi yang berbeda, Good Samaritan justru menegaskan bahwa beragama dan beriman harus bisa melampaui segala doktrin dengan menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih.

“Mereka yang kita anggap bukan saudara kita, seringkali justru membawa wajah Allah yang berbelas kasih bagi kita. Sedang yang merasa pilihan Allah justru menutup bahkan menjauhkan wajah Allah yang berbelas kasih karena masih sibuk membangun klaim-klaim kesombongan diri.” 

Ketika banyak orang beragama mengagungkan doa, ibadah dan kepandaian menafsirakn ayat-ayat suci seraya mengkapling surga bagi kelompoknya, Good Samaritan menegaskan kepada kita bahwa kualitas tertinggi dari segala doa, ibadah dan menghafal serta menafsirkan ayat-ayat suci adalah tindakan baik untuk semua dan menjadikan semua sebagai saudara.

Good Samaritan menegaskan bahwa untuk yang berbeda sekalipun, Allah tetap membuka pintu surga bagi mereka ketika selama kita masih berziarah di dunia ini mampu membuka pintu surga bagi sesama saudara kita meskipun berbeda dalam kebaikan kepada sesama. Good Samaritan memperjelas keberadaan surga bahwa surga bukan yang dipikirkan melainkan surga adalah menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih bagi semua,

“Pada akhirnya segala ketekunan kita berdoa dan kepandaian mengajarkan ajaran-ajaran agama akan menemukan kualitasnya pada tindakan baik kita untuk semua.”

Surga bukanlah sesuatu yang abstrak. Surga itu nyata dan dialami ketika belas kasih Allah dihadirkan oleh kita. Good Samaritan menegaskan kepada kita bahwa jaminan surga tidak hanya terletak pada ketekunan berdoa dan beribadah tetapi jaminan surga ada pada kualitas doa dan ibadah yaitu tindakan baik yang dilakukan untuk semua tanpa pernah memandang perbedaan.

“Sebaliknya semua yang kita anggap benar dan hanya kitalah yang benar menjadi tidak berkualitas ketika kita menutup jalan bagi yang lain untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang Allah kehendaki, bahkan menutup pintu bagi yang lain untuk bersaudara dengan kita.”

Maka ketika banyak orang beragama masih sibuk mempersoalkan agama lain bahkan mengkapling surga sebagai milik mereka, sejatinya orang itu pakaiannya beragama namun hati dan hidupnya tidak terbiasa berjumpa dengan Tuhan karena hanya pikiran dan kehendak pribadi yang dikedepankan (bdk. Irenius dari Lyon di dalam KGK. 53).

Good Samaritan mengajarkan kepada kita bahwa bukan sekedar pakaian agama dengan segala doktrin yang digembar-gemborkan namun yang paling penting adalah membiasakan diri bertemu dengan Allah di dalam diri setiap orang yang berkehendak baik dan menjadikan semua sebagai saudara sehingga wajah Allah yang berbelas kasih boleh dijumpai dalam tindakan baik kita.

Good Samaritan mewartakan kepada kita bahwa selama masih ada umat dan tokoh agama sibuk menghujat agama lain, sibuk memperebutkan Tuhan dan mengkapling surga maka selama itu pula ia akan terus menjadi seorang beragama yang tidak bahagia karena ia tidak akan pernah berjumpa dengan Tuhan dalam tindakan baik sesamanya yang berbeda.

Manila: 04-Oktober 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update