-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menggenggam Harta (Markus 10:17-30)

Minggu, 10 Oktober 2021 | 13:31 WIB Last Updated 2021-10-10T06:35:04Z

Mengumpulkan harta secukupnya atau bahkan berlimpah-limpah itu ambisi wajar setiap manusia. Tentu pengandaiannya, jika harta berlimpah, segala kebutuhan terpenuhi. Mau apa saja, bisa diperoleh. Akan tetapi, harta bisa ‘menghambat’ kerinduan seseorang untuk menggapai nilai yang lebih tinggi. Maksudnya, sikap sayang harta atau lekat hati pada harta menghambat seseorang untuk berlangkah ke arah hidup yang lebih bermutu dan menjanjikan kebahagiaan batin tertentu.

Sikap sayang harta atau lekat hati pada harta itulah yang dimiliki oleh seseorang dalam bacaan Injil hari ini. Ia mendatangi Yesus dan bahkan berlutut di hadapan-Nya hanya untuk bertanya, apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal. Menurut Yesus, hidup yang kekal itu diperoleh ketika seseorang taat menghayati segala perintah Allah. Perintah itu antara lain, jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, jangan mengurangi hak orang dan menghormati ayah dan ibu. Orang itu dengan tegas mengatakan bahwa semua perintah Allah itu telah dilakukannya, bahkan sejak masa mudanya. Hebat sekali, bukan?

Tentu saja Yesus kagum dengan pengakuannya. Akan tetapi, Yesus menantangnya dengan hal lain yakni meninggalkan harta. “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin. Maka, engkau akan beroleh harta di surga. Kemudian, datanglah kemari, dan ikutilah Aku.” Rupanya tantangan ini terlampau berat baginya. Ia kecewa, bahkan sedih. Hartanya berlimpah dan ia tak rela menjualnya atau memberinya kepada orang-orang miskin. Orang tersebut sangat sayang pada hartanya; hatinya tertambat pada hartanya. Kelekatan hati pada harta membuatnya tidak bisa memperoleh hidup kekal dan tidak bisa mengikuti Yesus. Ia tidak bisa menggapai nilai yang lebih tinggi karena dihalangi oleh cintanya kepada harta.

Kita pun kadang-kadang demikian. Setiap hari sibuk mencari harta; sibuk mengumpulkan harta. Bisa jadi, saking sibuk mengumpulkan harta, kita pun lupa untuk bersyukur kepada Tuhan. Tak ada waktu untuk berdoa; tak ada waktu ikut misa atau ibadat pada hari minggu. Kita menganggap bahwa semuanya itu diperoleh karena kerja keras kita semata. Saking sibuk mengumpulkan harta, bisa jadi kita juga mengabaikan perjumpaan pribadi dengan keluarga atau  sahabat atau sesama di sekitar; bahkan tidak terlibat dalam kegiatan di lingkungan atau Kelompok Basis Gerejawi (KBG) atau kegiatan sosial-kemasyarakatan. 

Dan, setelah harta mulai menumpuk, kita terlampau erat menggegamnya. Hati kita tertambat pada harta dan tak ingin kekurangan. Ketika ada sesama di sekitar kita yang berkekurangan, pintu hati bahkan pintu rumah kita pun tertutup untuknya. Maksudnya, kita tidak peduli. Kita enggan membagi-membantu, walau sedikit. Kita takut kekurangan harta! Emang harta dibawa ke liang kubur? Entahlah...

Menurut saya, hidup ini terasa indah jika kita tahu bersyukur dan mau berbagi apa yang kita miliki dengan orang lain. Hidup ini bermutu jika kita peduli dengan sesama. Meskipun kecil, bantuan sangat berarti bagi yang membutuhkannya. Dan, kita melakukan hal-hal kecil itu tapi dengan cinta yang besar! Bukankah ini yang diharapkan oleh Tuhan Yesus agar kita memperoleh hidup yang kekal?*** 

"Salam Minggu; Tuhan Memberkati!"

Oleh: Pater Lorens Gafur SMM
×
Berita Terbaru Update