-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Rosario Menyatukan Perbedaan: Kisah Seorang Imam Dan Muslimah

Senin, 04 Oktober 2021 | 12:11 WIB Last Updated 2021-10-04T05:11:43Z

Ketika simbol-simbol keagamaan menjadi sebuah ketakutan untuk mengatasi perbedaan, maka sejatinya kita sedang menjauhkan Tuhan diantara kita bahkan di hati kita sendiri.

Simbol-simbol keagamaan adalah jalan untuk bertemu dan berjumpa dengan Tuhan sekaligus membagikan rahmat dan berkat Allah kepada setiap orang. Setiap orang dan agama memiliki keyakinan dan iman tersendiri atas simbol-simbol keagamaan yang ada di dalam agamanya. Sebagai seorang Katolik, saya mengimani bahwa setiap simbol agama yang dikuduskan adalah jalan untuk menghadirkan Kerajaan Allah termasuk jalan untuk menjumpai dan membagikan berkat Allah bagi sesama.

Bunda Maria hadir dalam Rosario untuk menegaskan kehadiran Kerajaan Allah;

“Karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nyag  adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya (Luk 1:49-51).

Demikian juga melalui Rosario, Bunda Maria memuliakan Allah sekaligus membagikan rahmat sukacita yang diterimanya dari Allah; 

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Luk 1:46-48).

Dari dan melalui doa Rosario, Bunda Maria mengajarkan kepada kita umat Katolik bahwa fokus dan tujuan utama berdoa Rosario adalah menjumpai Allah dan menghadirkan Kerajaan-Nya yang meraja dan menguasai kita, sehingga melahirkan sukacita dan kerendahan hati untuk menjumpai sesama dan membagikan berkat Allah kepada mereka.

Rosario sebagai jalan untuk menjumpai Allah dan merasakan serta mengalami kehadiran Kerajaan-Nya yang mengatasi perbedaan dan kesombongan hati adalah spiritualitas iman doa Rosario yang diajarkan oleh Bunda Maria kepada kita. Maka dari itu dalam setiap untaian doa Salam Maria, kita juga memohon agar rahmat yang telah diterima oleh Bunda Maria juga diberikan kepada kita; “Terpujilah (terberkatilah) buah Tubuhmu.”

Artinya berkat yang diterima Bunda Maria karena mengandung dan melahirkan Yesus Kristus, juga diterima oleh kita saat kita mendoakan doa Salam Maria dalam doa Rosario dan membagikan berkat tersebut yang mengatasi perbedaan untuk persatuan dan kesatuan yang dilambangkan oleh lingkaran Rosario yang membentuk sebuah ikatan dan kesatuan yang menyeluruh dan kuat.

Pengalaman perjumpaan dengan sahabat saya Erma Wulandari, seorang Muslimah tulen yang mengunjungi saya di pastoran paroki Santo Lukas Temindung-Samarind pada tahun 2013 yang lalu ketika mengantarkan baju Gusdurian dan poster Gus Dur menyadarkan saya akan spiritualitas Rosario yang menghadirkan Kerajaan Allah dan melahirkan semangat kerendahan hati.

Ketika masuk di ruang tamu, Erma melihat sebuah Rosario yang masih baru di atas meja. Ia kemudian meminta Rosario itu agar diberikan kepadanya. Awalnya saya tidak mau karena menghormati agama dan imannya. Namun ia terus meminta dan meyakinkan saya bahwa dia akan menyimpan Rosario itu dengan sebaik-baiknya maka saya kemudian memberikan.

Saya memberikan Rosario kepadanya, karena memiliki keyakinan yang kuat dalam pengalaman perjumpaan dengan dia, Erma adalah seorang Muslimah yang imannya tidak diragukan lagi. Dia tak akan pernah menjadi seorang Katolik hanya karena sebuah Rosario, demikian keyakinan saya. Namun paling tidak dia menjadikan Rosario sebagai jalan untuk mengalami kehadiran Allah sekaligus menyatukan perbedaan yang juga menjadi tujuan kehadiran Kerajaan Allah.

Rosario itu saya kalungkan pada leher Erma. Setelah saya kalungan, ia hendak ke kamar kecil namun tiba-tiba ia kembali lagi. Saya kemudian bertanya kepadanya; “Er, kok cepat sekali.” Dia kemudian menjawab dan jawabannya ini menyadarkan saya sebagai seorang Katolik dan juga umat yang lain yang selama ini mendoakan doa Rosario namun tidak menyadari kekudusan Rosario yang sudah diberkat.

Jawaban Erma demikian;

“Pastor, Rosario ini kalau sudah diberkati berarti kudus, maka tidak layak kalau saya memakainya ke kamar Wc. Maka saya lepaskan dulu baru ke kamar wc. Setelah itu baru kukenakan lagi.”

Jawaban Erma ini menyadarkan saya dan tentunya kita umat Katolik bahwa kekudusan Allah yang kita jumpai dalam doa Rosario harus membawa kita untuk sampai pada semangat menguduskan diri sendiri dan sesama, serta mengatasi kesombongan pribadi yang melahirkan kerendahan hari untuk menyatukan perbedaan.

Dimanapun kita berada, siapapun yang kita jumpai dan apapun simbol kita, jika itu menjadi tanda kehadiran Kerajaan Allah maka Allah sendiri yang akan menguduskan dan menyatukan setiap perbedaan sebagaimana Magnificat Bunda Maria.

Manila: 03-Oktober 2021
Pater Tuan Kopong MSF
×
Berita Terbaru Update