-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kristen Itu Iman, Bukan Sekedar Pengakuan Hak Sipil!

Senin, 04 Oktober 2021 | 15:07 WIB Last Updated 2021-10-04T08:07:34Z
Ke-Kristenan pertama-tama adalah iman kepada Yesus Kristus dalam kesatuan berkat pewartaan para rasul dan bukan penyatuan perpecahan dari berbagai komunitas gerejawi hanya untuk sebuah pengakuan hak-hak sipil dan politik.

Lahirnya ke-Kristenan berawal dari peristiwa Pentekosta (Kis 2:1-13) yang menggerakan para rasul untuk mewartakan Kristus (Kis 2:14-40) dan dari pewartaan para rasul terutama melalui kotbah Petrus terbentuklah Jemaat Perdana (Kis 2:41-47) yang mengimani Kristus dan memberikan diri untuk dibaptis.

Dalam Kisah Para Rasul bab 11 ayat 1 dan 19 dengan jelas disampaikan bahwa para Rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima Firman Allah. Artinya penerimaan Firman Allah oleh bangsa-bangsa lain (non Yahudi) yang belum mengenal Kristus berawal dari pendengaran berkat pewartaan para Rasul dan juga saudara-saudara lainnya yang tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia setelah penganiayaan terhadap Stefanus (bdk. Kis 11:19) yang oleh Gereja dihormati sebagai Martir pertama yang perayaannya dirayakan pada tanggal 26 Desember.

Berawal dari peristiwa Pentekosta yang kemudian terbentuk komunitas Jemaat Perdana (Gereja Perdana) hingga penyebutan Kristen bagi yang percaya dan mengimani Kristus sebagaimana yang dikisahkan dalam Kisah Para Rasul 11:26; “Di Antiokialah untuk pertama kalinya mereka yang mengimani dan mengikuti Kristus disebut Kristen” tidak terlepas dari peran pewartaan para rasul, dimana Petrus yang menjadi ketua para rasul dan melalui proses yang panjang.

Dalam konteks ini nampak jelas bahwa ke-Kristenan yang lahir setelah peristiwa kebangkitan Yesus Kristus tidak terlepas dari pewartaan para Rasul yang mana Santo Petrus menjadi ketua para rasul dan bersama saudara-saudara yang lain yang sudah mengimani Kristus seperti Stefanus, Paulus dan Barabas.

Dari perjalanan ke-Kristenan awal ini menjadi jelas bahwa orang-orang yang mengimani Yesus Kristus adalah mereka yang belum mengenal Kristus sebelumnya termasuk mereka yang beragama Yahudi dan pada akhirnya mengimani Yesus Kristus dan mengikuti-Nya karena peranan para Rasul didalam mewartakan Yesus Kristus.

Dari sini nampak jelas bahwa Tradisi Apostolik memiliki peranan yang sangat besar dalam terbentuknya komunitas Kristen awal. Artinya terbentuknya komunitas Kristen awal pertama-tama adalah soal iman yang berawal dari pendengaran akan pewartaan tentang Kristus oleh para Rasul (bdk. Rom 10:7).

Maka akan menjadi rancu dan pengaburan historisitas serta makna ke-Kristenan Awal ketika di Indonesia penyebutan nama Kristen hanya untuk komunitas gerejawi lainnya yang “non Katolik” sedangkan nampak sangat jelas bahwa yang meneruskan peranan dan Tradisi Apostolik hingga hari ini adalah Gereja Kristen Katolik.

Ke-Kristenan awal itu terbentuk karena iman akan Kristus dimana sebelumnya mereka belum mengenal dan mengimani Yesus Kristus, namun yang terjadi di Indonesia justru maaf agak sedikit “aneh” karena penyebutan Kristen kepada komunitas gerejawi lainnya justru berawal dari perpecahan dimana sebelumnya mereka sudah mengimani Kristus.

Adalah sebuah penghilangan bahkan pelecehan fakta sejarah ketika-jika benar bahwa-penyebutan Kristen bagi komunitas gerejawi lainnya untuk membedakan dengan Katolik demi pengakuan hak-hak sipil serta politik. Jika bukan untuk pengakuan hak-hak sipil dan politik, lantas mengapa Kristen hanya untuk komunitas gerejawi lainnya demi membedakan dengan Katolik, padahal Katolik sendiri adalah Kristen?

Kita selalu mengatakan jangan sekali-kali melupakan sejarah, maka dalam hal penyebutan Kristen juga jangan sekali-kali melupakan sejarah. Boleh-boleh saja menggunakan kata Kristen namun jangan menjadikan penyebutan itu untuk membedakan dengan Katolik. Karena jika kita mau jujur pada sejarah dan mencintai sejarah kita akan dengan mudah, berani dan jujur mengakui bahwa semua yang menyebut diri Kristen untuk membedakan dengan Katolik sejatinya berawal dari satu rahim yang disebut Katolik.

Hanya yang mencintai sejarah akan dengan mudah mencintai identitasnya yang sesungguhnya meski tidak diakui. Yesus Kristus juga ditolak di daerahnya sendiri (Luk 4:16-30), mengapa menjadi pengikut Kristus harus takut ditolak?

Manila: 03-Oktober 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update