-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Penjilat Tuhan; Beragama Tanpa Tuhan

Rabu, 06 Oktober 2021 | 14:48 WIB Last Updated 2021-10-06T07:48:19Z
Kecemburuan pada kebaikan dan kerja keras sesama rekan kerja, seringkali membuat sebagian orang mencari cara untuk bisa menjatuhkannya entah dengan menjelekan ataupun memfitnah didepan bos, membuat jebakan dan mencari muka ketika bekerja. Saat ada bos rajinnya minta ampun, saat bosnya tidak ada, malah ia sendiri berlagak bos.

Berusaha menjilat bos, namun bekerja tanpa komitmen, kesetiaan dan ketekunan. Nampaknya bekerja namun sejatinya tidak menghayati dan memaknai nilai dari kerja itu sendiri yaitu untuk kebaikan bersama dan pengembangan talenta yang sudah diberikan oleh Tuhan.

Kenyataan demikian juga sekarang sedang ramai terjadi di kalangan umat beragama. Karena cemburu melihat agama lain, misalnya Kristen Katolik yang tetap bersatu dan tetap setia menjadi “Misionaris” Perdamaian meski diterpa berbagai gelombang cobaan, maka mereka mulai “menjilat” Tuhan dengan mengatakan Kristen Katolik tidak Alkitabiah, menyembah patung, Kristen Katolik bukan Kristen serta mulai memperdebatkan ajaran-ajaran iman dan Tradisi Gereja.

Mereka “menjilat” Tuhan dengan menunjukan seakan-akan bahwa merekalah yang empunya agama yang paling benar namun mereka sendiri tidak menghayati ajaran-ajaran Tuhan dimana Tuhan sendiri tidak pernah cemburu melihat kebaikan umat-Nya. Nampaknya mereka beragama namun tak ber-Tuhan karena yang mereka gembar-gemborkan adalah pikiran dan kata-kata mereka sendiri.

Setiap agama memiliki ajaran masing-masing yang diyakini sebagai ajaran Tuhan. Artinya seseorang bergama karena Tuhan. Maka jika masih ada orang yang mengaku beragama namun masih mempersoalkan ajaran agama lain, itu tandanya bahwa ia menggugat dan mempersoalkan ajaran Tuhan sendiri. Ia menjadikan Tuhan sebagai “alat” debat. Yang mereka perdebatkan bukan ajaran agama lain, tetapi Tuhan.

Penjilat Tuhan, beragama tanpa Tuhan pasti selalu cemburu dengan kebaikan agama lain. Kebaikan dan kebenaran agama lain bukan dijadikan sebagai inspirasi bagi mereka untuk menjadu lebih baik dan benar tetapi dilihat sebagai persaingan. Maka caranya adalah memfitnah dan mengobrak-abrik ajaran agama lain sesuai dengan kehendak mereka sendiri walau sekali lagi dengan “menjilat” nama Tuhan. 

Mengapa mereka sampai memfitnah agama lain? Alasan sederhana saja yaitu karena tidak menemukan kesalahan dan keburukan pada agama lain. Yang ditemukan adalah kebaikan dan kebenaran, namun untuk mengakui kebaikan dan kebenaran agama lain pasti malulah maka, memfitnah itu sudah menjadi jalan mereka.

Kecemburuan itu berawal dari sikap kurang bersyukur atas kebaikan dan kebenaran agamanya sendiri sehingga tidak mampu melihat kebaikan dan kebenaran pada agama lain. Kehadiran agama lain dianggap sebagai saingan dan bukan inspirasi. Karena melihat agama lain bukan sebagai inspirasi melainkan saingan maka memunculkan cara-cara keji dengan menjelekan dan memfitnah agama lain.

Lihat saja para koruptor. Apakah yang korupsi itu orang-orang miskin semua? Kebanyakan adalah orang kaya dan bergama pula. Bahkan nampak paling religius. Namun mereka bisa korupsi karena satu hal yang tidak mereka miliki yaitu rasa syukur. Tidak mensyukuri kekayaan yang sudah mereka miliki dan akhirnya selalu cemburu dengan kekayaan orang lain.

Keberhasilan orang lain dianggap sebagai saingan dan bukan inspirasi untuk menghasilkan lebih banyak dengan cara yang baik dan benar. Karena sebagai saingan maka berusaha menghalalkan segala cara untuk bisa melebihi kekayaan saingannya. Korupsi dianggal “halal” karena telah dibutakan oleh kecemburuan.

Hilangnya rasa syukur di kalangan orang bergama, mengakibatkan mereka jatuh pada kebencian dan fitnah dengan mengatasnamakan Tuhan agar tindakan fitnah dianggap sebagai kehendak Allah. Allah hanya dijadikan tameng dan merasa dekat dengan-Nya saat hendak membenci dan memfitnah agama lain, namun sejatinya mereka menjauhkan Allah dari hati mereka. 

Orang beragama yang ber-Tuhan adalah yang selalu mensyukuri agamanya sendiri tanpa membenci dan memfitnah agama lain. Orang beragama yang ber-Tuhan adalah yang selalu melihat kehadiran agama lain adalah untuk kebaikan dan kebenaran dan bukan saingan walaupun masing-masing mengimani kebenarannya sebagai kebenaran sejati.

Orang beragama yang ber-Tuhan adalah yang membiasakan diri menerima dan menjumpai Allah di dalam hatinya dan yang selalu menjadikan hatinya sebagai tempat di mana Allah bersemayam yang melahirkan rasa syukur.

“Maka janganlah mencari Allah di agama lain, namun temuilah terlebih dahulu Allah di dalam hatimu, di dalam agamamu dan akan menjumpai Allah pada agama lain.” Karena jika tidak kita seperti “kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran.” (Mat 23:27).

Manila: 06-Oktober 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update