-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

HUKUMAN SISYPHUS BERBEDA DARI KONDISI MANUSIA

Senin, 04 Oktober 2021 | 19:36 WIB Last Updated 2021-10-04T12:37:32Z

[…Hidup layak dihormati  bukan disembah…]

Mengklaim bahwa hidup kita mirip dengan Sisyphus adalah salah dan berbahaya. Dalam mitologi Yunani para dewa memberikan hukuman yang mengerikan kepada Sisyphus. 

Dia harus mendorong batu yang berat ke atas bukit, tetapi sesaat sebelum berhasil menempatkan batu itu di puncak bukit, batu itu berguling menuruni bukit, dan Sisyphus harus turun dan mulai dari awal lagi. Sisyphus harus melakukan ini terus menerus tanpa henti.

Filsuf eksistensialis Prancis Albert Camus membahas kisah ini dalam bukunya yang terkenal The Myth of Sisyphus. Camus menganggap hidup kita serupa dengan Sisyphus. Dia percaya bahwa seperti kehidupan Sisyphus, kehidupan kita juga tidak masuk akal terlebih lagi tidak dapat diperbaiki lagi.  

Masing-masing kita tentunya memiliki seperangkat argumen untuk mempertimbangkan dalil yang diajukan Camus prihal hukuman Sisyphus atas hidup manusia.  Mungkin saja ada yang bersimpati dengan gagasannya. Saya sendiri mengklaim Camus salah; sebab hidup itu sendiri tidak pernah absurd atau sia-sia. Berikut argumentasinya:

PRESTASI
Benar bahwa usaha Sisyphus sia-sia; dia tidak pernah berhasil dalam apa yang dia lakukan. Namun, banyak dari kita berhasil dalam beberapa usaha yang kita lakukan. Artinya tidak terlibat dalam usaha yang sia-sia seperti Sisyphus kerjakan.

NILAI HIDUP
Apa yang dipaksa untuk dicapai Sisyphus, yaitu meletakkan batu di atas bukit adalah konyol dan tidak memiliki nilai sebab itu adalah hukuman yang dia harus terima. Bahkan jika Sisyphus berhasil dalam usahanya, tidak ada yang berharga yang akan diperoleh. Hidup kita berkata lain. Beberapa usaha yang kita capai atau kita peroleh adalah berharga. 

KESENANGAN
Aktivitas Sisyphus mendorong sebuah batu besar ke atas bukit terlihat tidak menyenangkan dan menyakitkan. Para dewa menghukumnya untuk terus mendorong batu itu selamanya. Sisyphus harus mengulang terus-menerus hanya satu kegiatan. Ini pasti membosankan. Hidup kita pastilah tidak demikian. Ada siklus dan ragam kegiatan di dalamnya serta menyenangkan di beberapa titik.   

KEBEBASAN
Sisyphus tidak memilih sendiri aktivitas yang dia lakukan. Dia dipaksa untuk melakukannya di luar keinginannya. Namun, banyak dari kita secara mandiri memilih aspek penting dari kehidupan dan aktivitas kita. 

KOMUNITAS HIDUP
Sisyphus harus terus melakukan hukuman dan hidupnya dalam kesepian tanpa ada orang lain yang membantu.  Sementara hidup kita bertetangga, berkomunitas, bersahabat memudahkan kita untuk mengatasi beberapa persoalan hidup yang kita hadapi. 

Dengan demikian, perbedaan antara kondisi Sisyphus dan kita terlalu banyak dan signifikan untuk melihat hidupnya sebagai perumpamaan yang sesuai dengan kita. Kehidupan yang kita jalani jauh dari kata absurd seperti Sisyphus. 

Sumber: Albert Camus, The Myth of Sisyphus, in The Myth of Sisyphus and Other Essays, trans. Justin O'Brien (New York, Knopf, 1955).

Oleh: Pater Garsa Bambang MSF
×
Berita Terbaru Update